Pameran Tahun 2009

wasted

16 Desember 2009 - 16 Januari 2010

Proyek Epik Multimedia | Rumah Seni Cemeti - Tomoko Mukaiyama Foundation

Tomoko Mukaiyama

wasted_web.jpg

Konser Multimedia:

16 Desember 2009, 18.30

LIP [Lembaga Indonesia Perancis] Yogyakarta

Jl. Sagan No. 3

Bebas biaya masuk


Pembukaan Pameran:

16 Desember 2009, 20.30

Rumah Seni Cemeti

Jl. D.I. Panjaitan No.41 Yogyakarta

 

Artist Talk:

17 Desember 2009, 19.30

Rumah Seni Cemeti

Jl. D.I. Panjaitan No.41 Yogyakarta

 

wasted 

‘wasted adalah proyek seni internasional yang menantang kefanaan atas kualitas feminin untuk melahirkan; ide, kreasi dan tidak hanya untuk menghasilkan keturunan. Energi seperti apa yang dirasakan seseorang antara dirinya dengan karya seni, atau musik yang diperdengarkan? Atau antara dirinya dengan sang seniwati dan bahkan dengan orang di sebelahnya? Bagaimana menangkap energi ini dan lantas memindahbentukkannya ke dalam suatu kreasi atau pemikiran baru?  


Seniwati Jepang serba bisa, Tomoko Mukaiyama, selalu membangun hubungan dengan penonton dalam setiap pertunjukan pianonya. Ia menguji apa yang terjadi pada energi tersebut selama dan setelah waktu yang dilewatkan bersama penontonnya. 


Pameran ‘wasted’ selalu dibuka dengan konser multi media berdasarkan pada karya Bach, ‘Goldberg Variations’, dan ungkapan-ungkapan artistik yang diterima Tomoko dari para partisipan yang berasal dari berbagai belahan dunia. Mereka terlibat dalam proyek ‘wasted’ dan mengirimkan kembali energi yang telah tertransformasi dalam bentuk ungkapan-ungkapan artistik kepada sang perupa.  


Karya instalasi yang digelar di Rumah Seni Cemeti adalah semesta rok sutera putih yang tak terhitung banyaknya, yang dapat menjadi seperti kulit lapisan kedua bagi seseorang. Rute penuh petualangan menembus dinding-dinding sutera halus akan merengkuh dan meluapi Anda dengan kekuatan estetis yang luar biasa. 


Tomoko Mukaiyama meminta para pengunjung untuk berpartisipasi dan membuat ungkapan artistik yang akan diintegrasikan ke dalam konser multi media pada pementasan berikutnya. Pengunjung perempuan di Yogyakarta diundang untuk menerima sehelai rok sutera secara cuma-cuma dengan dua syarat yang ia ajukan: mengenakan baju tersebut selama ‘waktu bulanan’ dan kemudian mengirimkan kembali pengalaman emosional dan fisikal mereka dalam sebuah ungkapan artistik kepada Tomoko Mukaiyama. Ungkapan dari ribuan perempuan dari seluruh dunia dapat berupa suara, puisi, teks, foto, video atau yang lainnya. Pengunjung laki-laki juga ditantang untuk melakukan hal serupa. Semua bisa terlibat dengan menghadiri konser dan pameran yang diadakan.


Untuk keterangan lebih lanjut, datang dan kunjungilah konsernya di LIP pada hari Rabu,16 Desember 2009 pukul 18.30 dan dilanjutkan dengan pembukaan pamerannya pada hari dan tanggal yang sama di Rumah Seni Cemeti pukul 20.30. Pameran berlangsung sampai dengan tanggal 16 Januari 2010 dan dibuka untuk umum setiap hari Selasa sampai dengan Sabtu, pukul 09.00 – 17.00. Daftarkan diri Anda melalui website www.wasted.nl atau di tempat acara berlangsung.


Biografi Tomoko Mukaiyama

Tomoko Mukaiyama seringkali dilibatkan oleh berbagai orkestra dan ansambel prestisius, diantaranya adalah Ensemble Modern di Frankfurt, London Sinfonietta, Ensemble Intercontemporain dan Royal Concertgebouw Orchestra. Ia pernah bekerjasama dengan para sutradara film, perancang, arsitek, penari, maupun fotografer, seperti Ian Kerkhof, Marina Abramovic, MERZBOW, Kim Ito dan Jirí Kylián.    


Sepuluh tahun yang lalu Tomoko Mukaiyama mulai berkarya sebagai seorang seniwati visual. Ia menggunakan pengalamannya sebagai pemain piano khusus konser untuk menciptakan  instalasi pertamanya di sebuah gedung konser.  Ia memberikan makna baru pada gedung yang digunakan sebagai lokasi pameran dalam proyeknya ‘Amsterdam x Tokyo’ [2000], ‘for you’ [2002], dan mempelajari ketidakhadiran maupun kehadiran komponis, penonton dan pianis dalam instalasi ‘you and bach’ yang ia buat untuk Sydney Biennale pada tahun 2006. Di tahun 2007 ia menciptakan instalasi fesyen untuknya dan pianonya dalam ‘Show me your second face’. Instalasi musiknya, ‘Mo-Ichido’ (2008,) memasukkan pengalaman wewangian parfum dan bebauan organik. Pada awal tahun 2009 ia meluncurkan cd buku seninya yang baru yang dibuat bersama mendiang suaminya Philip Mechanicus, seorang fotografer. Proyeknya yang terkini, ‘wasted,’ melakukan tur selama satu setengah tahun ke lima lokasi di seluruh dunia.


 

Program Residensi Rumah Seni Cemeti - Asialink

MOTOR LAPAR

25 November - 1 Desember 2009

Studio Terbuka & Presentasi

Laura Wills

laura_main_web.jpg

Pembukaan:
Rabu, 25 November 2009, 19.00
*silakan membawa kotak karton bekas minuman untuk mengikuti workshop pembuatan Dompet Asoy

Diskusi:

Selasa, 1 Desember 2009, 19.30

 

Bekerja dengan lingkungan: Studi atas karya-karya Laura Wills

Laura Wills—perupa Australia yang sedang melakukan proyek residensi di Cemeti –berbicara tentang karya-karyanya kepada saya siang itu. Beberapa dari mereka menarik perhatian saya: proyek membangun perumahan terbuat dari kardus (“The Developments in Housing”, sebuah proyek kolaborasi dengan William Cheesman yang dimulai sejak 2006), proyek bernama “Asian Style Market” dimulai sejak ia beresidensi di India pada 2007 dimana ia membuat lapak yang seluruh isinya berasal dari donasi orang-orang, dan satu-satunya cara yang diperkenankan digunakan untuk mengkonsumsi barang-barang itu adalah dengan saling bertukar dengan apapun (sebuah lagu untuk sebuah pot tanaman dsb). Mereka tidak hanya muncul dalam bentuk barang-barang fisik, tapi juga dalam bentuk aktivitas yang berguna seperti workshop membuat dompet dari kardus bekas susu…Saya mencatat bahwa benda-benda temuan, perjalanan, manusia dan lingkungan, cinta alam, bekerja di tengah-tengah alam, peta, produk daur ulang, menciptakan mekanisme untuk mendorong orang-orang menggunakan barang bekas adalah karakter yang paling jelas terlihat dari karya-karyanya.

