Berita Terkini

Piyungan Yogyakarta Landfill Project

16 - 24 Juni 2009
dramatic-landfill-landscape-web.jpg

‘Piyungan Yogyakarta Landfill Project’ dan 
‘The Museum Of The Unworthy’ – Cassandra  Schultz
Seniman residensi Asialink di Studio Cemeti  Yogyakarta


Bulan Juli 2009 nanti adalah masa berakhirnya program residensi Studio Cemeti Yogyakarta, yang selama ini dikenal dengan  Residensi Landing Soon. Namun demikian Studio Residensi Cemeti tahun 2009 ini sudah mengantongi gagasan dan rencana program menarik sebagai organisasi penjamu tamu untuk dua orang seniman perupa dari Australia yang  masing-masing dikirim oleh Asialink, tiga bulan residensi di Yogyakarta. Mereka adalah Cassandra Lehman Schultz_Brisbane (Maret sampai dengan Juni)  dan Laura Wills_Adelaide (September sampai dengan Nopember) tahun 2009  ini.


Kembali menggaris bawahi strategi dan  pengalaman-pengalaman yang telah teruji pada 3 tahun berlangsungnya Landing Soon ala seniman-seniman perupa Belanda dan perupa lokal_Indonesia; peranan asisten seniman, manajer studio (Miranda Harlan) dan seluruh kerja interaksi  kolaboratif, kolektif dengan satu maupun lebih seniman lokal Yogyakarta; maka kami tetap menyadari dan menjadikannya sebagai primadona kunci pengembangan gagasan besar ‘Art and Society’ pada Rumah Seni Cemeti Yogyakarta.


Turunan pada pengembangan lebih jauh program residensi ini adalah, efisisensi dan efektifitas pada intensitas dialog yang selama ini terbina, dan bermanfaat sebagai bentuk pembelajaran dan saling menginspirasi antara para perupa terlibat dengan  para ahli, profesional, empu, pengamat, peneliti dan pemerhati masalah politik –sosial – dan kebudayaan di Yogyakarta.

 
Pemulung-pemulung sampah, instruktor pelatihan dan penampungan TKI, serta penunggu museum-museum bermisteri di Yogyakarta adalah pilihan politis yang tidak begitu saja bisa meninggalkan nurani para seniman atas para pelaku profesional, dalam aktifitas sosial budaya  sehari-hari masyarakat Yogyakarta kontemporer.

Genap empat minggu lebih Cassandra Schultz ditemani  Ina (Dessy Sahara Angelina) sebagai asisten, melakukan pengamatan intensif, survey lapangan, wawancara, mengumpulkan dan mengolah data visual, bahkan tidak jarang mengais-ais dan menyeleksi sampah-sampah TPA Piyungan Yogyakarta sebagai materi visual, guna menguji coba gagasan inovatif  kolaborasinya bersama dengan beberapa seniman multidisipliner; Hedi  Hariyanto (pematung), Andita Purnama (Instalasi),            Tony Maryana (Pemusik), Ferial Afif (Performance), Anang Saptoto (Instalasi),  Frans Anggorman, Lugas Syllabus (performance), Ned Branchi (Pemusik) dan Nindityo  Adipurnomo (Instalasi).

 
‘Piyungan-Yogyakarta Landfill Project’ dan ‘Museum of The Unworthy’ adalah dua gagasan besar karya-karya semi kolaborasi yang  tengah digarap secara masal dan banyak bermuara pada medium fotografi, video, instalasi interaktif, performance karena masih dipercayai sebagai  medium eksplorasi ungkapan-ungkapan sebagai respon terhadap pemikiran dan pertanyaan-pertanyaan investigasi seputar
 

  1. Cultural  pratices, excess and consumption.
  2. Contrasting  historical and cultural methods of discerning and defining waste in South  East Asia and Australia.
  3. Objects and  obsolescence : commodification, attachment and exchange – how value is  constituted, invested and lost.
  4. Contemporary  cultural methods of intervention into perception of waste
  5. The nature of  design and ‘things’.
  6. Redirecting  desire and recoding materials: appropriate cultural strategies for moving  towards new ways of conceptualizing matters and notions of  sustainability.  


