Pameran Tahun 2008

JAVA'S MACHINE: PHANTASMAGORIA

15 Desember 2008 - 18 Januari 2009

Instalasi Video dan Suara

Jompet Kuswidananto

1-web.jpg

Artists' talk: 17 Desember 2008

Jompet Kus Widananto (lahir di Yogyakarta, 1976) pada tahun lalu mengikuti Proyek Residensi Studio Cemeti 'Landing Soon #4'. Ia lantas meneruskan penga- matan dan 'penelitiannya' atas budaya Jawa dan khusunya mempelajari bentuk dan praktek prajurit keraton sebagai suatu potret bagaimana 'sinkretisme ala Jawa' telah berupaya menggabungkan berbagai bentuk keyakinan dan kebudayaan yang datang ke Jawa.

Sejak pertengahan abad 18, pada waktu Belanda sudah turut campur tangan mempengaruhi pembentukan kebudayaan dan urusan politik di dalam Kerajaan seperti Kraton Jawa, prajurit Kraton Jawa praktis sudah tidak lagi memiliki fungsi kemiliteran. Hingga sekarang ini keberlangsungannya dalam prosesi dan upacara kepercayaan menjadi semata symbol belaka.

Jompet beranggapan: “Sejarah kebudayaan suatu bangsa, sebuah komunitas, selalu merupakan sejarah pertemuan dari persimpangan, kontes penampilan, penjajaran dan tawar menawar antara nilai-nilai dan kepercayaan yang berbeda-beda. Dari pada melakukan oposisi terhadap kepercayaan, agama dan kebudayaan yang masuk; Orang Jawa diajarkan untuk lebih baik mengambil semua sebagai ramuan wajib guna membuat sintesa baru: merupakan dasar dari Sinkretisme Jawa. Sistim itu lantas berkembanng menjadi kebenaran tradisi rakyat pulau tersebut, mendasar utama sistim kemasyarakatan yang ada dan mesin dari 'sistim kebudayaan' itu sendiri. Sinkretisme kemudian menjadi sebuah strategi, sebuah sistim untuk upaya rekonsiliasi, manipulasi bahkan untuk menyembuhkan dengan mendamaikan kontradiksi antar kepercayaan; antara yang 'usang' dan 'baru'; yang 'sejati-asli' dan yang 'aneh-asing'; yang tradisional maupun yang modern; antara kita dan orang lain.

Nindityo Adipurnomo

 

Mesin Jawa: Fantasmagoria menjelajahi rapuhnya batas kenyataan dan ilusi; antara yang material dan yang immaterial; antara wujud trimatra yang diam dan gambar bergerak yang dinamis; antara yang mekanis dan yang magis; antara ‘Jawa’ dan ‘non-Jawa’. Pada dasarnya, pameran tunggal Jompet (AG Kuswidanato) kali ini adalah presentasi proyek seni yang punya makna berlapis-lapis.


Sudah sejak lama Jompet tertarik mendalami kehidupan masyarakat di Jawa—ini terbukti pada karya-karyanya, semisal Me and Samin (2005), atau yang lebih jelas lagi pada beberapa instalasi yang dihasilkannya semasa melakukan residensi di Rumah Seni Cemeti: Broken Morse Code, Resistance is not Around dan Stone on the Bed (2007). Minat Jompet pada tema-tema yang cenderung ‘tak lagi populer’ di kalangan seniman segenerasinya selalu dapat tersalurkan secara unik lewat kemampuan artistiknya mengolah media video, bunyi dan objek-objek kinetik.


Salah satu gagasan artistik Jompet dalam pameran ini terinspirasi oleh risetnya tentang kebudayaan masyarakat Jawa lama pada masa kolonialisasi, yakni ketika bangsa Belanda memperkenalkan mesin untuk pertama kalinya ke dalam kehidupan para petani. Pada pertengahan abad XIX, ketika para pengusaha Belanda mulai mendirikan pabrik gula di daerah pesisir utara Jawa, terjadi proses adaptasi yang menarik. Untuk mempertegas ikatan kosmologis antara mereka dengan mesin, para petani tebu menciptakan sebuah ritual baru—disebut Cembengan—untuk mengawali proses pengolahan tebu menjadi gula. Ritual itu dilakukan di antara mesin-mesin besar penggiling tebu, sehingga menciptakan jukstaposisi yang unik antara yang magis dan yang mekanis. Jika pandangan-pandangan dalam kosmologi saintifik-modern cenderung memandang semesta layaknya sebuah “mesin”, karya-karya Jompet malah menawarkan gagasan tentang mesin—perangkat mekanik buatan manusia, produk peradaban modern—sebagai bagian penting dalam konsep semesta itu sendiri.


Pada mulanya, fantasmagoria adalah ‘mesin mimpi’, tekonologi optik purba yang mampu menayangkan pendaran gambar bergerak pada kepulan asap sebagai layar. Dalam sejarahnya, banyak kisah yang melekatkan mesin ini pada horor, teror dan ketakutan. Mesin Jawa: Fantasmagoria menampilkan rangkaian karya instalasi Jompet yang menggabungkan objek-objek trimatra dalam wujud gerombolan serdadu hantu, proyeksi gambar bergerak dan suara. Pameran ini menandai peluncuran perdana proyek seni ini di Indonesia secara lebih utuh, setelah sebelumnya tampil pada perhelatan Yokohama Triennale 2008 – Time Crevasse di Jepang beberapa bulan yang lalu.

Agung Hujatnikajennong

 

FORBIDDEN ZONE

5 November - 10 Desember 2008

Painting/Digital Print/Video

Krisna Murti

Airplane-video-web.jpg
“Forbidden Zone” Krisna Murti mengekplorasi cara pandang kita akan kenyataan melalui medium landscape. Amanda K. Rath (AS/Malaysia), periset seni rupa mengatakan “..it is clear that Krisna is constantly evolving artistically, experimenting with and not afraid to enter into risky territory. In his new body of work, he continues to present issues that connect on a universal level, while at the same time articulating his own ambivalence and questions regarding his own position to a particular aspect of Indonesian art history”. Landscape menjadi perangkat investigasi historis dan rekonstruksi atas konstruk identitas. Yaitu sejak Belanda memperkenalkan realitas melalui cara pandang kolonial - “Mooi Indie”- yang eksotik-turistik. Lalu perlawan wacana itu oleh Sudjojono (1937) sambil menegaskan kehidupan “riel” sebenarnya adalah nasionalisme. Bahkan konstruksi yang dihidupkan melalui warisan pendidikan seni rupa. Praktik mengadaptasi, mengadopsi dan melintasi wilayah-wilayah artistik yang ditabukan agaknya justru disadari menjadi proyek seni Krisna Murti kali ini. Yaitu sebuah upaya mengungkap posisi (budaya) Krisna saat ini.