Banyak kali kota ini, dan negeri ini, menyaksikan persilangan pemikiran dan perjalanan manusia yang bergerak dengan kecepatan sangat tinggi (dalam kepala saya, para aktivis NGO, pekerja budaya dan seniman menempati bagian cukup besar dalam arus lalulintas ide itu: para seniman berpindah dari satu negara ke negara lain untuk melakukan residensi, pameran, atau riset; para aktivis organisasi masyarakat sipil membangun banyak wilayah dampingan di banyak negara). Jika kita percaya bahwa perjalanan tidak hanya menyangkut tubuh fisik yang berpindah, tapi juga perjalanan sekian banyak konsep, ide, gagasan, rasanya ini adalah waktu yang tepat, terutama bagi yang selalu berada di level konsumen, wacana yang ditawarkan, untuk memikirkan kehadiran mereka di tengah-tengah kita, dengan harapan bisa menunjukkan gradasi perbedaan yang subtil dalam keragaman ekspresi pemikiran yang ditunjukkan.

Bagaimana mereka menangkap apa yang ada di dalam lingkungan yang baru ditemui? Bagaimana mereka mengerjakan suatu gagasan? Dengan cara apa mereka melakukan perubahan atas gagasan yang mereka punya? Bagaimana sebuah gagasan menemui nasibnya di konteks yang baru? Tawaran-tawaran apa yang sedang mereka bawa bagi masyarakat—termasuk kemungkinan-kemungkinan baru apa bagi dunia yang rapuh ini? Apakah mereka sedang menawarkan strategi (juga taktik?) untuk bertahan dalam kehidupan yang fana dan kejam ini? Apakah tawaran yang mereka tawarkan adalah tujuan yang bisa dikerjakan dalam jangka pendek,  menengah, jangka panjang?

Kritis-spontan mungkin adalah karakter utama dari kerja-kerja Laura selama ini. Padanya tampak jelas ada usaha untuk memberikan tawaran cara pandang alternatif terhadap persoalan sehari-hari, khususnya yang menyangkut hubungan antara manusia dan lingkungannya. Suatu topik yang seperti dikatakan sendiri olehnya: besar.

Terutama dalam karya-karyanya yang didesain untuk menciptakan interaksi masyarakat, sebuah jalan lain sebagai fasilitator perubahan—dan bekerja dengan cara-cara yang sistematis (sebuah peran yang biasa diambil oleh organisasi non pemerintah, juga oleh beberapa seniman dan pekerja kebudayaan) terbuka untuk dipilih.

Tetapi kekhawatiran yang muncul adalah untuk jatuh dalam praktek seni yang didaktik dan tidak memberikan ruang bernapas bagi masyarakat untuk memutuskan mana sikap paling tepat untuk memahami lingkungan telah mendorongnya untuk bermain dengan gagasan perubahan dalam tingkatannya yang lebih abstrak, dan bekerja dengan metafora.

Dalam proyek “Asian Style Market” misalnya, ia mereproduksi logika pasar komersial untuk menawarkan nilai-nilai non-komersial: jangan mudah membuang ataupun membeli barang, sebaiknya memanfaatkan kembali barang-barang yang sudah tidak terpakai dan mengoptimalkan apapun yang kita miliki (ajakan ini juga jelas termanifestasikan dalam proyek membuat dompet yang dilakukannya di Festival Mata Air di Salatiga bulan Oktober lalu). Ia adalah sebuah metafora untuk refleksi atas transaksi kebutuhan manusia di jaman modern. Sebuah nyanyian dan tawaran untuk mengajarkan ketrampilan mungkin merupakan alat tukar non-uang yang bisa diperhitungkan di masa depan untuk mendapatkan sebuah barang. Bagi sebuah lembaga sosial masyarakat, metafora mungkin akan mengaburkan pernyataan politik yang dirancang sebagai agenda kerja. Tantangan utama dalam kerja pemberdayaan masyarakat yang dilakukan adalah untuk terus menerus mencari terjemahan sederhana bagi gagasan-gagasan tersebut. Meskipun demikian, dalam keduanya tetap bisa kita saksikan perlintasan gagasan yang sama, meski tidak secara langsung berhubungan kerja. Dalam keduanya bisa jadi ada kesamaan metode dalam merespon persoalan masyarakat. Juga dalam keduanya ada usaha untuk saling mengambil cara dan teknik untuk mengkomunikasikan gagasan kepada masyarakat.

Menelusuri lebih jauh landasan pemikiran tersebut akan dijumpai suatu kepercayaan tinggi terhadap individu. Yang ditawarkan adalah sekumpulan impuls dan inspirasi akan perubahan. Soal bagaimana mereka itu dipahami oleh publik lokal tidak diatur oleh produsen proyek semacam ini. Juga tidak ada modul yang rapi dan ketat mengatur dengan cara apa impuls dan inspirasi itu dikonsumsi, dan kemudian ditransformasikan menjadi sesuatu yang lain dalam proses komunikasi gagasan antara seniman dan publiknya. Nada otoritatif dengan demikian dihindarkan. Bahasa dominan yang dipakai adalah yang subtil, semacam provokasi yang halus, dan berharap masyarakat bisa menangkap semangat perubahan yang ditawarkan.

Karena itu kerja-kerja Laura selalu melakukan perjalanan ke berbagai tempat, di berbagai waktu. Pendeknya mereka bersifat sporadis. Ia tidak mematok bagian mana dari masyarakat yang dibayangkannya sebagai sasaran utama proses transfer pengetahuan yang sedang dilakukannya ini. Setiap individu diyakini punya dorongan natural untuk menciptakan suatu aksi perubahan.

Dengan melekatkan dirinya pada metafora—dan membuat yang abstrak menjadi karakter yang muncul di tiap aspek kerja-kerja—ia melabuhkan dirinya pada level imajinasi. Dan ini artinya adalah gagasan perubahan yang didiseminasikan sepenuhnya bergerak dalam alam pikiran para partisipan proyek seni yang dilibatkan. Penambahan elemen-elemen baru di lukisan pemandangan yang dijumpai di tubuh bus kota, juga papan-papan iklan yang ditemui di jalan-jalan (penambahan burung, bunga dan elemen natural di tubuh bus kota, dan tiba-tiba beberapa baliho memiliki kaki-kaki yang sebelumnya tidak ada] juga merupakan bagian dari kerja imajinasi, sebuah usaha untuk membuat fasad kota yang dijelajahinya menjadi lebih cantik, meski hanya sebatas di atas kertas.

Dan dalam kerja-kerja konseptual yang dijalankan membawa penyegaran pada harapan yang utopis, juga berperan sebagai pengingat akan teknik konservasi terhadap lingkungan sekitar.

[Nuraini Juliastuti, penulis, penggiat Kunci Cultural Studies, Yogyakarta]

Dipublikasikan Pada Konferensi Pers, 25 Juli 2009

Rumah Seni Cemeti NON AKTIF selama 3 sampai 4 bulan

1 Agustus - 15 November 2009
non-aktif-web.jpg

Berakhirnya rangkaian Program Residensi Landing Soon – Rumah Seni Cemeti  NON AKTIF selama 3 [tiga] sampai 4 [empat] bulan.