Menjelang akhir bulan Juli 2009 nanti kedua proyek  senirupa ini akan dipresentasikan bersama-sama oleh Rumah Seni Cemeti  

 
 
Nindityo Adipurnomo/Cassandra  Schultz

Pengumuman Rumah Seni Cemeti

28 Mei - 18 Juli 2009

Pengumuman Rumah Seni  Cemeti
 
Mohon perhatian untuk  beberapa perubahan jadual program di Rumah Seni Cemeti dalam waktu dekat  :
 
1.   Pameran Tunggal oleh Terra Bajraghosa di Rumah  Seni
Cemeti berjudul ‘Power to The Pixel (And to The Artisan)’ akan  ditutup seperti rencana semula, menjadi hari Rabu  
tanggal 10 Juni 2009
 
2.   Artist Talk oleh Terra Bajraghosa menjelang penutupan pameran tunggalnya akan dilangsungkan hari Jumat 5 Juni 2009 di Rumah Seni Cemeti  Yogyakarta, pukul 19.30 malam
 
3.   Hari Selasa tanggal 16 Juni 2009 adalah Pembukaan  Pameran Presentasi ‘THE MUSEUM OF THE UNWORTHY (A Creative Engagement with  Piyungan Landfill – Jogyakarta)
Oleh Cassandra Lehman-Schultz, seniman  residensi dari Asialink Australia di Rumah Seni Cemeti Yogyakarta.  Kolaborasi dengan Andita Purnama, Tony Maryana, Hedi Hariyanto, Ned Branchi,  Anang Saptoto, M. Lugas Syllabus, Ferial Afiff dan Nindityo  Adipurnomo


Presentasi pameran akan berlangsung sampai dengan tanggal 24  Juni 2009
Lihat www.cemetiarthouse.com/indonesia/proyek

 
4.   27 Juni 2009,  Pembukaan Pameran Tunggal karya-karya Handiwirman, hari Sabtu malam pukul  19.30.  Pameran berjudul : ‘THINGS, THE ORDER OF HANDIWIRMAN’. Pameran  berlangsung sampai dengan tanggal 18 Juli 2009.
Kurator : Asmudjo  Jono Irianto.

Rencana Pembukaan Pameran Handiwirman semula adalah  tangga; 15 Juni 2009. Maka dengan ini koreksi telah kami lakukan.  

Terimakasih banyak atas  perhatiannya


Presentasi dan Artist Talk bersama "Kaoru Hirano" (Seniwati Pematung, 32 tahun dari Hirosima Jepang)

19 Mei 2009
undangan-Kaoru-Hirano-web.jpg

Kaoru Hirano

(Seniwati Pematung, 32 tahun, dari Hiroshima Jepang; menerima beasiswa keliling ke beberapa negara Asia Tenggara dari ACC New York)

Ingin berdialog, tukar pikiran dan berbagi pengalaman dengan terutama, perupa perupa muda perempuan di Indonesia dalam kesempatan diskusi dan Artist Talk

Presentasi dalam Bahasa Jepang dan dibantu terjemahan oleh Midori Hirota


Enam bulan terlibat dalam proyek penelitian budaya, memproduksi karya-karya baru dan mengikuti program residensi internasional di New York, Kaoru Hirano (32 tahun) menyelesaikan beasiswa akademiknya dan muncul sebagai seniman pematung. Lahir di Nagasaki dan menyelesaikan pendidikan tingginya di Universtas Hiroshima. Menerima gelar BFA untuk jurusan desain dan seni industri, serta menyelesaikan gelar Ph.D untuk pendidikan tinggi seni tahun 2003. Sejak saaat itu aktif mengikuti pameran-pameran di Galeri Shiseido Tokyo, Museum Seni Rupa Kontemporer di Hiroshima dan Museum Seni Rupa di Yokohama serta beberapa tempat penting lainnya.

Karya-karya Kaoru Hirano memberikan perhatian khusus pada reinkarnasi barang/ benda-benda terbuang. Dia memilih garmen dan asesorinya untuk diurai dan dibongkar kembali dengan sangat teliti. Menyusun dan menciptakan komposisi baru benang-benang terurai menjadi instalasi yang istimewa rumitnya melintasi dinding, lantai dan ruang-ruang yang muncul. Melalui upaya re-konstruksi, konstruksi dan preservasi; ia hendak menggali sejarah benda-benda tersebut sembari menggambarkan kehidupan barunya.

Kaoru Hirano yang baru saja menyelesaikan pengalaman perjalanan dan tinggal selama enam bulan di New York, lebih jaunh ingin memahami semangat komunitas seni dan budaya di Yogyakarta, mempelajari dan membaca kembali relevansi teknik tenun ikat serta pewarnaan batik, lebih jauh lagi adalah melakukan survey dan kajian ulang atas rekonstrusksi relevansi tradisi batik dalam era kehidupan masyarakat kontemporer Yogyakarta.

Pemutaran video Jorge León '10 Min.’

10 Mei 2009
jorge-web.jpg
Pemutaran video Jorge León
 '10 Min.’
(Dalam Bahasa Inggris dan Subtitle Bahasa Belanda)

10 Mei 2009, pukul 19.30 di Rumah Seni Cemeti.


Akan ada diskusi dengan sutradara setelah pemutaran.

Melalui pembacaan pernyataan seorang saksi,
'10 Min.' menarasikan bagaimana seorang gadis muda, di luar keinginannya, berakhir di medan prostitusi.