“Forbidden Zone” tidak menunjuk pada pelarangan melanggar kewilayahan artistik tetapi justru menegaskannya dalam bentuk pertanyaan ulang, demistifikasi dan menguji kembali batas-batas “konsensus”estetika pada medium lukisan, fotografi digital dan video. Sejauh itu, dari beberapa karya-karya yang dipamerkan terlihat kecenderungan “saling meminjam” : lukisan seperti foto atau sebaliknya. Atau permainan “daerah abu-abu” : video sebagai citraan bergerak “berhenti” sedemikian rupa sehingga berlaku sebagai lukisan. Digital print Krisna bahkan menunjukkan batas paling jauh ke dalam konsep “foto adalah film sedetik”. Bagi Iola Lenzi, kritikus seni berbasis di Singapore, ini memberi audiens visi yang majemuk, sekaligus menafikan kategorisasi dan hirarki seni. “Krisna Murti sets his piece up to interrogate received notions associated with the hierarchical relationship between photography, paint on canvas and video. Meshing the three habitually autonomous forms into single work, he establishes a discomfort that is responsible for low-voltage tension that disturbs the viewer as he begins to decode Forbidden Zone’s deeper iconographical significance. But far from divorced from the work’s conceptual aim, Murti’s deliberate challenge to conventional associations- the cliché of painting as traditional medium, video as contemporary, and photography situated somewhere in between the first and the second-, leads his audience into the piece’s multi-tiered vision.

Krisna Murti
Bandung 2008

LANDING SOON #8

23 - 30 Oktober 2008

Sigit BAPAK, URS pfannenmüller

image-depan-tn.jpg

Sigit Bapak, perupa muda yang banyak memanfaatkan materi sehari-hari yang ditemuinya dalam perspektif seni rupa. Gagasan-gagasan proyek seni rupa yang dikerjakan Sigit Bapak merupakan getaran sekaligus refleksi cara pandangnya atas kecenderungan sikap dan sifat-sifat umum masyarakat di Indonesia; ‘membebek’ atau “menjiplak dan meniru tanpa tanggung jawab”.

 

Selama3 (tiga) bulan residensi di studio cemeti, Sigit mulai menganalisa unsur-unsur parody, satir, dan berbagai macam kritik atas gejala, sifat-sifat kecenderungan umum dalam masyarakat Indonesia tersebut pada karya-karya instalasinya. Pada saat yang sama seakan-akan masyarakat tersebut telah semacam bersepakat bahwa ‘membebek’ jadi ‘modul untuk bertahan hidup’.

 

Lebih jauh Sigit mempergunakan kesempatan residensi ini untuk berpikir strategis, mengkaji kembali konsekuensi budaya ‘membebek’. Istilah ‘membebek’ menjadi sebuah kajian tema yang telah ditekuninya selama dua tahun terakhir; baik melalui media seni lukis, drawing, instalasi dsb.


Sigit "Bapak" Haryadi, lahir di Lampung 1976, menempuh pendidikan di Lembaga Pelatihan Kerja satu tahun pada Modern School of Design Yogyakarta. Tahun 2006 menyelesaikan pendidikannya pada Fakultas Seni Rupa Program Studi Seni Murni, Seni Grafis ISI Yogyakarta.


Urs Pfanenmüller, seniman perupa asal Basel – Swiss yang tinggal, mengajar dan bekerja di Den Haag - Belanda sejak tahun 70an. Mereflesikan langsung getaran ‘masa tinggalnya (residensi) di studio cemeti’ Yogyakarta melalui ‘City Tour’; bersepeda di puncak terik matahari global warming Yogyakarta yang dua bulan terakhir mencapai 34 - 37 derajat celcius. Mengais kesan, mengkonstruksi ‘shock culture’ dengan semua potensi konflik, dan memetakan kembali anilisis-analisis pengalaman yang lama mengendap; munculah kolase presentasi atas ‘masa tinggal’ Urs yang unik dan kaya raya!

 

Urs memproduksi lukisan dari studio empat dinding rapat, namun juga memproduksi lukisan-lukisan on the spot atas potret bergeraknya konsep Yogyakarta Berkota.

Fenomena seniman-seniman dalam ‘masa tinggal’ (residensi) di studio cemeti melirik tajam ihwal perkotaan; ada apa dengan Yogyakarta?

 

Urs membangun dan menyusun sendiri instalasi ‘replica gunung Merapi’ (tanpa asisten ataupun artisan). Merapi yang oriental dari Den Haag menjadi metafora ungkapan ambigu diri seniman dalam dilema ‘bersembunyi’ dan ‘memamerkan diri’. ‘Sembunyi’ adalah pernyataan penting pada presentasi Urs di sini; ‘anda berambisi memamerkan diri, sekaligus takut melakukan itu”. Karya-karya Urs menjadi satu keseluruhan instalasi yang kompleks.


Nindityo Adipurnomo 2008



LOST MESSAGE

12 September - 18 Oktober 2008

Lukisan, Drawing, Animasi, Komik dan Obyek

POPOK TRI WAHYUDI

LOst-message-web.jpg
Popok Tri Wahyudi pelukis yang membuat komik dan melukis kembali fragmen- fragmen komiknya ke kanvas, ke almari, ke dinding dan meja, apapun jadilah.
Mundur ke belakang, lebih kurang satu tahun yang lalu Popok tinggal
di kota Stuttgart Jerman; selama 6 bulan sebagai seniman dalam residensi,
atas undangan Akademie Schloss Solitude Stuttgart.