Berakhirnya seluruh rangkaian Program Residensi Landing Soon #11 akhir Juli ini, menandai berakhirnya seluruh penyelenggaraan proyek Residensi Tiga Tahun ‘Landing Soon’; yang selama ini dipercayai sebagai salah satu andalan utama; ‘garda depan’ kegiatan Praktek Kesenian dan Kemasyarakatan Rumah Seni Cemeti Yogyakarta.
Pameran presentasi hasil kerja pemikiran dan pengolahan gagasan-gagasan segar oleh dua seniman peserta residensi Landing Soon #11, Wiyoga Muhardanto [Bandung] dan Rosalie Monod de Froideville [Rotterdam] selama ber-residensi-ria digelar di Rumah Seni Cemeti mulai tanggal 24 Juli  sampai dengan 31 Juli 2009, pukul 09.00 – 17.00 WIB.

Seperti biasa, bagian penting pada berlangsungnya pameran presentasi ini, adalah kegiatan penutup yang menjadi tradisi pada desain  residensi di Studio Cemeti ialah;  diselenggarakannya  gelar pemikiran seniman, atau lebih keren disebut dengan ‘Artist Talk’.  Forum ini adalah inisiatif yang dipercayai efektif guna me-mediasi apresiasi masyarakat luas terhadap aspirasi seniman kontemporer melalui karya-karyanya dari kedua belah pihak.  ‘Artist Talk’ Landing Soon #11 dilaksanakan pada hari Rabu, 29 Juli 2009, pukul 19.30 WIB di Rumah Seni Cemeti.

Selanjutnya, Rumah Seni Cemeti memulai periode NON AKTIF selama kurang lebih 3 sampai 4 bulan. Praktis seluruh kegiatan pameran-pameran senirupa beserta turunannya; aktifitas promosional maupun presentasi, diskusi, workshop dsb, akan berhenti/tertutup bagi akses masyarakat  umum.

Hanya Stockroom Rumah Seni Cemeti yang tetap bisa diakses oleh pengunjung yang  berminat, pada hari Selasa sampai dengan Jumat, pukul 10.00 – 17.00 WIB.

Website Rumah Seni Cemeti pada www.cemetiarthouse.com tetap aktif dengan seluruh informasi aktifitas terdahulu, dengan sedikit gangguan pada ‘stockroom’, yang tidak selalu akan sesuai dengan kondisi di galeri sesungguhnya. Menjelang dimulainya kembali aktifitas kami, informasi baru akan segera di-upload.

Kebijakan Pergantian Fokus Kegiatan Rumah Seni Cemeti

Setelah mempelajari dan menimbang  alternatif peluang guna memperkuat dan mempertajam visi (mendorong seni rupa  pada highlight  pencerdasan kreatif masyarakat) dan misi (menjadi  galeri pelopor  terkemuka dalam mengembangkan alternatif pola pengelolaan Kesenian dan Masyarakat) Rumah Seni Cemeti, maka
dengan ini diberitahukan/diumumkan kepada khalayak luas, terutama kepada masyarakat pemangku kepentingan seni rupa bahwa: Rumah Seni Cemeti melakukan perombakan dan pergantian fokus sasaran kegiatan dan akan kembali hadir pada sekitar bulan November tahun 2009

Beberapa garis besar perombakan dan pergantian  tersebut adalah :

1. Rumah Seni Cemeti berstatus badan hukum resmi berdasarkan ketetapan Akta Pendirian Rumah Seni Cemeti, yaitu;
Sebagai Lembaga Otonom berbentuk Perkumpulan atau  Asosiasi Rumah Seni Cemeti Yogyakarta.

2. Rumah Seni Cemeti tidak lagi menyelenggarakan pameran-pameran promosional seni rupa berkala di galeri Rumah Seni Cemeti (satu kali setiap bulan seperti yang berlangsung selama ini).
Selanjutnya Rumah Seni Cemeti,  sedikitnya 2 (dua) dan paling banyak 6 (enam) kali dalam setahun, akan menggelar  pameran presentasi proyek praktek kesenian dan kemasyarakatan  yang dirancang dan diselenggarakan oleh dan bersama dengan Rumah Seni Cemeti.

3. Rumah Seni Cemeti akan mengurangi pengorganisasian pameran-pameran promosional seni rupa  tunggal/bersama di luar galeri Cemeti.
Sebaliknya Rumah Seni Cemeti lebih banyak mengajak membuka kesempatan kepada masyarakat luas baik umum/terpilih/diundang/individu/lembaga/komunitas/instansi pemerintah/swasta untuk bersama para seniman lintas disipliner, menginisiasi penyelenggaraan Praktek Kesenian (Art Practice), dengan menekankan perhatian pada  proses dan pengalaman sosial, kreatif /inovatif  kesenian.

4. Rumah Seni Cemeti menerima proposal penyelenggaraan Praktek Kesenian dan Kemasyarakatan dari berbagai bidang lintas disiplin dan profesi. Menerima lamaran dan tawaran penyelenggaraan praktek kesenian dan kemasyarakatan dalam bentuk residensi interdisipliner seniman, residensi kurator, proyek inovatif, kreatif , interaktif dan sosial edukatif.

Untuk menunjang  sasaran kegiatan terseleksi ini, maka Rumah Seni Cemeti telah menambah infrastruktur fisik (dua kamar tinggal yang nyaman)  di lantai dua bagi peserta residensi, seniman kurator, maupun peneliti.
Rumah Seni Cemeti juga menambah/merombak fungsi galeri pameran sebagai ruang workshop terbuka, studio kerja residensi,  ‘open studio’, ruang pameran presentasi  serta seluruh fungsi turunannya. Kedua fasilitas baru yang harus dibarengi dengan perombakan infrastruktur sumber daya manusianya,  praktis akan mulai dijalankan sekitar bulan November 2009.

Berita Pers ini adalah sekaligus sebagai pengumuman terbuka. Pada Bulan November 2009 nanti Rumah Seni Cemeti kembali akan merilis detail-detail  sasaran dan tujuan kegiatan kami.  Terimakasih.