"Kami ingin membuat anda memperhatikan penilaian berdasarkan penyelidikan resmi, tentang bagaimana kami memandang kondisi kerja para pelaku seks komersial -yang kami selidiki lewat kerja ini- layak dan mesti diungkapkan. Penilaian-penilaian itu, secara khusus, menyakitkan.”

Jorge León belajar mengenai film di Brussel (Belgia) dan bekerja sebagai sinematografer, fotografer, dan pengarah fotografi. Dia menggali narasi sinema di ranah dokumenter. Juga terlibat dalam bidang artistik pertunjukan teater dan tari, sebagai seniman video dan dramaturgi.

BERLIAN AJAIB

5 Maret - 18 April 2009
wayang-web.jpg

Pertunjukan Wayang Kontemporer                                                                Kamis 5 Maret 2009, 19.30

Eko Nugroho berkolaborasi dengan Ki Catur Kuncoro (dalang), Toro (dalang), Dr Matthew Isaac Cohen (dalang)Ign. Sugiarto a.k.a Pak Clink (tata cahaya) Yenu Ariendra (tata musik) dan Andy Seno Aji (tata panggung)

Dan Ucapan Terimakasih kepada:                                                                       Rodney Glick (Australia) dan Yayasan Kelola (jakarta)

 

Pameran Berlangsung                                                                                        17 Maret – 18 April 2009
Selamat datang di pembukaan 17 Maret 2009, 19.30


Hidden Violence merupakan refleksi persoalan kekerasan yang selalu mewarnai kehidupan manusia. Terutama dalam hidup masyarakat perkotaan dimana realitas terbungkus dalam kemasan yang artifisial. Tema ini yang menjadi benang merah antara gagasan visual karya-karya Eko Nugroho(lahir di Yogyakarta, 1977) dengan naskah cerita pertunjukan Wayang. Naskah cerita berawal dari kisah perselingkuhan orang tua dalam sebuah keluarga yang kemudian memunculkan sebuah konflik kekerasan yang lebih luas antara dua keluarga. Karya-karya Eko Nugroho merupakan refleksi persoalan yang terjadi disekitarnya, menunjukkan bagaimana paradoks realitas yang dihadapinya setiap hari. Eko Nugroho melihat bahwa perilaku agresif pada masyarakat urban seringkali sangat dekat batasannya dengan bentuk kekerasan yang terselubung. Kekerasan yang tidak hanya bersifat fisik seperti yang kita bayangkan seringkali, tetapi juga psikolis yang dalam kondisi tertentu justru sulit terlacak atau terlihat sebagai bentuk kekerasan. Dalam visualisasi karyanya yang menggunakan warna-warna yang berkesan cerah, dengan figur-figur setengah manusia setangah robot, atau juga manusia berkepala mesin, bertangan gunting. . "Dalam hal visualisasi gagasan, Eko berkolaborasi dengan Ignatius Sugiarto, yang berpengalaman dalam tata cahaya terutama untuk seni pertunjukan. Bersama Sugiarto, Eko berupaya untuk melihat kembali makna cahaya dalam menciptakan bayangan, sesuatu yang esensial dalam pertunjukan wayang tradisional."

Karya-karya yang dipamerkan dalam pameran tunggalnya dalam bentuk instalasi interaktif merupakan fragmen dari naskah cerita dalam pertunjukan Wayang tersebut. Pertunjukan ini sendiri merupakan sebuah penyegaran bagi Eko baik untuk pertunjukan Wayang itu sendiri sebagai bagian dari kesenian tradisi, berikut juga untuk perjalanan keseniannya sendiri.


Mella Jaarsma & Albert Yonathan

‘ASEAN’ CONTEMPORARY ART EXCHANGE 2009 Yangon - Myanmar

22 - 24 Januari 2009
New-Zero-Art-space-web.jpg

Nindityo dan Mella Jaarsma akan mempresentasikan pengalamannya selama di Yangon pada tanggal: 25 Februari 2009, Pukul: 19.30, di Rumah Seni Cemeti 
 

‘ASEAN’  CONTEMPORARY  ART  EXCHANGE 2009
Yangon - Myanmar


Untuk pertamakalinya pemerintah Myanmar melonggarkan peluang kerja sama dan pertukaran gagasan bagi pelukis-pelukis Yangon –  New Zero Art Space, embrio wadah para pelukis-pelukis dari berbagai kalangan umur dan profesi,  yang belum lama mulai menghimpun dan mendorong puluhan anggotanya menempa diri sebagai seniman profesional di luar jalur politik.

Aye Ko, Ko Jeu and  Ko Z menuturkan bahwa pada mulanya adalah mereka yang  melukis dan memamerkannya buat kalangan tertutup. Tidak cukup melukis, yang muda  melirik performance sebagai media eksplorasi dan ungkapan yang rupanya  dinilai santun oleh pemerintah. Satu dua merambah instalasi, bisa dihitung dengan jari produksinya.