Pengalaman mahal, masih terasa berlipat ganda nilainya, serasa terus bersinergi
dengan waktu, diam-diam sudah lebih dari satu tahun yang lalu.
Enam bulan tinggal di kota Stuttgart mengelola konflik budaya. Setelah
bahasa, bekal tradisi berkomunikasi yang penting tentu, seni rupa dan lukisan-
lukisan, komiknya di tengah-tengah sengit, ketat dan rigitnya kompetisi
’berdebat’ dan ’berargumen’, seperti kebanggaan umumnya di Jerman. Popok
menguji, mencoba dan mempergunakan komiknya sebagai alternatif dialog
interaktif, komunikasi, wawancara, mengetengahkan semacam ’counter media’
yang segar, yang menjadi ’intermeso’ di tengah-tengah sengitnya budaya
tutur dan tulis yang sering teramat fanatik argumentatif di Jerman.

LOST MESSAGE adalah tajuk pameran presentasi dari cerminan, getaran-getaran yang baru menyeruak sekarang; setelah satu tahun merenung dan menyoal pengalaman komunikasi. Sebuah statement yang terus bersinergi
sekembalinya Popok ke dalam satu keseluruhan konteks di mana
Ia mengerti dan mempercayai budaya ’tutur’, budaya ’oral’ lewat komiknya
sebagai bagian komunikasi yang ia percayai di Jawa.

Merasakan kembali tegangan pada transisi dan perubahan budaya tutur di Jawa. Seakan-akan banyak kita jumpai kejanggalan sinkretik dan eklektis dari model pertemuan komunikasi ala tradisional, modern dan perubahannya. Sekembali dari enam bulan tinggal di Stuttgart, kita dibuat terkesima oleh membanjirnya ’teks-teks kosong’ (baca : tulisan berpesan) yang merongrong di ruang-ruang publik. Iklan dan reklame, televisi radio, internet, handphone, koran majalah tiang listrik, trotoar mesjid gereja dan dan toilet umum. Bahkan kota sekecil Yogyakarta pun. Mereka berdiri, bergelantungan, duduk diam, lari berjalan, membuntututi, mengejar kita dan tahu-tahu teronggok begitu saja, seperti bibit tumor yang terlambat kita sadari. Lalu menyebar dan menjalar.

Menyoal ”Komunikasi” dalam proyek pameran dan presentasi Popok Tri Wahyudi di Rumah Seni Cemeti ini. Tiga persoalan politis medium berkomunikasi : komik, lukisan dan ’pesan yang hilang’ sebagai tema, akan digarap rame-rame, diramu dengan lucu, jenaka, tragis, naif, tapi ’cool’ dan ’keren’.

Nindityo Adipurnomo

LENG | LUNG

7 Agustus - 7 September 2008

Instalasi Bambu

EKO A. Prawoto

kumpulan-web.jpg
Bamboo Installation
Eko Prawoto
Cemeti Art House

Globalisasi merupakan fenomena yang senantiasa terjadi. Bahkan dari sejarah kita dapat memahami bahwa budaya Indonesia terjadi sebagai hasil persilangan budaya global. Hanya saja yang kemudian dalam takaran intensitas yang membesar sehingga terasa hilangnya kemampuan sintesis untuk mencerna dan merefleksikan pengaruh luar ini seperti yang pernah terjadi. Yang lebih sering terjadi adalah peminggiran kemampuan serta pengkerdilan daya kreatif sehingga menjadi konsumen pasif yang bangga atas apa yang di hasilkan oleh negara lain. Sikap kritis atas terpaan global ini hampir-hampir tanpa perlawanan, terlebih oleh adanya harapan yang berlebihan atas proses modernisasi dari luar budaya kita sendiri serta semakin menciutnya pemahaman serta apresiasi generasi muda atas berbagai pencapaian budaya sendiri. Budaya dianggap sebagai masa lalu yang tidak bernilai dan tidak punya kaitan lagi dengan kekinian.

Penalaran ala industri juga memberikan tekanan pada ketrampilan lokal. Kekayaan budaya yang sangat beragam ini nyaris punah hanya karena bahan serta teknologi baru secara serempak mendominasi budaya rancang bangun kita, yang serta merta menggeser meminggirkan endapan budaya lokal.
Pada akhirnya kita juga melihat bahwa tidak semua persoalan dapat terjawab dengan kemajuan teknologi. Justru kemudian yang terjadi adalah kesenjangan antara apa yang dipikirkan dan dilakukan dengan perasaan. Ada rongga yang tidak terisi didalam relung jiwa kita bahwa ada ‘kehilangan’ dalam eksistensi kita seandainya terlepas dari akar budaya.
Inilah hal yang ‘tetap’ didalam diri kita yang selama ini tertutup atau diingkari keberadaannya. Hubungan kita dengan akar budaya, sumber nilai-nila yang melekat dalam sanubari kita. Bahwa ternyata hidup bukan sekedar aspek teknis ekonomis semata namun juga membutuhkan keserasian dengan aspek kehidupan yang lain. Hidup bukan tentang pemenuhan kebutuhan diri namun juga dalam kebersamaan, hidup tidak hanya meminta namun juga memberi.

Kehidupan adalah perkembangan dan penyempurnaan, suatu proses yang berkesinambungan , bukan mendadak muncul secara serta merta dari luar dirinya. Kehidupan memerlukan suatu awalan. Endapan tradisi yang hampir terlupakan ini harusnya menjadi awalan yang penting. Dengan demikian pengembangan yang terjadi adalah pengembangan dari dalam, bukan perubahan yang penuh kejutan namun terpisah dari akar jiwa kita. Tradisi bukan sekedar mitos yang harus diikuti secara membuta. Namun lebih sebagai endapan pengetahuan dan ketrampilan untuk hidup laras dengan alam. Tidak ada tradisi yang memusuhi alam yang dapat hidup langgeng. Tradisi sebagai sumber pengetahuan, didalamnya ada banyak ketrampilan dan kearifan lokal yang harus ditemu kenali lagi, ditemukan jiwa dan semangatnya kembali.

Arsitektur tidak seharusnya menjadi suatu entitas yang lepas, bahkan sebaliknya harus menjagai integritas existing nya.
Berarsitektur merupakan proses bekerja kolektif, karya yang diwujudkan ditumbuhkan dari ‘dalam’ dan diharapkan merupakan ungkapan nyata dari kebersamaan komunitas. Dan sekalipun relatif dalam porsi kecil, arsitek dapat berperan didalamnya….