Mella Jaarsma & Nindityo Adipurnomo
Rumah Seni Cemeti, 24 Juli 2009

 

LANDING SOON #11

24 - 31 Juli 2009

Rosalie Monod de Froideville & Wiyoga Muhardanto

poster_ls11_crop_500.jpg
Pembukaan Pameran
Jumat, 24 Juli 2009, 19.30
Rumah Seni Cemeti
D.I. Panjaitan 41, Yogyakarta 

Studio Terbuka 
Jumat, 24 Juli 2009, 19.30
Sabtu, 25 Juli 2009, 10.00 - 17.00
Studio Residensi Cemeti
Tirtodipuran 24, Yogyakarta

Seniman Bicara & Diskusi
Rabu, 29 Juli 2009, 19.30
Rumah Seni Cemeti
D.I. Panjaitan 41, Yogyakarta

Putar Film & Pesta Piyama
‘1000 kisah dan 1 malam’
Kamis, 30 Juli 2009
17.00 | 19.00 | 21.00
Kamar Tidur Rosalie | Studio Residensi Cemeti
Tirtodipuran 24, Yogyakarta
program ini adalah kontribusi Kinoki dalam residensi mini Rosalie Monod
*bonus seru dari [Produk Kinoki] bagi yang datang dengan piyama dan perlengkapan tidur

Pameran Tunggal Handiwirman Saputra

27 Juni - 18 Juli 2009

Objects, Installation and Paintings

Handiwirman Saputra

Utama2-web.jpg

Deklarasi Estetik Ala Handiwirman

(Pameran Seni Rupa karya Handiwirman
27 Juni sampai dengan 15 Juli 2009)

Kurator : Asmudjo Jono Irianto



Mengusung kembali pergulatan artistik karya-karya Handiwirman ke Rumah Seni Cemeti,  harus kita mulai dengan meneropong jauh ke belakang, kembali ke pameran tunggalnya bertajuk ‘Broken Heart’ -  Desember 2002 lalu. Pagelaran tunggal dengan individualitas yang kuat, menebarkan aura inovatif yang segar, dan menjanjikan kepeloporan statement baru bagi seni  rupa ‘object’.

‘Broken Heart’ Handiwirman kala itu merupakan deklarasi estetik, yang telah dengan jitu membongkar ulang pemahaman tradisi kriya, sekaligus menjadi tonggak kepeloporan statement  seni rupa ‘object’ dalam wacana seni rupa Indonesia kontemporer.

Satu hal kongkrit yang selalu menonjol pada puluhan ‘object’ Handi kala itu,
adalah estetis.

Rekonstruksi tradisi kriya ala Handi tidak dilakukan dengan mengisi, menghias atau apalagi dengan mengolah dan menerapkan patron. Handi bermain dengan benda sebagai bahan, dan bahan sebagai semacam benda. Handi jelas tidak mendesain / merancang namun menggugat persepsi sosial benda dan bahan. Handi memprovokasi logika materialistik dan fetis. Merusak sekaligus menggandakan utilitas.

Dengan jujur benda-benda itu dikembalikan pada kodrat dasar bahannya, mendekatkan mereka pada proporsi dan intimitas keseimbangan gestur tubuh manusia, membongkar dan mengkonstruksi ulang logika-logika penyejajaran, pemaduan dan pembalikan serta perlawanan.

Dalam perkembangan yang radikal Handi acapkali menutup bahkan menyudahi pergulatan artistik  bahan dan kebendaannya dengan mencampakkan ‘permainan’ ini jauh ke belakang,  ke dalam jenjang revitalisasi tradisi modernisme : dengan melukis ‘still life’ seluruh permainannya.

Kini,  mencermati sekilas,  mempergunakan perspektif  kesuburan eksplorasi dan ‘perayaan’ senirupa ‘object’, yang lagi getol diikuti bersama oleh puluhan perupa segenerasi, maka kepeloporan Handiwirman dalam  deklarasi estetik ‘object’ di sini kabur!  ‘Pengikut-pengikut Handi’, ramai-ramai menebarkan aksi produksi/reproduksi masal; dengan menjiplak ulang persepsi sosial kebendaan yang  telah ada, ’set back’ kembali menuju semangat mengisi dan menghias belaka!
Industri Massal dengan ‘sovenirisasi’ benda-benda keseharian melalui pengerdilan ukuran-ukuran yang digantung bersama kunci motor, mobil dan handphone bermerk.

Di dalam politik senirupa sebaliknya, yang pernah tampil dengan gagasan menggelembungkan  ukuran-ukuran benda tiruan sehari-hari  tersebut secara ekstrim,  telah dilakukan oleh Claes Olddenburg tahun 1970, perupa Amerika kelahiran Swedia yang terkenal dengan  karya ‘public installation’nya.

Karya-karya Handiwirman yang baru, di tengah-tengah seakan-akan arus ‘set back’ gelombang produksi  ini digelar di Rumah Seni Cemeti  bulan Juni 2009. Rumah Seni Cemeti mengetengahkan Asmudjo Jono Irianto, sebagai analis yang suka-suka mendampingi dan menjadi partner ‘ngobrol’ uji coba pemikiran karya-karya Handiwirman.

Handiwirman, lahir di Bukittinggi Sumatra tahun 1975. Masuk ke pendidikan Seni Rupa Jurusan Seni Kriya ISI Yogyakarta dan aktif menjadi seniman perupa sejak itu.

Nindityo Adipurnomo  2009
 

 
 

POWER TO THE PIXEL (AND TO THE ARTISAN)

5 Mei - 10 Juni 2009

Pameran Tunggal

Terra Bajraghosa

liberti-leading-web.jpg

TERRA BAJRAGHOSA

Menyorot sepintas kilas pada pengamatan atas kerja kreatif proses penciptaan karya-karya Terra Bajraghosa. Kesan yang  menonjol adalah dominasi  ‘utopia teknologi’ baru; komputer beserta seluruh turunan teknologi  komunikasi lainnya. Kehadiran  generasi abad keduapuluh, tidak bisa dengan serta merta dihindarkan dari keniscayaan perubahan radikal yang ditawarkan oleh seluruh aspek  bentuk media  komunikasi ini.

‘Kemewahan’ abad baru yang menyederhanakan pola konsumsi dan industri ini misalnya, telah membesarkan kapitalisme pada dominasi budaya masal melalui televise dan film. Piksel menjadi rumusan basis budaya masal masa kini!

Begitu pula kalau membicarakan seni rupa, kembali melongok perspektif pemikiran senirupa melalui karya-karya Terra Bajraghosa seakan-akan harus  kita susun ulang dari keping-keping piksel. Puing-puing lembut yang menjadi raksasa megalomania abad ini.

Seni rupa dengan romantisnya  ambigu perangkat media  seperti : seni lukis, seni patung, drawing sampai kepada instalasi sekalipun  sudah barang tentu tidak lagi banyak  yang bisa kita kemukakan. Selebihnya mereka telah menjelma menjadi wadag penampilan semata. Wadag seni lukis, wadag seni patung namun spirit besarnya adalah seni piksel.

Benarkah perubahan jaman yang dihembuskan oleh industri dan teknologi memang se-radikal dan seniscaya  itu? Karya-karya Terra dari  produksi periode 2008 dan 2009 yang digelar di Rumah Seni Cemeti bulan Mei-Juni 2009;  dengan amat jeli, jenaka dan cerdas, mengalir namun mengusik pemikiran arus perubahan itu.

Sekilas, pengamat yang jitu dan pemerhati yang jeli masih bisa bermanja ria dengan karya-karya  patung, lukisan, animasi  dan instalasi interaktif ala Terra Bajraghosa. Satu serie ‘lukisan’ yang mengangkat wacana karya master  seni lukis  modern Raden Saleh Sjarief Bustaman : ‘Penangkapan Diponegoro’dan ‘Berburu Rusa’; dan Delacroix : 'Liberty Lead The People"; presentasi seri lukisan ini membongkar dan menyederhanakan bentuk warna dan pencahayaan kedalam jutaan keping-keping piksel. Dengan memborong tangan artisan yang  trampil melukis dan  merangkainya kembali menjadi ‘lukisan ‘ mainan anak-anak lego.