‘Asean Contemporary Art Exchange’;  tajuk wadah kerjasama internasional pertama kali yang berhasil diinisiasi dari dalam. Mendatangkan para perupa  ragam media dari negara tetangganya seperti Kamboja, Vietnam, Brunei, Thailand Malaysia, Filipina, Singapore dan Indonesia. Tidak banyak alasan politik yang bisa diuangkap atas pertanyaan kenapa para seniman mancanegara yang  ‘kulanuwun’ pertama kali ini, mesti dicap merepresentasikan negaranya dalam konteks organisasi ekonomi dan politik negara-negara Asia Tenggara.

Pameran 45 lukisan dari 45 pelukis yang  akan berlangsung seminggu, dibuka tanggal 22 Januari kemarin di Aula Hotel Tamada. Sehari sebelumnya, tepat kala senja dua puluh empat jam sebelum pameran dibuka, para penggiat New Zero Art Space meletupkan kegembiraan besar atas perijinan langsung dari mentri yang turun dalam sms.  Malam itu juga mesti berlatih wawancara santun menghadapi  interogasi tim 15 pengurus sensor dari pemerintah buat keesokan harinya; tidak terlewatkan semua seniman mancanegara. Dua jam sebelum pembukaan panitia dianugerahi sertifikat perijinan dengan catatan 3 buah lukisan harus diturunkan semata-mata dinilai menggugah paranoia politik pemerintahan.

Seminar tertutup diselenggarakan tanggal 21 Januari dengan mengetengahkan presentasi pembicara Nur Hanim (dari Ipoh Malaysia), Mannet Villariba (Makati-Filipina), Nindityo Adipurnomo – Mella Jaarsma (Yogyakarta Indonesia), Dinh Guang Le (Hanoi-Vietnam), Kai LAM (Singapura), Leang Seckon (Kamboja), Zakaria bin Omar (Brunei) dan pembicara tuan rumah Ko Z dan Aye Ko (New Zero Art Space Yangon-Myanmar).


Nindityo Adipurnomo 2009

Pameran Tunggal Nindityo Adipurnomo "WWW dot JAVA" di Rumah Seni Yaitu Semarang

20 Desember 2008 - 14 Februari 2009
Paternalistic-Story-web.jpg

Nindityo Adipurnomo, ibaratnya, pulang ke rumah sendiri dengan cara menggelar pameran tunggalnya di Rumah Seni Yaitu ini. Seniman ini lahir dan menyelesaikan sekolah menengahnya di Semarang. Nindityo-bersama istrinya yang juga seorang perupa, Mella Jaarsma-dikenal luas sebagai pendiri Cemeti Art House, Yogyakarta, 20 tahun silam.

Perhatiannya terfokus pada visualitas dan latar kultural "konde"-gelungan rambut dengan beragam gaya dalam tradisi kecantikan para perempuan, terutama, di Jawa dan Bali. Amatannya berujung pada keyakinan (sementara) bahwa: ada banyak muatan-politik, budaya, religiositas, ekonomi, sampai dengan isu gender (feminisme dan patriarkhisme)-yang diterakan pada gelungan rambut itu.

Apa yang digeluti oleh seniman ini kiranya adalah tekstualitas yang ambigu, tak berhenti pada satu tujuan final. "Karya-karya lukis maupun instalasi Nindityo Adipurnomo mempermainkan kepastian teks. Sebagai sebuah permainan, sudah barang tentu, karya-karya tersebut tak berpretensi menunjukkan kebenaran tertentu, katakanlah kebenaran yang emansipatoris. Singkatnya, karya-karyanya adalah permainanÑdan dengan demikian penundaanÑterhadap kepastian berbagai makna yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari," ungkap Donny Danardono, pengajar di PMLP dan FH Unika Soegijapranata Semarang.

Dalam pameran tunggalnyaÑtajuk "WWW dot JAVA"-yang pertama di Semarang, Nindityo Adipurnomo (lahir di Semarang, 1961) akan menampilkan 3 (tiga) karya instalasi, 3 (tiga) object art, 3 (tiga) karya foto, dan 3 (tiga) lukisan. Semuanya mengarus utama pada pokok soal kultural dan religiositas dalam beragam visualitasnya.

Menyertai pameran ini akan diterbitkan post-event-catalogue yang berisikan esai-esai dari Donny Danardono dan Tubagus P. Svarajati. Direncanakan katalog akan diluncurkan dan didiskusikan pada penutupan pameran, Sabtu (14/2/2009).

Dalam masa pameran akan diadakan beberapa acara pendukung, seperti ceramah, diskusi, dan program edukasi publik yang melibatkan komunitas seni, kalangan pelajar-mahasiswa, dan masyarakat secara luas. Jadwal dan program dirancang khusus.

Pameran dan semua kegiatan di dalamnya terbuka untuk umum dan gratis.

Didukung oleh Cemeti Art House, Prima Filateli, Margono Group, PaperOne, Illue Design College, dan Calon Menantu.