Berarsitektur sebaiknya juga meneruskan ‘bahasa alam’ seperti itu, merupakan kelanjutan dari senandung alam, sehingga mampu menyentuh dan menyapa jiwa manusia. Bukan sekedar memukau sesaat namun juga membangun dialog untuk mengisi kekosongan relung jiwa, dengan demikian arsitektur adalah juga pengalaman bagi batin.

Didalamnya ada semangat harmonis untuk menjagai dan memberi hidup, keberadaannya harus juga membagikan manfaat bagi sekitar, seperti semerbak bunga atau kilauan embun di ujung daun. Ada keindahan bahkan kemewahan namun bukan dalam semangat kesombongan yang hedonistic, melainkan perayaan bagi kebersamaan, keindahan yang memperkuat semangat hidup, sumber inspirasi bagi sesama.

Eko Prawoto

LANDING SOON #7

23 - 30 Juli 2008

Ellen Rodenberg, Maarten Schepers, Wimo A. Bayang

Wina-girl-from-Yogyal-1-ER-.jpg
Maarten Schepers lahir di Rotterdam, 1957, menyelesaikan studi di Royal Academy of Visual Arts, Den Haag.
Struktur kota adalah fokus perhatian perupa Maarten Schepers. Ia tertarik mengamati bagaimana masyarakat membangun dan menghidupi kota, dan sebaliknya: seperti apa kota dibentuk. Karyanya banyak dipengaruhi oleh bangun bidang arsitektural. Berada di Yogyakarta, perilaku orang-orang di wilayah antara tradisi dan modernitas membuatnya tergelitik; ia melihat situasi transisi ini sebagai pergerakan kinetis yang sekaligus hidup berdampingan di dalam kota. Yang tradisional dan yang modern bukan lagi identitas yang dianggap penting, bahkan terbuka kemungkinan bagi terjadinya proses asimilasi antara keduanya.
Selama periode residensi, Maarten Schepers membuat serangkaian karya berpasangan yang menyandingkan tradisi dengan modernitas tetapi tanpa tendensi untuk memperbandingkan. Karyanya, ’House of Eggs’, mengandung pertanyaan yang selalu harus kita renungkan dalam situasi perubahan: berjalan terus seturut konsekuensinya, atau berputar arah dan kembali ke cara lama. Maarten juga terpukau oleh kegelapan kota Yogya dan bagaimana di sini sistem penerangan tidak hanya dilihat dari segi fungsionalnya, tetapi juga dipertimbangkan sebagai aspek dekoratif dari kota. Ia ’bermain-main’ dengan cahaya dan mengabadikannya dalam karya-karya video.

Ellen Rodenberg, lahir di Amsterdam, 1955, menempuh pendidikan di Koninklijke Academie van Beeldende Kunsten, Den Haag.
Ellen Rodenberg adalah seniman lukis yang menitikberatkan perhatiannya pada gagasan konstruksi dan dekonstruksi simbol dan makna. Mainan adalah salah satu sumber inspirasi dan ikon yang digunakannya untuk melukiskan pemikiran tentang kebudayaan manusia. Sepanjang residensi, perupa dengan ketertarikan pada sejarah, relijiositas, dan pendidikan ini bergulat dengan mainan-mainan plastik yang ’kitschy’, sembari menyulut pertanyaan tentang budaya mengkopi yang banyak ia temukan di Yogyakarta. Meniru, pada tataran tertentu sebenarnya adalah peradaban tertua manusia dan bagian dari kreatifitas itu sendiri. Tetapi sejauh mana sikap ini ikut andil dalam proses penciptaan seseorang adalah pertanyaan yang seharusnya muncul kemudian. Karya instalasi Ellen Rodenberg adalah jelajah pencarian jawaban sekaligus koleksi impresinya akan perilaku manusia: di Yogyakarta, di negeri asalnya Belanda, dan di sisi mana saja dari dunia.

Wimo Ambala Bayang lahir di Magelang, 1976, menempuh studi di Jurusan Desain Interior Modern School of Design dan Jurusan Fotografi Institut Seni Indonesia Yogyakarta.
Wimo Bayang adalah seniman media rekam dengan cara pandang yang unik terhadap kebudayaan. Karya-karyanya tidak dibuat dengan pretensi untuk mengkritik, tetapi membuat kita harus memikirkan ulang kebiasaan-kebiasaan yang selama ini seolah-olah telah ’ada dengan sendirinya’. Sejarah dan fakta, yang minor ataupun mayor, adalah aspek penting yang selalu dipertimbangkan dalam proses kreatifnya.
Residensi dan interaksi dengan seniman Belanda di Cemeti memancingnya untuk bermain dengan tafsir visual jenaka terhadap lelucon lama yang merefleksikan etos hidup masyarakat kita: ’Tenang, Belanda masih jauh!’. Ia mengundang kelompok-kelompok yang telah dipilih dengan seksama untuk berpartisipasi dalam karyanya dan membuat seri foto bertajuk ’Belanda sudah Dekat’. Mengajak kelompok-kelompok itu berpose dengan senjata-senjata mainan plastik, karya ini dibuat seolah-olah tak hanya sebagai antitesis, tetapi juga perlawanan terhadap sikap santai dan bermalas-malasan, yang masih kerap dijumpai di sebagian kalangan masyarakat kita. Ia menamai kelompok-kelompok ini ’Angkatan Keenam’, ’Angkatan Ketujuh’, dan seterusnya, sebagaimana ’Angkatan Kelima’ dibentuk di Indonesia tahun 1950-an.

Alih-alih

28 Mei - 15 Juli 2008

Wiyoga Muhardanto, Yuki Agriardi, Budi Adi Nugroho

Wiyoga_Dartf Goes to The Disco_2008_mirror, polyester resin, electronic motor.jpg
Kurator: Aminudin Th. Siregar

Asisten Kurator: Albert Yonathan Setyawan

Melihat perkembangan seni rupa sekarang ditinjau dari fenomena agresifitas pasar; dominasi seni lukis; pudarnya semangat inovasi, penemuan, eksplorasi, eksperimentasi, baik secara estetik maupun media dikalangan seniman muda, alih-alih tetap ada sejumlah seniman muda yang keras kepala melakukan orientasi yang berbeda dan menarik. Mereka adalah seniman yang masih berkutat pada potensi-potensi atau kemungkinan-kemungkinan `bahasa baru` di dalam perkembangan seni rupa Indonesia.
Dari sudut keprofesian, alih-alih juga bisa bermakna suatu `peralihan` antar disiplin atau konvensi: desainer jadi seniman; pematung jadi pelukis; pelukis jadi performance artist, dan sebagainya.
Dari sudut jaman, alih-alih juga bisa berarti jeda, pause atau `sementara itu: meanwhile`, suatu cabang, orientasi semangat yang berbeda dari arus utama yang sedang dominan.