Terra juga menggelar instalasi interaktif, dimana pengunjung dan penonton terbuka untuk me-reidentifikasikan potret diri masing-masing dalam penyederhanaan seni piksel.

Terra Bajraghosa lahir di Yogyakarta, aktif bekerja sebagai seniman perupa dan menjadi staf pengajar semenjak selesai penddidikan seni rupa pada Desain Komunikasi Visual ISI Yogyakarta tahun 2005

Nindityo Adipurnomo

LANDING SOON #10

23 - 30 April 2009

Octora & Cilia Erens

undangan-web.jpg

‘Soundspace Jogya’ dan ‘Nyepi Walk’ (CILIA ERENS)

Landing Soon #10 ini menghadirkan dua orang seniman Cilia Erens dan Oktora. Cilia adalah seniman bunyi (terjemahan bebas dari sound artist, untuk membedakannya dengan seni suara). Disiplin kesenian ini memang tidak populer atau bisa dibilang langka di Indonesia. Salah satu perupa kita di Indonesia pernah beberapa kali mendapatkan julukan sebagai sound artist pada beberapa forum internasional, semata-mata karena karya seni instalasinya memproduksi komposisi bunyi yang khas dan unik sebagai bagian dari statement gagasan karya tersebut. Di dalam ekplorasi kerja interdisipliner, memang memunculkan beberapa seniman, perupa (tentu bukan hanya para perupa saja) yang merambah bunyi dan suara sebagai bagian dari karyanya. Begitu pula di dalam teater, musik dan arsitektur membuka kerja interdispliner yang telah lama mereka geluti,  melibatkan bunyi dan suara dengan cara masing-masing. Kecenderungan yang muncul di dalam arsitekstur barangkali yang paling belum lama ini memulai.

Karya-karya sound artists atau seniman-seniman bunyi itu lantas disebut dengan sound art atau seni bunyi. Hal dan prinsip yang sama nampak secara lebih spesifik  pada karya-karya Cilia dari Landing Soon #10 ini. Untuk sekedar membedakannya dengan seni bunyi ala seniman bunyi yang berlatarkan musik, maka karya- karya Cilia jelas bukan yang mengeksploitasi bunyi maupun suara (yang berpretensi menjadi musik), karena alasan cara produksinya, mungkin pada rekayasa produksi dan pengolahannya. Seni bunyi karya Cilia murni merupakan hasil kerja saringan; seleksi konseptual dari rekaman atas realitas peradaban dan kehidupan manusia sehari-hari; dalam kaitan ini adalah tiga bulan residensi Cilia Erens di Yogyakarta.
Karya seni bunyi Cilia bukan pula merupakan  kerja  transfer sensasi visual inderawi mata ke otak, yang secara instink menciptakan persepsi-persepsi, menjadi frame-frame kesan atas hasil rekam inderawi pendengaran terhadap bunyi maupun suara; pendek kata, bukan merupakan hasil kerja kolaborasi inderawi pendengaran dan pengelihatan di dalam otak terhadap rangsang bunyi dan suara. Kecenderungan yang begitu biasanya dikerjakan oleh umumnya seniman-seniman perupa interdisipliner. Begitu pula, akan berlaku mekanisme serupa pada prinsip-prinsip kerja keruangan di dalam arsitektur, yang tentu memungkinkan munculnya bunyi dan suara arsitektural.

Namun Cilia menegaskan bahwa : ‘semacam konsep arsitektur’ kota Yogyakarta yang kuat didominasi oleh keragaman kampung-kampung terbuka ala Yogyakarta tropikana, menjadi inspirasi terpenting pada konsep kerja sound art Cilia di sini.
Sebelum akhirnya menggeluti seni bunyi, pada awalnya memang disiplin ilmu Cilia Erens sebagai ‘city palnner’. Tidak mengherankan bahwa prinsip dan konsep atap atau ‘payon’, menjadi sensasi terpenting arsitektur perkampungan Yogyakarta. Pada konteks berkembangnya urban yang bergerak, suara dan bunyi yang diproduksi oleh dinamika ‘peradaban khas ini’ menggoda pemikiran Cilia Erens . Suara dan bunyi-bunyi yang bermunculan; berdesau lemah namun menonjol panjang, menggelagar di depan genderang, berdesing dan mengalun laksana background, menitik dan berdenting pertanda waktu, kesemuanya menjadi kesatuan fenomena suara dan bunyi yang menggelayuti interval waktu; saksi perubahan setiap masa dan generasi, laksana karpet raksasa  membungkus pekat identitas kota ini. Karya Cilia selanjutnya mengajukan pertanyaan-pertanyaan menggelitik : siapa dan bagaimana cara mengemukakan posisi tawar pada negosiasiasi ‘jadual’ dan ‘frekuensi’, ‘waktu’ maupun ‘jenis  irama’ suara/bunyi peradaban urban di ‘kampung raksasa’ yang bergerak ini? Apakah benar posisi tawar semacam itu sudah saatnya menjadi isu  dan pemikiran kita yang/atau penghuninya?

AUDIBLESOUND adalah istilah temuan Cilia yang menjadi julukan menarik buat karya-karyanya pada Landing Soon #10 ini. Yogyakarta adalah temuannya, seleksi dan saringan konseptual rekamannya atas fenomena gema dari ratusan jenis adzan, dan deru desau ribuan kendaraan bermotor.


‘Project of Intimacy’ (OCTORA)

Tubuh merupakan wacana menonjol pada hampir rentang pemikiran dan gagasan yang mendasari penciptaan karya-karya Oktora. Menyoal interval rentetan kerja kreatifnya pada stadium-stadium proses kreasinya, stadium eksplorasi misalnya saja; tentunya kita tidak  begitu saja bisa mengabaikan faktor-faktor pengalaman pribadi. Ambilah contoh, sekalipun itu adalah stadium studi gambar manusia maupun studi torso secara akademik pada jurusan seni lukis dan seni patung, pengalaman individual; yang selalu dengan cara internal dan uniknya  mendorong, mencuat khas; baik yang berbentuk persepsi, interpretasi, refleksi maupun koreksi ‘fisioterapis’ atas tubuh. Khusus pada faktor internal yang acapkali ‘fisioterapis’ ini, secara sangat pribadi Oktora menemukan pembenaraanya dengan cara tiga bulan berkawan bersama sepeda di Yogyakarta. Merebut kembali fasilitas bersepeda di tengah hingar bingarnya kota, setelah lebih dari dua dekade mengendarai mobil di Bandung; Oktora mengungkapkan kecamuk perasaannya bagaikan anak kecil yang terus menerus meniti perubahan ‘fisioterapis’ tubuhnya. Betapa jiwa manusia menjadi rentan manakala  mobil kita tempatkan sebagai cangkang bergerak yang sering ‘over protective’ pada aktifitas mengendarai. Begitu halnya  3 bulan residensi, merenungi aktifitas bersepeda menerobos  kampung-kampung urban Yogyakarta; bayangan atas tubuh yang bebas, ‘telanjang’ leluasa mengenali potensi dan menghitung kembali kekuatannya, pada saat itu juga tubuh menjadi cangkang bagi perlindungan jiwanya.