***Siaran Pers ini diterbitkan oleh Rumah Seni Yaitu***

PRESENTASI PARA KURATOR KRITIKUS SENI

27 September 2008

PRESENTASI PARA KURATOR_KRITIKUS SENI
KOMENTAR DAN DISKUSI BERSAMA 27 September 2008
Di Rumah Seni Cemeti


Eileen Legaspi-Ramirez
Kritikus Seni,  editor dan kurator muda dari Filipina mempresentasikan

Trenchant Stances:  Negotiating Spaces and Modes of Engagement

Diawali lebih dulu dengan pemutaran video dari dua proyek seni inisiatif seniman-seniman Filipina : Festival Seni Publik Neo Anggono dan Pasyon ni X dari Ugat_lahi.


Presentasi selanjutnya akan mengulas komentar dan gagasan-gagasan publik dan keterkaitannya pada dua organisasi seni yang mengkaji dan mengembangkan ruang-ruang ‘’resmi’ dan pada saat sama juga ruang ‘kritis’, dimana praktek seni kontemporer Filipina bisa berbaur dengan model kehidupan sehari-hari baik di dalam maupun di luar kota Meropolitan Manila.

Galit Eilat
Galit Eilat adalah penulis, kurator dan director Pusat Seni Digital di Holon Israel. Mengajar di Universitas Tel Aviv jurusan Studi Film.


Liminal Spaces, presentasi seputar proyek kolaborasi oleh Galit Eilat   (http://liminalspaces.org/) Liminal Spaces adalah proyek seni internasional delapan bulan yang menyasar pada penyangkalan realitas pendudukan dalam konteks perang. Meliputi seluruh dinamika pemikiran di balik semua itu;  ruang-ruang urban, batas wilayah, mental dan pemisahan fisik, wilayah kebudayaan serta peluang-peluang kesenian dalam konteks kerjanya secara politis.


Bersama para pembicara aktif :Agung Kurniawan, Nuning Juliastuti, Ade Dermawan, Antariksa dan Dian Herdiany, Cosmin Costinas, Binna Choi, Kyongfa, Heman Chong, Wendelien van Oldenborgh, Tadasu Takamine, Sharon Hayes (artist, New York-to be confirmed), Reza Afisiana, Ronny Agustinus, Hafiz, Mella Jaarsma dan Nindityo Adipurnomo



JOMPET (Kuswidananto A.K.A) MENYIAPKAN KARYA BARU UNTUK YOKOHAMA TRIENNALE 2008

13 September - 30 November 2008
jompetweb.jpg
Jompet, seniman perupa kontemporer yang akhir tahun lalu mengikuti program residensi Studio Cemeti dalam ’Landing Soon #4’; minggu-minggu terakhir menjadi padat sekali jadualnya. Mendadak harus mondar mandir konsultasi dengan banyak artisan dan konsultan ahli lainnya di Yogyakarta. Terakhir karya Jompet bisa dilihat masyarakat luas terutama publik di Jakarta, di antara ratusan karya-karya seniman dalam pameran bersama  bertajuk ’MANIFESTO’ di Galeri Nasional Jakarta.
Jompet kini harus banyak mempelajari/meneliti/meniru rupa-rupa prajurit tradisi Kraton Jawa ( Patangpuluh, Bugis, Wirobrojo dll., misalnya dari Kraton Kasultanan Yogyakarta) menjadikannya semacam ikon atas ’kekuatan sinkretik’ yang sangat menonjol dalam Kebudayaan Jawa. Mendalami dan meneruskan inspirasi dan gagasan menarik yang pernah melahirkan  karya ”Java Amplified 2008”, karya intalasi suara dan video Jompet yang terakhir dipamerkan di Galeri Nasional bulan Mei lalu.
Apa itu sinkretisme Jawa? Apakah masyarakat di Jawa mengenalinya sebagai pemeo: ’guthak-gathik gathuk’? Sehingga melahirkan semacam nilai baru? Atau mungkin mereduksi nilai asalnya? Atau haruskah selalu melahirkan nilai baru bagi proses sinkretisasi itu sendiri? Jompet sedang gelisah betul dengan serie intalasi video suara mekanika orkestra serie ”Jawa”-nya buat nanti di Yokohama Triennale 2008. 13 September sampai dengan 30 Nopember 2008 di Yokohama Jepang.
Trienal Yokohama merupakan serie pameran seni rupa kontemporer yang memaparkan ragam media eksplorasi termasuk video, intalasi, fotografi, lukis patung dari sekitar 60 hingga tujuh puluh seniman yang terpilih di dunia. Dibuka pertama tahun 2001. Trienal ke-2 yang lalu Mella Jaarsma dan Hedi Hariyanto mewakili seniman-seniman kontemporer yang tumbuh dan berkarya di Yogyakarta Indonesia. Lihat di www.yokohamatriennale.jp

Side Event "Lung"

13 Agustus - 7 September 2008
lung1_web.jpg

Menafsir Sikap Kreatif Eko Prawoto

Pengalaman spiritual, juga hal-hal yang sungguh personal bahkan sebagian yang sosial, bisa diasosiasikan dengan leng. Kata yang semakna dengan lubuk dalam bahasa Indonesia itu adalah ruang natural yang pada dirinya sendiri menyimpan sejumlah paradoks. Ia eksis justru lantaran sesuatu yang absen. Mengada dari yang meniada. Ia mengandaikan keterbatasan sekaligus menyembunyikan ketakterhinggaan, atau ketakterdugaan.