Suatu praktek seni yang menunjukan sebuah semangat untuk merambah wilayah-wilayah yang baru, mencari kemungkinan- kemungkinan bahasa yang baru.

Dalam pencarian ini muncul peleburan-peleburan batasan wilayah praktek seni yang memunculkan suatu bahasa visual yang unik. Salah satu yang paling jelas terlihat adalah wacana desain dan seni. Selama ini di Indonesia kedua wacana ini ada dalam sebuah kategorisasi yang cukup kaku. Desain identik dengan persoalan benda-benda funsional yang dibuat dengan pendekatan untuk memecahkan sebuah masalah, dimana tidak ada content personal didalamnya. Sedangkan praktek seni selalu dibedakan karena content nya yang personal atau memuat sebuah pernyataan individual tentang persoalan sekitar. Desain dalam konsep seni yang selama ini kita kenal selalu menduduki posisi kedua setelah seni karena praktek nya yang dekat dengan industri membuatnya kekurangan muatan personal pembuatnya karena sifatnya yang mass production.

Dalam prakteknya beberapa tahun terakhir terutama di eropa, banyak desainer yang mulai keluar dari konvensi, dengan membuat sebuah produk yang lebih menitikberatkan pada pernyataan atau ekspresi personal. Yang pada akhir nya menimbulkan perdebatan, Karena mereka kemudian masuk dalam wilayah seni, khususnya seni rupa kontemporer. Dengan perbendaharaan bahasa para desainer ini mereka kemudian membuat sebuah bentuk seni yang agak sulit untuk dikategorikan dalam konvensi yang sudah mapan baik dalam wacana seni maupun desain itu sendiri. Hal inilah yang menjadi alasan muncul istilah object dalam seni rupa kontenporer. Yaitu untuk mengenali bentuk-bentuk seni yang sudah tidak dapat lagi dikategorikan dalam konvensi seni. Sebuah bahasa yang baru yang memperlihatkan peleburan dua wilayah yang berbeda. Dalam praktek ini para perupa banyak melakukan usaha eksploratif dengan meminjam ikon-ikon atau idiom dala desain tetapi dengan pendekatan yang ekspresif. Sehingga objek-objek yang hadir sering kali mengingatkan kita pada benda fungsi, tetapi fungsi nya sudah hilang karena yang muncul sekarang adalah sebuah pernyataan seni yang personal.

Pameran ini menampilkan karya dari tiga perupa, yang selama dua tahun terakhir secara intens mengolah bahasa-bahasa visual yang unik dalam karya mereka yang memperlihatkan peleburan-peleburan tersebut.
Wiyoga Muhardanto. Proses kreasinya berangkat dari kritik terhadap budaya konsumerisme, yoga meminjam ikon-ikon budaya popular dalam karyanya dan mendekonstruksinya dengan melakukan sebuah juxtaposisi tanda.
Yuki Agriardi. Proses kreasi nya dimulai dari keasikan mengolah objek-objek yang memiliki nilai fungsi (furniture), tetapi berbeda dengan objek fungsional pada umumnya, yuki memberi tempat bagi imajinasi personalnya dalam objek-objek tersebut. Dia mencoba menangkap kedekatan sebuah objek dengan manusia dapat mengubah persepsi terhadap objek tersebut.
Budi Adi Nugroho. ‘You see it, you don’t’ demikian kalimat yang dipilih budi untuk menjelaskan tentang karyanya. Budi memulai proses kreasinya dari pertanyaan tentang realitas sebuah objek atau material. Dalam suatu masyarakat budaya material, dimana penguasaan materi menjadi acuan utama dalam hidup kebanyakan orang, apa yang terlihat atau oleh mata tidak selalu seperti itulah adanya, penampilan yang menipu dapat membawa kita jauh dari makna yang sesungguhnya.


Exhibition and Presentation of Artists in Residence

Landing Soon 6

22 - 29 April 2008

Arfan Sabran, Ralph Kamena

poster-front-DEF_web.jpg

Jogja National Museum, Lantai 2 Situs Kriya
Jl. Amri Yahya no. 1, Gampingan, Wirobrajan, Yogyakarta

Pembukaan | Selasa, 22 April 2008, 19.30
Seniman Bicara | Jumat, 25 April 2008, 19.30

pameran buka setiap hari, 10.00 s.d 18.00
Informasi: +62 274 371 015 | www.cemetiarthouse.com

 

Seniman Belanda, Ralph Kämena (40), berkarya dengan fotografi dan video. Ia memulai karir profesionalnya pada tahun 1995, setelah menyelesaikan studi di Akademi Seni Visual St. Joost di Breda, Belanda. Fokus utamanya adalah hal-hal yang berhubungan dengan arsitektur dan isu perkotaan. Seringkali bentang kota adalah ‘studio’-nya, tetapi ia juga terpikat kepada ruang-ruang privat dan interior. Ia menampilkan orang-orang dan perilaku mereka secara tidak langsung dengan cara memotret tempat-tempat yang mereka gunakan. Kämena mengapresiasi arsitektur, interior maupun eksterior, dengan perspektif bagaimana rancang bangun itu memfasilitasi kehidupan. Arsitektur dan kota pun menjadi ranah pengalaman. Dalam fotografi, Kämena menggunakan gaya dokumenternya sendiri. Ia juga bereksperimen dengan video, kerap kali melalui teknik animasi foto yang melibatkan pengalaman subyektif orang per orang tentang ruang dan waktu.
Selama tinggal di Yogyakarta, Kämena mengerjakan proyek tentang lanskap sistem birokrasi di Indonesia. Orang-orang dan lingkungannya dipotret secara apa adanya. Proyek ini adalah kelanjutan dari proyek para pemrogram komputer yang dikerjakannya tahun lalu di Rusia, juga merupakan salah satu fokusnya tentang proyek birokrasi di Yogyakarta. Hasil karyanya akan diperlihatkan dalam sebuah instalasi video eksperimental.
Instalasi video ini hanya diperlihatkan secara privat.