Residensi ‘Landing Soon’ adalah masa produksi, adalah produksi renungan, produksi gagasan, dan tidak jarang para seniman memanfaatkan kerja analisis dan kerja-kerja eksperimentasinya guna menguji kembali seluruh proses kreatif keseniannya.

Oktora merombak gugatan wacana tubuh dengan memulai pertanyaan : Kenapa harus terus menerus berlindung dan bertahan? Bukankah capai, melelahkan dan sering menjadi konyol? Kenapa tidak sesekali kita lakukan ‘perayaan’ tubuh? Membebaskannya dari seluruh konstruksi sosial, masa bodoh dengan norma norma politik, sosial dan ekonomi negara ini.

Oktora lantas mengumpulkan puluhan ragam boneka-boneka aktif (boneka-boneka yang pernah menjadi jembatan personifikasi tubuh), dari para pemiliknya. Oktora membungkus dan membentuk mereka satu persatu dengan dengan amor yang amat fasjen dan modis. Mengumpulkan beberapa celana dalam wanita serta membubuhkan aksen perlindungan yang sekaligus fasjen.  Karya-karya Oktora melejit jauh dari wacana fetis kerajinan menuju kerajinan sebagai wacana dan ungkapan pengalaman serta provokasi norma!

Nindityo Adipurnomo 2009

HIDDEN VIOLENCE

17 Maret - 18 April 2009

Pameran Tunggal

Eko Nugroho

utama-pameran-web.jpg

Pameran Berlangsung                                                                                        17 Maret – 18 April 2009
Selamat datang di pembukaan 17 Maret 2009, 19.30


Pameran ini adalah sebuah interpretasi tentang Wayang Jawa dalam kaitannya dengan bebayang. Dalam tradisi pertunjukan wayang di Jawa, yang biasa dimainkan dalam waktu semalam suntuk, oleh seorang dalang dan iringan gamelan, objek nyata berupa wayang hanya dinikmati sendiri oleh sang dalang. Kita, sebagai penonton, dihadapkan hanya pada bayangannya saja. Sang dalang mengikat keterlibatan penonton melalui bangunan cerita dan keterampilannya yang tinggi dalam memainkan wayang di hadapan pendar cahaya. Nama wayang sendiri, mempunyai arti bayang, sehingga dalam tradisi Jawa, juga Bali, yang menjadi esensi utama dari pertunjukan adalah representasi bebayang tersebut.

Wayang-wayang ini adalah transformasi dari figure-figur komikal yang telah lama diciptakan Eko Nugroho sebagai basis estetika yang utama dalam karya-karyanya.  Sosok-sosok aneh seperti manusia berkepala batu, atau berhati berlian, bertangan capit, adalah imaji yang tak asing dalam karya lukis, drawing atau bentuk bordir yang ia ciptakan. Menggabungkan fantasi dan kehidupan sehari-hari adalah caranya untuk merepresentasikan sebuah pandang dunia tentang ambiguitas dan kontradiksi. Dalam wayang purwo, yang ceritanya bersumber pada epos Mahabarata dan Ramayana, kontradiksi adalah sesuatu yang terus menerus digarisbawahi. Bedanya, jika figur-figur pada wayang klasik ini sudah mempunyai karakter yang pasti, dengan ciri khas tertentu sebagai penanda, figur wayang eko didesain untuk bisa menjadi tokoh apa saja. Fleksibilitas ini merupakan salah satu yang didesain untuk membuat projek ini bisa dimainkan oleh siapa saja, dengan cerita apa saja.

Konsep visualisasi untuk pameran ini bersumber dari gagasan tentang pasar malam. Di satu sisi, bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, terutama yang hidup di pelosok kampung atau di kota-kota kecil, pasar malam adalah sebuah momen untuk bergembira bersama, merayakan kehidupan. Di sisi yang lain, pasar malam juga menghamparkan gambaran menarik tentang bagaimana masyarakat ini menyerap berbagai kultur dan praktik kesenian dari berbagai budaya dan menempatkannya dalam konteks identitas mereka sendiri. Yang modern dan kini, dipertemukan dengan artifak-artifak masa lalu. Yang terasa baru dan gemerlap, disandingkan dengan sesuatu yang kuno dan berbau ‘murahan’.

Selain berangkat dari ide tentang pasar malam, spirit tentang bayangan dan cahaya dalam pertunjukan wayang tradisi itu, pada akhirnya mengikat pula Eko Nugroho dan anggota tim kolaboratornya untuk berpijak pada gagasan ini dalam mewujudkan imaji visual, baik untuk kepentingan pertunjukan maupun untuk karya-karya dalam pameran. Seluruh kontradiksi yang berserak dari ide bebayang tersebut, yakni tentang benda dan bayangan, tentang terang dan gelap, tentang yang nyata dan yang tidak nyata, tentang sesuatu yang tersembunyi dan ditampakkan, adalah sesuatu yang dibatasi oleh selembar kain yang biasa digunakan sebagai layar.

Cahaya adalah elemen utama untuk menciptakan bebayang. Pada seni pertunjukan tradisi, sumber utama dari cahaya berasal alat penerangan yang disebut sebagai blencong. Dengan mengandalkan api, wilayah yang menjadi teritori sang dalang menjadi benderang, dan, sebaliknya, tempat penonton biasanya dibiarkan tak padang. Pada pertunjukan wayang hari-hari ini, dengan keinginan yang besar untuk melakukan inovasi dan menampilkan kemungkinan-kemungkinan visual yang baru, sumber cahaya kemudian bisa beragam. Untuk instalasi-instalasi dalam pameran ini, sumber cahaya terutama memanfaatkan energi listrik dengan berbagai kemungkinannya.

Saya melihat kemungkinan unik dengan melibatkan Ignatius Sugiarto, aka Pak Clink, seorang seniman cahaya, yang terutama telah berpengalaman di panggung pertunjukan, untuk bekerja sama dengan Eko mewujudkan imaji visual yang lebih jauh dari wayang-wayang ini. Selama ini, Clink telah mencoba membuka berbagai kemungkinan  atas sumber cahaya, dan karenanya, saya melihat kemampuan dan ketrampilannya dalam mengenali bayangan-bayangan dibentuk dari setiap sumber cahaya yang berbeda. Sebagaimana Eko, di atas panggung, Clink melukis pula imaji dari pendar lampu yang ia gunakan.

Hasil kolaborasi mereka terutama mewujud dalam karya-karya instalasi yang menampilkan lampu listrik penuh warna atau bentuk instalasi interaktif yang menunjukkan bentuk-bentuk komikal khas Eko Nugroho. Instalasi utama pada pameran ini, yakni permainan komidi putar dengan para tokoh wayang di atasnya, dengan segera menunjukkan suasana pasar malam yang biasa kita temui di pinggiran kota. Tokoh-tokoh ini menampilkan parade dari absurditas dan keganjilan-keganjilan peradaban, menyimpan senjata di masing-masing tangan, dengan hasrat kekerasan yang tersembunyi.

 

Alia Swastika

Pengumuman Libur Tahunan Rumah Seni Cemeti

1 - 19 Februari 2009
Rumah Seni Cemeti akan  libur tanggal 1 - 19 Februari 2009.
Jika ada keperluan  penting, silahkan hubungi kami melalui email.