Sesuatu yang mengada sebagai akibat dari hal lain yang meniada sesungguhnya adalah keniscayaan dalam hidup. Dari alam yang kian rusak kita dapat belajar banyak tentang hubungan sebab-akibat itu. Daun luruh demi bunga. Lalu bunga gugur demi buah. Begitu pula dalam budaya, aktivitas manusia, setiap pencapaian mensyaratkan kerelaan atas hilangnya sesuatu. Selalu. Sikap rela atas kehilangan itu bisa juga dimaknai sebagai syarat, tebusan, usaha, pengorbanan.


Medan kreativitas—yang kerap dimaknai sebagai “mengadakan” sesuatu yang “belum ada”—pun tak berjarak dari analogi leng. Seluruh pergulatan proses yang ditempuh sang kreator pada dasarnya adalah hal yang mengada serentak dengan berlangsungnya penerimaan atas kehilangan. Begitu pula karya yang dihasilkannya. Eksistensi yang kausalistis ini selaras dengan kearifan Jawa tentang hubungan integral antara sang pencipta dan si tercipta: ananingsun marga ira, ananira marga ingsung, adaku karena adamu, adamu karena adaku. Sang pencipta dan si tercipta tak terpisahkan dan saling mengadakan.


Dari ruang yang sempit tapi sekaligus tak terduga itu, leng, kita juga menemukan kesetaraan makna dengan kreativitas, yakni: menyadari keterbatasan dan mengolahnya menjadi kekuatan, menjadi sesuatu yang baru dan sering kali tak terduga.


Sebagaimana leng, ceruk yang menyuruk ke dalam, menyadari keterbatasan mensyaratkan sikap in world looking, kesanggupan untuk memandang ke jagat dalam diri. Sampai ke dasar lubuk nurani—ruang imajiner yang kedalamannya bahkan tak tertandingi oleh palung samudera. Tak terduga.


Kreativitas (tindakan) manusia, dengan demikian, menentukan kehadirannya, eksistensinya. Sementara itu, seluruh upaya untuk hadir, mengada, tak lain adalah proyeksi diri yang mengandaikan gerak membesar dan menjalar. Serupa lung, sulur tumbuhan.


Kita tahu, lung merupakan perpanjangan dari pangkal. Kehadirannya menegaskan keberadaan yang pokok dan mendasar. Ia wujud dari kemampuan mengelola plastisitas, bergerak mencari cahaya, namun siap dan ikhlas meliuk lentur jika sesuatu yang kaku dan keras menghadang dan  membentur. Plastisitas itu adalah kesanggupan beradaptasi. Lung menjulur, serupa tangan terulur. Bukan untuk meminta, melainkan memberi. Sebab lung adalah juga sinom, ulam, tanda berlangsungnya regenerasi, kelahiran entitas baru, yang segar dan muda, seperti harapan.


Gerakan lung bukan pemberontakan. Tak mendobrak, tak menghancurkan. Ia adalah kesinambungan, meneruskan yang sudah ada dengan menambah sesuatu yang baru, merawat yang lama dan mungkin lekang dengan kesegaran yang elok dipandang, mengimbangi yang kaku dengan nuansa kelenturan.     


Seorang perenung Jawa, Ki Ageng Suryamentaram, pernah menggunakan lung sebagai perlambang sikap hidup yang adaptatif: genah wayah, empan papan—bagaimana kita membawa dan menempatkan diri secara tepat saat dan tepat tempat. Ajarannya tentang mulur-mungkret,  selain mengandung petuah tentang kemampuan ber-iritabilita, juga bisa ditafsir sebagai sikap skeptis yang selalu mempertanyakan kembali segala yang sudah ada dan yang akan diadakan, demi kematangan pemikiran dan tindakan.


Dalam proses kreatif, mulur-mungkret berarti kesanggupan mengerahkan dan menahan diri. Penciptaan hanya mungkin tercapai dengan mengerahkan kemampuan diri dan, di sisi lain, kreativitas juga mensyaratkan adanya kesadaran atas takaran. Konon, kreasi yang baik adalah yang wajar, yang sesuai takaran. Jika benar demikian, maka kesanggupan menahan diri cukup penting dalam proses kreatif, agar hasrat penciptaan tetap terarah, rendah hati, tak berlebihan.