Arfan Sabran lahir di Makassar, 1981, dan baru saja menyelesaikan pendidikan magister Biomedik di Universitas Hasanuddin, Makassar.
“Suster Apung” adalah film dokumenter pertama Arfan Sabran, yang mendapat apresiasi yang besar baik pada tingkat nasional maupun internasional. Film ini memenangi tiga penghargaan Eagle Award 2006 yang diselenggarakan oleh Metro TV. Sejak itulah, ia memutuskan untuk mulai menjinjing kamera dan menyalurkan kegelisahan pribadinya.
Soalan-soalan sosial adalah tema yang dipilih Arfan dalam film-filmnya. Ia menaruh perhatian terhadap isu-isu kebangsaan. Seperti generasinya, Arfan memahami sejarah sebagai hal yang tak pernah berhenti, bersifat subtil, dan dengan demikian senantiasa subjektif. Pilihannya jatuh kepada kasus-kasus renik; sejarah minor yang hampir tak pernah muncul ke permukaan. Seperti yang dikerjakannya selama menjalani program residensi LANDING SOON di Yogyakarta: ia menyigi perihal peristiwa pasca-1965 di Nanggulan, Kulonprogo. Arfan membuat film tentang mati suri tetabuh gamelan di Dusun Grubug setelah tragedi G30S, di mana di dalamnya terangkum kisah-kisah ideologi, diskriminasi, persahabatan, pengkhianatan, dan pendidikan. Lewat film ini, Arfan menawarkan sebuah catatan sejarah alternatif. Sekaligus menguji pandangan umum tentang siapa ‘lawan’ siapa ‘kawan’, atau tudingan terhadap ‘korban’ dan ‘pelaku’.

Kita!!

18 April - 18 Mei 2008

Japanese Artists Meet Indonesia

Yoshitomo Nara + graf (YNG)

Exhibition view II.jpg

Artist Talk : Minggu, 13 April 2008 jam 20.00 di Rumah Seni Cemeti


Partisipasi Rumah Seni Cemeti Yogyakarta dalam rangkaian besar ‘kunjungan besar’ seniman-seniman kontemporer Jepang di Indonesia ini menjadi tuan rumah bagi pameran YNG atau Yoshitomo Nara + graf. Khusus untuk mempererat interaksi para perupa kontemporer Jepang (Yoshitomo Nara + graf) dengan masyarakat luas dan komunitas seni rupa kontemporer di Yogyakarta. Kurator Pameran ini adalah TOYOSHIMA HIDEKI (direktur graf media gm) dan TAKAHASHI MIZUKI (Kurator dari Contemporary Art Center di Art Tower Mito). Pameran ini diorganisir oleh The Japan Foundation.

Tujuan Proyek “KITA!!”

Pada awal ketika kami merencanakan penyelengaraan pameran seni kontemporer Jepang di Indonesia, muncul pertanyaan apa arti “reality” dalam konteks “pertukaran budaya” atau pun “Seni kontemporer Jepang?”

Sejak negara barat mulai mengadakan expo pada abad 19 kami pun mulai memamerkan karya dari negeri sendiri untuk memperkenalkan tradisi, sejarah atau pun kebudayaan dengan cara yang sampai saat ini masih digunakan. Sedangkan kalau kita melihat kondisi masa kini, melalui google earth- sebuah fasilitas foto satelit dengan tingkat resoluasi tinggi- sebuah alamat yang dicari akan terlihat hanya dalam beberapa detik. Kita pun bisa mencari berita terbaru dari seluruh dunia menggunakan fasilitas internet ataupun chatting dengan orang-orang yang belum dikenal dari seluruh dunia. Berkat post-kolonialisme dan globalisasi kita bisa menemukan beberapa karya seni kontemporer dari berbagai negara dalam biennale atau triennale yang diselenggarakan di seluruh dunia. Dengan situasi seperti itu, muncul pertanyaan seputar dunia seni yaitu; “Bagaimana fungsi seni dalam konteks pertukaran budaya ?” dan “Apakah ada kemungkinan melakukan pertukaran budaya melalui seni?”

Sebagai proses terhadap pertanyaan di atas, kali ini bukan melulu karya semata, tetapi lebih dari itu, kami akan membuat seniman-seniman Jepang tinggal di tempat di mana pameran akan diadakan. Dengan demikian, akan terbuka kemungkinan mereka bertatap muka dan menjalin komunikasi dengan para kurator, seniman, siswa ataupun masyarakat setempat. Menurut kami, para seniman Jepang ini akan menemukan sesuatu yang baru saat mereka menikmati suasana Indonesia melalui angin yang bertiup, saat berjalan-jalan di kota, makan masakan setempat, tidur, berbincang-bincang dengan para seniman setempat dan tentu saja saat membuat karya mereka sendiri. Walaupun kegiatan ini tampak sebagai hidup keseharian, tetapi kami berpikir bahwa saat itu lah pertukaran budaya internasional yang sesungguhnya akan terbentuk, yaitu ketika para seniman-seniman bergiat di dalam kondisi yang berbeda dari biasanya (bahasa, yang tidak biasa, kebiasaan dll). Mereka akan menemukan sesuatu yang baru melalui komunikasi dengan masyarakat setempat, ataupun mengalami respons yang berbeda dari biasanya.

Untuk pameran kali ini kami memilih seniman yang terlibat dengan kriteria berikut; (1) tidak berkarya dalam satu genre saja, (2) menggunakan beragam media (3) suka bepergian dan mampu beradaptasi dengan lingkungan atau pun menciptakan karya melalui pertukaran ide dengan masyarakat setempat. Seniman yang terlibat dalam proyek ini tidak hanya para perupa, tetapi juga kartunis, seniman media, musisi, perancang busana, performer ataupun seniman kuliner. Sengaja kami mengajak mereka dengan pertimbangan situasi terkini yang tengah berkembang dalam bidang seni di Jepang, yaitu berpadunya berbagai bidang yang saling mempengaruhi secara luwes. Kami merasa di Indonesia pun tengah terjadi hal yang sama.