Setelah  libur tahunan ini kami akan memulai program kami dengan pertunjukkan 
Wayang Kontemporer, proyek  kolaborasi dengan wayang yang di rancang khusus oleh Eko  Nugroho pada tanggal 5  Maret 2009, jam 19.30
Pertunjukkan ini akan diikuti  oleh pembukaan pameran tunggal Eko Nugroho
                
 Programs Cemeti Art House in 2009: 

5 March  2009                         Contemporary  Wayang Performance
5 March - 18 April  2009          Solo  Exhibition by  Eko Nugroho
23 - 30  April  2009                  'Landing  soon # 10' by Octora & Cilia  Erens  
5 May  - 10 June  2009            Solo  Exhibition by Terra Bajraghosa
15 June - 18  July  2009          Solo  Exhibition by Handiwirman
23 July - 30  July 2009             'Landing  soon #  11'  

-----------------------------------------------------------------
Rumah Seni Cemeti   /  Cemeti Art House
Jl. D. I. Panjaitan No. 41   Yogyakarta 55143 Indonesia 
Telp/Fax. +62 (0)274 371015  
 Hp. +62 812 273 3564
Website:  http://www.cemetiarthouse.com/
Email:   cemetiah@indosat.net.id  
Buka/Open: Tuesday -  Saturday, 09.00 - 17.00    

LANDING SOON #9

26 - 31 Januari 2009

Beatrix Hendriani Kaswara & Elizabeth de Vaal

utama-web.jpg

Beatrix Hendriani Kaswara biasanya bekerja dengan medium kanvas. Dia adalah seorang perupa yang memilih untuk bersikap tidak memihak. Bertolak belakang dengan apa yang ditampakkannya, perupa muda dari Bandung ini memiliki dorongan yang kuat untuk mengambil jarak terhadap hampir semua hal di luar dirinya. Ia 'mencurigai' segala yang tampak di permukaan dan, karena itu, selalu berusaha melihat apa yang ada di sebaliknya.


"Berangkat dari kecurigaan saya kepada segala sesuatu yang bersifat manis, baik makanan maupun visual yang terlihat 'manis', secara subjektif saya anggap segala hal ini adalah ilusi, bukan kenyataan." (Beatrix)


Kultur berkota dan hidup bermasyarakat yang khas membuat Beatrix terusik oleh pengalamannya di Yogyakarta. Ketika tiba, ia langsung disambut oleh 'gegap gempita' simbol kebudayaan yang dilihatnya di mana-mana. Ia seperti dipaksa untuk menikmati romantisnya kota ini. Beatrix juga menemukan beberapa karya seni rupa yang dianggapnya imajinatif dan 'seperti berada di alam mimpi'. Kegelisahan yang dialaminya selama periode residensi membuatnya mempertanyakan kembali perihal realitas dan hiperrealitas orang sekarang. Ketika televisi telah menjadi bagian dari hidup, yang mana sesungguhnya kenyataan? Dan ketika karya adalah representasi dari dunia nyata, realitas mana yang kemudian dipilih untuk diungkapkan oleh perupa?


Beatrix Hendriani Kaswara, Lahir di Bandung, 1984. Menyelesaikan studinya di Jurusan Seni Lukis, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung.

***
 
 

Waktu untuk Penyelidikan Residensi di Cemeti bersama Inspektur D.S. (Dead Sharp)

Inspektur D.S bertanya soal dinding buatan.
Dinding-dinding itu, rupanya, bukan simbol tentang Nabi Muhammad. Juga
tidak dibangun sebagai tanda terima kasih kepada Tuhan karena telah
kembali dengan selamat, setelah beribadah ke Mekkah. Dinding buatan
berwarna hitam di dalam rumah digunakan untuk menaruh TV di depannya.

Inspektur D.S bertanya soal ritual Jawa pada pernikahan, di mana
perempuan mencuci kaki laki-lakinya setelah menginjak telur mentah.
Tidak semua orang mengenal upacara ini, dan tidak semua pria menikah
mengalaminya. Kebanyakan laki-laki merasa menyesal soal ini.

Pada 15 November 2008, Inspektur D.S memulai aksi penyelidikannya yang
sangat personal: mencuci kaki 20 laki-laki dan perempuan, sementara
berusaha memahami tentang hidup mereka, dan cara mereka menghidupinya.
Ini bukan penyelidikan intelektual, tetapi sebuah penelusuran terhadap
upaya-upaya seseorang untuk 'mengada', yang membawa dan meninggalkan
jejak langkahnya, ketika berusaha menemukan jalan dalam kegelapan.
Saya ingin berterima kasih kepada orang-orang ini, untuk kebaikan dan
kerjasama mereka membantu Inspektur D.S lebih memahami kehidupan
sehari-hari di Indonesia.

Elizabeth de Vaal adalah seorang perupa, lahir di Rotterdam, Belanda,
1950. Dia tinggal dan bekerja di Belanda dan Hongaria.