▪ Sitok Srengenge

Instalasi Bambu Oleh:

Eko Prawoto
Syahrizal Koto
Hedi Hariyanto
Mella Jaarsma
Nindityo Adipurnomo
Iskandar

Tempat: "Senthong Seni Serengenge" Rt.01 Dukuh Bayutemumpang,
Kelurahan Bangunjiwo, Kasihan Bantul

 

 

exhibition indonesia, cemeti Jogja, Muyono Jogjakarta, gerakan seniman muda Yogyakarta, Popok Tri Wahyudi Jogjakarta, seni rupa asia Jogjakarta, pertukaran Jogja, katalog indonesia, cemeti Jogjakarta, art books indonesia, gallery Jogjakarta, patung Jogja, katalog Jogja, Ugo Untoro Jogja, cemeti Yogyakarta, pameran Yogyakarta, fine arts indonesia, video art Jogja, cemeti Jogja, art Jogjakarta, Bunga Jeruk indonesia, cemeti indonesia, Nindityo Adipurnomo, Christine Ay Tjoe Yogyakarta, art books Jogjakarta, FX Harsono Jogja, installations Jogja, video art Jogjakarta, Galeri Yogyakarta, indonesian art Yogyakarta, new art Jogja, patung Yogyakarta, Seni Rupa kentemporer Jogja, Ruang Seni indonesia, landing soon Yogyakarta, art works Yogyakarta, Krisna Murti Jogja, Terra Bajraghosa Jogja, art house indonesia, art discours Jogjakarta, Angki Purbandono Yogyakarta, art house Jogja, catalogues Yogyakarta, Asian art Jogja, gambar Jogjakarta, Jompet indonesia, Nindityo Adipurnomo, instalasi Jogja, Agus Suwage Yogyakarta, Christine Ay Tjoe indonesia, catalogues Jogja, art residency Yogyakarta, exhibition Jogja, Asian art indonesia, drawings Jogjakarta, Ruang Seni Jogja, seni rupa modern Jogja, Handiwirman indonesia, fine arts Jogja, gambar indonesia, Jompet Jogja, buku seni Jogja, contemporary art Yogyakarta, Jompet Yogyakarta, Ruang Seni Jogjakarta, rumah seni, Seni Rupa Jogja, proyek seni Jogjakarta, Popok Tri Wahyudi Yogyakarta, seni instalasi Yogyakarta, pertukaran Yogyakarta, seniman muda Jogjakarta, project indonesia, Asian artists Jogjakarta, Handiwirman Jogja, new art Yogyakarta, wacana seni rupa Jogja, pameran Jogja, buku seni Yogyakarta, buku seni indonesia, new art trends Jogja, FX Harsono Jogjakarta, art projects Jogja, Asian artists Jogja, paintings Yogyakarta, art space Jogjakarta, Wimo Ambala Bayang Yogyakarta, Seni Rupa Jogjakarta, Krisna Murti indonesia, Anusapati Yogyakarta, seniman muda Jogja, art projects Yogyakarta, seniman muda Yogyakarta, rumah seni, Eko Nugroho Jogja, Wimo Ambala Bayang Jogja, seniman asia Jogjakarta, FX Harsono, seniman muda indonesia, fotografi Jogjakarta, Jompet Jogjakarta, Terra Bajraghosa Yogyakarta, catalogues indonesia, buku seni Jogjakarta, instalasi Yogyakarta, Mella Jaarsma Jogjakarta, Christine Ay Tjoe Jogjakarta, Angki Purbandono Jogjakarta, art discours Jogja, emerging artists Jogjakarta, art projects Jogjakarta, Melati Suryodarmo Yogyakarta, art Yogyakarta, Asian artists indonesia, installations Jogjakarta, indonesia, cemeti indonesia, Krisna Murti Jogjakarta, installation art Jogjakarta, contemporary art Jogjakarta, fine art indonesia, cemeti Yogyakarta, art residency indonesia, Galeri Jogja, exhibition Yogyakarta, katalog Jogjakarta, catalogues Jogjakarta, Bunga Jeruk Yogyakarta, seni rupa modern Yogyakarta, Mella Jaarsma Yogyakarta, Agus Suwage Jogja, Angki Purbandono Jogja, lukisan Jogja, patung indonesia, art books Yogyakarta, indonesian art Jogjakarta, art space indonesia, fotografi Yogyakarta, seni rupa modern indonesia, art house Yogyakarta, installations indonesia, Terra Bajraghosa Jogjakarta, contemporary art indonesia, modern art Jogjakarta, cemeti Jogjakarta, Nindityo Adipurnomo, pertukaran indonesia, Asian art Yogyakarta, paintings Jogja, art Jogja, photography Jogja, S. Teddy D. Jogjakarta, Mella Jaarsma Jogja, Asian artists Yogyakarta, fine art Yogyakarta, art works indonesia, Asian art Jogjakarta, sculptures indonesia, Anusapati Jogjakarta, art exchange Jogja, Jogja, drawings