Kita akan menyaksikan bagaimana proses seniman-seniman Jepang menemukan sesuatu dan menjalin hubungan dengan Indonesia melalui pandangan dan perasaan mereka. Tentunya pameran ini akan menjadi dokumentasi realitas yang panas seputar kreativitas dan penemuan baru.


Landingsoon # 5

23 - 30 Januari 2008

Tintin Wulia, Krijn Christiaansen

Introduction-Speech.jpg

Tintin Wulia lahir di Denpasar, 1972, menempuh pendidikan di Teknik Arsitektur Universitas Katolik Parahyangan, Bandung, dan pendidikan musik di Berklee College of Music, Boston, USA.

Tintin Wulia adalah pembuat film yang kemudian tertarik masuk ke dalam wilayah seni visual dan mengolah sebentuk narasi ke dalam bentuk visual yang eksperimental. Selama program residensinya di Yogyakarta, Tintin mengerjakan beberapa karya yang menunjukkan cara pandangnya yang menarik tentang persoalan identitas dan batas. Pertanyaan besar yang selama ini selalu diajukan berkaitan dengan identitas kita sekarang telah melahirkan sekian banyak alternatif jawaban, terutama ketika perpindahan geografis merupakan aktivitas yang menjadi bagian tak terhindarkan dari realitas manusia. Dengan tema ini, Tintin membuat eksperimen-eksperimen bentuk visual dari simbol-simbol penanda identitas dan lintas batas: paspor, layang-layang, bahkan nyamuk. Tintin mempertanyakan kembali situasi-situasi ambang yang belakangan acapkali membuat kita merasa gamang atas apa yang disebut sebagai “asal”.

Krijn Christiaansen, lahir di Tilburg, 1978, menempuh studi pada Design Academy Eindhoven, minat utama Ruang Publik.

Dengan latar belakang sebagai desainer yang berfokus pada isu-isu ruang publik, Krijn Christiaansen memulai proyek residensinya di Yogyakarta dengan mengamati pemanfaatan ruang kota, terutama yang dikelola sendiri oleh warga. Krijn tertarik untuk mengumpulkan dan mendengar legenda, mitos, dan cerita-cerita keseharian yang berkaitan dengan Yogyakarta masa kini. Seperti yang direpresentasikannya pada proyek yang mempertemukan karakter Petruk dan keluarga Ronald McDonald, dia bermain pada ide-ide tentang jukstaposisi serta “bentuk-bentuk antara”.
Perjalanan melintasi sudut-sudut kota Yogyakarta membawanya pada pertanyaan-pertanyaan tentang makna dari “orisinalitas” dan “pembaharuan”, juga tentang “warisan” dan “masa depan”.
Krijn terkesan tentang perbedaan-perbedaan dimana masyarakat berkontribusi pada ruang. Sebagai akibat dari organisasi kampung di kota (dimana setiap wilayah menyelesaikan masalah ruang dengan cara yang berbeda) ruang kota terlihat kacau, tetapi hasilnya penuh dengan kejutan, improvisasi dan orisinalitas.