art projects indonesia, pameran Jogjakarta, Seni Rupa kentemporer indonesia, catalogues indonesia, seni rupa asia Jogja, seni rupa modern indonesia, Handiwirman Jogjakarta, gallery Jogjakarta, Agus Suwage indonesia, Jogjakarta, Jompet indonesia, fotografi indonesia, Tita Rubi Jogja, buku seni Jogja, S. Teddy D. indonesia, art discours Yogyakarta, installation art indonesia, art exchange Jogjakarta, art works Jogjakarta, Nindityo Adipurnomo, pertukaran Jogja, landing soon Jogjakarta, installations Jogjakarta, fine arts Yogyakarta, art discours Jogjakarta, lukisan indonesia, photography Jogja, sculptures Jogja, Seni Rupa Yogyakarta, gambar Jogjakarta, modern art Jogjakarta, Bunga Jeruk Jogja, indonesian art indonesia, S. Teddy D. Jogjakarta, project Yogyakarta, Agus Suwage Yogyakarta, cemeti Jogjakarta, S. Teddy D. Jogja, Ruang Seni Jogjakarta, installation art Yogyakarta, Jompet Jogjakarta, rumah seni, fine art Jogja, visual arts Yogyakarta, pertukaran indonesia, Melati Suryodarmo Yogyakarta, Anusapati Jogja, lukisan Jogjakarta, Seni Rupa kentemporer Jogjakarta, S. Teddy D. Yogyakarta, tren baru Jogja, new art Yogyakarta, indonesian art Yogyakarta, art discourse indonesia, project Jogja, landing soon Jogja, art space Jogjakarta, seni kontemporer Jogjakarta, landing soon indonesia, Jompet Yogyakarta, art exchange Yogyakarta, Angki Purbandono Jogja, art space Jogja, Seni Rupa Jogjakarta, contemporary art Jogjakarta, gallery Yogyakarta, installations Yogyakarta, Muyono Jogja, new art indonesia, seni instalasi indonesia, Christine Ay Tjoe Jogjakarta, katalog Jogja, seniman muda Yogyakarta, art works Yogyakarta, gambar Yogyakarta, wacana seni rupa Jogja, visual arts Jogja, rumah seni, pameran indonesia, emerging artists indonesia, Jogjakarta, modern art Jogja, cemeti indonesia, gerakan seniman muda, Christine Ay Tjoe Yogyakarta, seniman asia Yogyakarta, Terra Bajraghosa indonesia, Bunga Jeruk Yogyakarta, Mella Jaarsma Jogjakarta, Mella Jaarsma indonesia, seni kontemporer Yogyakarta, wacana seni rupa Yogyakarta, pameran Jogja, Tita Rubi Jogjakarta, Ugo Untoro Jogjakarta, fine arts Jogja, Asian art Jogja, seni kontemporer indonesia, art residency Jogjakarta, Asian artists Jogjakarta, sculptures Jogjakarta, Jogja, catalogues Jogja, Melati Suryodarmo Jogja, patung indonesia, video art Jogja, gerakan seniman muda Jogjakarta, Wimo Ambala Bayang Jogjakarta, indonesia, new art Jogja, installation art Jogja, visual arts Jogjakarta, sculptures Yogyakarta, seni kontemporer Jogja, cemeti indonesia, lukisan Jogja, new art Jogjakarta, Seni Rupa Jogja, seni rupa modern Jogjakarta, Anusapati Yogyakarta, seni instalasi Jogjakarta, art residency indonesia, katalog indonesia, Handiwirman indonesia, Nindityo Adipurnomo, art exchange indonesia, art books Jogjakarta, paintings indonesia, seni instalasi Yogyakarta, emerging artists Jogjakarta, art space Yogyakarta, cemeti Yogyakarta, fotografi Yogyakarta, art works Jogja, landing soon Yogyakarta, Agus Suwage Jogja, pertukaran Jogjakarta, Anusapati indonesia, exhibition indonesia, Ugo Untoro Yogyakarta, art house Jogjakarta, proyek seni Yogyakarta, seniman muda indonesia, Asian art Yogyakarta, Agus Suwage Jogjakarta, contemporary art indonesia, rumah seni, Muyono Jogjakarta, Eko Prawoto Jogjakarta, FX Harsono Jogjakarta, Christine Ay Tjoe indonesia, gallery Jogja, Terra Bajraghosa Jogja, pertukaran Yogyakarta, katalog Yogyakarta, Muyono Yogyakarta, Eko Prawoto Yogyakarta, fine arts Jogjakarta, Wimo Ambala Bayang indonesia, emerging artists Yogyakarta, emerging artists Jogja, video art indonesia, Seni Rupa kentemporer Yogyakarta, installations Jogja, Melati Suryodarmo Jogjakarta, Terra Bajraghosa Yogyakarta, visual arts indonesia, cemeti Yogyakarta, project indonesia, Jompet Jogja, Krisna Murti Yogyakarta, Ugo Untoro Jogja, art Yogyakarta, new art trends indonesia, Bunga Jeruk indonesia, FX Harsono Yogyakarta, proyek indonesia, installations indonesia, Christine Ay Tjoe Jogja, art projects Yogyakarta, Galeri Jogjakarta, instalasi Yogyakarta, seniman muda Jogja, katalog Jogjakarta, catalogues Yogyakarta, seniman asia Jogja, sculptures indonesia, Ruang Seni Yogyakarta, Ruang Seni Jogja, seniman asia Jogjakarta, photography Jogjakarta, art residency Yogyakarta, indonesia, Popok Tri Wahyudi Jogjakarta, project Jogjakarta, new art trends Jogjakarta, Eko Prawoto Jogja, Handiwirman Jogja, art Jogjakarta, photography indonesia, patung Jogja, art projects Jogja, instalasi Jogjakarta, seniman asia indonesia, Krisna Murti Jogjakarta, art books Jogja, Popok Tri Wahyudi Jogja, buku seni indonesia, Eko Nugroho indonesia, new art trends Yogyakarta, Handiwirman Yogyakarta, art books indonesia, Wimo Ambala Bayang Yogyakarta, gambar indonesia, Eko Nugroho Jogjakarta, paintings Jogjakarta, art works indonesia, Asian artists indonesia, Eko Prawoto indonesia, Popok Tri Wahyudi indonesia, modern art indonesia, indonesia, gerakan seniman muda Yogyakarta, Asian art Jogjakarta, gallery indonesia, Asian art indonesia, fine art Yogyakarta, instalasi Jogja, fine arts indonesia, video art Yogyakarta, Yogyakarta, seni instalasi Jogja, Nindityo Adipurnomo, Tita Rubi Yogyakarta, catalogues Jogjakarta, art exchange Jogja, Seni Rupa indonesia, buku seni Jogjakarta, Tita Rubi indonesia, art books Yogyakarta, Anusapati Jogjakarta, drawings indonesia, FX Harsono, proyek Yogyakarta, tren baru Yogyakarta, seni rupa modern Jogja, gerakan seniman muda Jogja, tren baru Jogjakarta, proyek Jogjakarta, art house Jogja, buku seni Yogyakarta, FX Harsono Jogja, seni rupa modern Yogyakarta, Angki Purbandono Jogjakarta, drawings Jogjakarta, proyek seni Jogja, drawings Jogja, proyek seni Jogjakarta, contemporary art Jogja, modern art Yogyakarta, art Jogja, fotografi Jogjakarta, paintings Jogja, Eko Nugroho Jogja, exhibition Jogjakarta, cemeti Jogja, Yogyakarta, Muyono indonesia, contemporary art Yogyakarta, Mella Jaarsma Yogyakarta, instalasi indonesia, Ruang Seni indonesia, Angki Purbandono Yogyakarta, Jogja, drawings Yogyakarta, fine art indonesia, seni rupa asia indonesia, patung Yogyakarta, fotografi Jogja, art house indonesia, art projects Jogjakarta, Krisna Murti indonesia, exhibition Jogja, exhibition Yogyakarta, patung Jogjakarta, seni rupa asia Jogjakarta, art space indonesia, art discours Jogja, Wimo Ambala Bayang Jogja, Asian artists Yogyakarta, proyek seni indonesia, installation art Jogjakarta, cemeti Jogja, rumah seni, paintings Yogyakarta, gambar Jogja, Krisna Murti Jogja, Eko Nugroho Yogyakarta, Nindityo Adipurnomo, Seni Rupa kentemporer Jogja, Mella Jaarsma Jogja, proyek Jogja, Melati Suryodarmo indonesia, Asian artists Jogja, tren baru indonesia, new art trends Jogja, Terra Bajraghosa Jogjakarta, pameran Yogyakarta, fine art Jogjakarta, Galeri Yogyakarta, Galeri indonesia, Bunga Jeruk Jogjakarta, video art Jogjakarta, photography Yogyakarta, seniman muda Jogjakarta, art residency Jogja, indonesian art Jogja, art indonesia, Ugo Untoro indonesia, indonesia, wacana seni rupa Jogjakarta, art house Yogyakarta, cemeti Jogjakarta, Popok Tri Wahyudi Yogyakarta, indonesian art Jogjakarta, Galeri Jogja, lukisan Yogyakarta, wacana seni rupa indonesia, seni rupa asia Yogyakarta, Angki Purbandono indonesia