indonesia, gerakan seniman muda Jogja, Melati Suryodarmo indonesia, video art Yogyakarta, installation art indonesia, art exchange Jogjakarta, new art trends indonesia, sculptures Jogjakarta, gambar Yogyakarta, emerging artists indonesia, new art Jogjakarta, art discourse indonesia, proyek Jogja, Seni Rupa kentemporer indonesia, fotografi indonesia, indonesian art indonesia, Galeri Jogjakarta, S. Teddy D. Yogyakarta, visual arts indonesia, proyek Jogjakarta, Eko Prawoto indonesia, indonesia, gallery Jogja, indonesia, proyek seni Yogyakarta, rumah seni, seniman asia Yogyakarta, Tita Rubi Yogyakarta, Muyono Yogyakarta, new art indonesia, art projects indonesia, seni kontemporer Jogja, Nindityo Adipurnomo, art residency Jogjakarta, Anusapati indonesia, instalasi indonesia, seni instalasi Jogja, landing soon Jogja, Jogjakarta, Eko Prawoto Jogjakarta, tren baru indonesia, project Jogjakarta, fine art Jogja, seni instalasi Jogjakarta, Jogjakarta, fotografi Jogja, gallery Yogyakarta, emerging artists Yogyakarta, lukisan Jogjakarta, proyek indonesia, Christine Ay Tjoe Jogja, art space Jogja, seni rupa asia Yogyakarta, installations Yogyakarta, modern art indonesia, seni rupa asia Jogja, indonesian art Jogja, Seni Rupa kentemporer Jogjakarta, pertukaran Jogjakarta, proyek seni indonesia, lukisan indonesia, Jogja, art books Jogja, installation art Jogja, Krisna Murti Yogyakarta, Angki Purbandono indonesia, seni kontemporer indonesia, fine arts Jogjakarta, lukisan Yogyakarta, photography Yogyakarta, sculptures Yogyakarta, video art indonesia, instalasi Jogjakarta, modern art Yogyakarta, tren baru Yogyakarta, pameran Jogjakarta, gambar Jogja, Seni Rupa kentemporer Yogyakarta, installation art Yogyakarta, S. Teddy D. indonesia, Mella Jaarsma indonesia, Bunga Jeruk Jogjakarta, Popok Tri Wahyudi indonesia, Handiwirman Yogyakarta, Tita Rubi Jogja, emerging artists Jogja, seniman asia Jogja, landing soon Jogjakarta, S. Teddy D. Jogja, gerakan seniman muda Jogjakarta, Handiwirman Jogjakarta, rumah seni, proyek seni Jogja, art indonesia, paintings indonesia, photography indonesia, drawings Jogja, seniman asia indonesia, fine art Jogjakarta, Tita Rubi Jogjakarta, art exchange Yogyakarta, new art trends Yogyakarta, FX Harsono Yogyakarta, fine arts Yogyakarta, patung Jogjakarta, Anusapati Jogja, seni rupa modern Jogjakarta, exhibition Jogjakarta, Wimo Ambala Bayang Jogjakarta, Eko Prawoto Yogyakarta, art space Yogyakarta, gallery indonesia, wacana seni rupa Yogyakarta, wacana seni rupa Jogjakarta, Eko Nugroho Jogjakarta, tren baru Jogjakarta, Tita Rubi indonesia, gerakan seniman muda, modern art Jogja, indonesia, katalog Yogyakarta, Galeri indonesia, Ruang Seni Yogyakarta, Seni Rupa Yogyakarta, visual arts Yogyakarta, seni kontemporer Jogjakarta, Melati Suryodarmo Jogjakarta, Muyono indonesia, Ugo Untoro indonesia, art works Jogjakarta, photography Jogjakarta, drawings Yogyakarta, Yogyakarta, Melati Suryodarmo Jogja, Ugo Untoro Yogyakarta, Muyono Jogja, proyek Yogyakarta, Agus Suwage Jogjakarta, paintings Jogjakarta, Terra Bajraghosa indonesia, art residency Jogja, Eko Nugroho Yogyakarta, visual arts Jogjakarta, tren baru Jogja, Eko Nugroho indonesia, Yogyakarta, art works Jogja, Bunga Jeruk Jogja, seni kontemporer Yogyakarta, Seni Rupa indonesia, landing soon indonesia, project Yogyakarta, seni rupa asia indonesia, Agus Suwage indonesia, pameran indonesia, art house Jogjakarta, Wimo Ambala Bayang indonesia, art discours Yogyakarta, visual arts Jogja, art exchange indonesia, new art trends Jogjakarta, wacana seni rupa indonesia, Eko Prawoto Jogja, project Jogja, Popok Tri Wahyudi Jogja, seni instalasi indonesia, Ugo Untoro Jogjakarta, sculptures Jogja, contemporary art Jogja