Seniman Bicara & Diskusi, 25 Januari 2008, 19.30

Handiwirman Yogyakarta, gerakan seniman muda, Handiwirman Jogja, cemeti Jogja, art discourse indonesia, proyek seni Jogja, Jompet Jogjakarta, fine arts Jogja, Ruang Seni Jogja, Bunga Jeruk Jogja, fine art Yogyakarta, seniman asia indonesia, instalasi Jogja, katalog Jogja, wacana seni rupa Jogjakarta, Terra Bajraghosa Jogja, Muyono indonesia, project Jogjakarta, Krisna Murti indonesia, video art Jogjakarta, cemeti Yogyakarta, art projects Jogja, paintings indonesia, patung Jogjakarta, Ruang Seni indonesia, Anusapati Yogyakarta, Melati Suryodarmo Jogja, photography indonesia, Eko Nugroho indonesia, pertukaran Yogyakarta, art exchange indonesia, buku seni Jogjakarta, catalogues Yogyakarta, lukisan Jogjakarta, art books Jogjakarta, sculptures Jogja, sculptures Jogjakarta, Popok Tri Wahyudi indonesia, drawings Yogyakarta, proyek Yogyakarta, installation art Jogjakarta, Angki Purbandono Jogjakarta, Yogyakarta, paintings Jogjakarta, modern art Jogja, cemeti Jogjakarta, patung Jogja, Bunga Jeruk indonesia, Anusapati Jogja, proyek Jogjakarta, Muyono Jogja, Nindityo Adipurnomo, S. Teddy D. indonesia, modern art indonesia, photography Jogja, Ugo Untoro Jogjakarta, Agus Suwage Jogja, seni rupa asia Yogyakarta, art house Jogja, exhibition Jogja, katalog indonesia, Angki Purbandono indonesia, art exchange Jogja, fotografi Jogja, art residency Yogyakarta, lukisan Yogyakarta, indonesian art Jogja, installations Jogjakarta, patung indonesia, art exchange Yogyakarta, art residency indonesia, photography Yogyakarta, project Jogja, seniman muda Jogjakarta, Eko Prawoto indonesia, installations Yogyakarta, art Jogjakarta, pameran Yogyakarta, art residency Jogjakarta, Melati Suryodarmo indonesia, Galeri Jogja, installation art Yogyakarta, Yogyakarta, video art Yogyakarta, catalogues indonesia, Seni Rupa kentemporer Jogja, installations indonesia, art books Yogyakarta, drawings Jogja, catalogues Jogjakarta, new art trends Yogyakarta, paintings Jogja, Christine Ay Tjoe Yogyakarta, pameran Jogja, Popok Tri Wahyudi Jogja, Christine Ay Tjoe indonesia, installation art indonesia, art house Jogjakarta, pertukaran indonesia, drawings Jogjakarta, rumah seni, indonesia, drawings indonesia, seni kontemporer Jogjakarta, Anusapati indonesia, Anusapati Jogjakarta, buku seni Yogyakarta, seni instalasi Yogyakarta, project Yogyakarta, Krisna Murti Jogjakarta, emerging artists indonesia, Asian art Jogjakarta, Eko Nugroho Jogjakarta, art discours Jogjakarta, Jogjakarta, art residency Jogja, fine arts Jogjakarta, fine arts indonesia, new art trends Jogjakarta, seni rupa asia Jogjakarta, Asian artists Jogja, photography Jogjakarta, modern art Jogjakarta, video art Jogja, landing soon Jogja, indonesian art indonesia, tren baru Yogyakarta, gallery Yogyakarta, art projects Yogyakarta, lukisan Jogja, sculptures indonesia, modern art Yogyakarta, Krisna Murti Jogja, art works indonesia, Nindityo Adipurnomo, art house indonesia, art Jogja, art books Jogja, seni rupa modern Jogja, visual arts Yogyakarta, S. Teddy D. Jogjakarta, fine arts Yogyakarta, S. Teddy D. Jogja, Handiwirman Jogjakarta, art space Jogjakarta, art books indonesia, Asian art Jogja, installations Jogja, lukisan indonesia, pertukaran Jogja, Christine Ay Tjoe Jogjakarta, seni rupa modern Jogjakarta, visual arts Jogjakarta, S. Teddy D. Yogyakarta, catalogues Jogja, Eko Nugroho Jogja, new art Jogjakarta, Jogjakarta, Agus Suwage Yogyakarta, new art Yogyakarta, exhibition Jogjakarta, proyek seni Jogjakarta, Jompet Yogyakarta, cemeti Yogyakarta, Popok Tri Wahyudi Jogjakarta, fine art Jogja, Tita Rubi indonesia, cemeti indonesia, Melati Suryodarmo Yogyakarta, Seni Rupa indonesia, Eko Prawoto Yogyakarta, Eko Prawoto Jogjakarta, Seni Rupa Jogjakarta, art works Jogja, installation art Jogja, visual arts indonesia, new art trends Jogja, Ruang Seni Jogjakarta, Mella Jaarsma Jogja, gerakan seniman muda Jogjakarta, rumah seni, rumah seni, wacana seni rupa Yogyakarta, seniman muda indonesia, seni rupa asia indonesia, contemporary art Jogjakarta, art space Yogyakarta, patung Yogyakarta, emerging artists Yogyakarta, Ugo Untoro Yogyakarta, proyek seni indonesia, FX Harsono Yogyakarta, buku seni indonesia, Mella Jaarsma Jogjakarta, Tita Rubi Yogyakarta, Agus Suwage Jogjakarta, Popok Tri Wahyudi Yogyakarta, art Yogyakarta, seniman asia Jogjakarta, tren baru indonesia, Seni Rupa kentemporer indonesia, buku seni Jogja, seni instalasi Jogja, Jompet Jogja, Ugo Untoro indonesia, cemeti Jogja, fotografi Yogyakarta, pertukaran Jogjakarta, Asian artists Jogjakarta, art discours Yogyakarta, Wimo Ambala Bayang Yogyakarta, Asian artists Yogyakarta, Christine Ay Tjoe Jogja, contemporary art Jogja, seniman muda Jogja, new art trends indonesia, landing soon Jogjakarta, Ugo Untoro Jogja, Agus Suwage indonesia, emerging artists Jogjakarta, Asian art indonesia, instalasi Jogjakarta, Terra Bajraghosa Jogjakarta, Angki Purbandono Yogyakarta, seniman asia Jogja, seniman muda Yogyakarta, gambar Yogyakarta, art projects indonesia, seni rupa modern Yogyakarta, Galeri Jogjakarta, Eko Nugroho Yogyakarta, sculptures Yogyakarta, cemeti indonesia, seniman asia Yogyakarta, Seni Rupa Yogyakarta, art exchange Jogjakarta, seni rupa asia Jogja, Tita Rubi Jogja, Jogja, art works Jogjakarta, Seni Rupa kentemporer Jogjakarta, wacana seni rupa indonesia, seni kontemporer Yogyakarta, art projects Jogjakarta, gambar indonesia, fotografi Jogjakarta, gambar Jogja, landing soon Yogyakarta, exhibition indonesia, project indonesia, FX Harsono Jogja, Muyono Yogyakarta, Seni Rupa Jogja, cemeti Jogjakarta, tren baru Jogjakarta, art house Yogyakarta, katalog Jogjakarta, fine art indonesia, art indonesia, Seni Rupa kentemporer Yogyakarta, katalog Yogyakarta, rumah seni, pameran Jogjakarta, Muyono Jogjakarta, Tita Rubi Jogjakarta, tren baru Jogja, gerakan seniman muda Jogja, seni kontemporer Jogja, art space indonesia, art space Jogja, Terra Bajraghosa indonesia, Mella Jaarsma Yogyakarta, exhibition Yogyakarta, Nindityo Adipurnomo, visual arts Jogja, indonesia, fine art Jogjakarta, indonesia, wacana seni rupa Jogja, Krisna Murti Yogyakarta, gallery Jogja, art works Yogyakarta, gallery indonesia, pameran indonesia, Melati Suryodarmo Jogjakarta, seni rupa modern indonesia, Bunga Jeruk Jogjakarta, FX Harsono Jogjakarta, Asian art Yogyakarta, Jompet indonesia, video art indonesia, indonesia, paintings Yogyakarta, emerging artists Jogja, gallery Jogjakarta, Terra Bajraghosa Yogyakarta, Nindityo Adipurnomo, Asian artists indonesia, Bunga Jeruk Yogyakarta, Eko Prawoto Jogja, art discours Jogja, Galeri Yogyakarta, Ruang Seni Yogyakarta, Galeri indonesia, Wimo Ambala Bayang Jogjakarta, seni kontemporer indonesia, proyek seni Yogyakarta, instalasi indonesia, proyek indonesia, instalasi Yogyakarta, new art Jogja, Wimo Ambala Bayang indonesia, landing soon indonesia, seni instalasi Jogjakarta, gambar Jogjakarta, contemporary art Yogyakarta, proyek Jogja, new art indonesia, Handiwirman indonesia, indonesian art Jogjakarta, Mella Jaarsma indonesia, fotografi indonesia, Angki Purbandono Jogja, Wimo Ambala Bayang Jogja, gerakan seniman muda Yogyakarta, contemporary art indonesia, indonesian art Yogyakarta, seni instalasi indonesia, FX Harsono, Jogja