Pameran Tahun 2007

Bocor #4

di - plas - tik

21 Desember 2007 - 5 Januari 2008

Objek-objek Visual setelah Pertunjukan

Fitri Setyaningsih

di plas tik 2.jpg

Botol-botol itu seperti menyimpan banyak cerita. Berapa banyak sih orang mengkonsumsinya? Meminum cairan mineralnya lalu membuang botolnya. Rasanya seperti tubuh juga yang dibuang. Ada yang botol-nya tampak butek: mungkin pernah dipakai untuk nyimpan alkohol atau ciu, mungkin juga buat beli bensin, minyak tanah atau tiner. Ada yang sangat kotor dan harus dicuci demi kebersihan.
Orang bilang botol plastik itu berbahaya buat lingkungan. Tapi dia ada. Dia ber-wujud. Wujudnya menyampaikan berbagai imaji yang berubah-ubah. Saya kadang seperti memunguti tubuh yang disia-siakan, yang jiwanya telah diambil. Saya merasa tak tahu lagi, apa saya yang sedang mengerjakan botol-botol itu atau botol-botol itu yang sedang mengerjakan saya. Para pemulung setiap hari juga bergaul dengan botol-botol itu dan mendapatkan uang. Lapak-lapak juga mendapatkan uang. Dan kesenian? Kesenian mendapatkan imaji-imajinya. Rasanya seperti piknik dalam dunia plastik. Dunia yang mence-maskan kita, tapi kita tidak bisa berpisah dengannya." (Fitri Setyaningsih)

Pameran di-Plas-tik oleh Fitri Setyaningsih (Solo, 1978) ini akan menampilkan bentuk-bentuk instalasi pertunjukan, fotografi dan video performans. Fitri dan para penarinya menjelajahi kemungkinan-kemungkinan tubuh yang dilahirkan oleh penggunaan medium dan disiplin yang berbeda. Isu lingkungan yang menjadi gagasan dasar pertunjukan ini dengan sendirinya telah tertransformasikan, sehingga tidak terjebak menjadi sebuah kampanye yang penuh slogan.

choreographer : Fitri Setyaningsih
Installation : Fitri, Mimi, Meme, Fiki
photo & videowork : Afrizal Malna
lighting designer : Tyas Sumarah

Bocor # 3

7 November - 8 Desember 2007

Andita Purnama, Anusapati, Eko Didyk Sukawati, Eko Prawoto, Iwan Effendy, Samsul Arifin, Setu Legi

Bocor 3_Setu Legi.jpg

Isu lingkungan selama ini sering dipahami secara sempit, semata-mata sebagai penyelamatan ekosistem (berkaitan dengan perlindungan terhadap spesies langka atau lahan sumber kehidupan), perlindungan dan perbaikan lingkungan di mana kita hidup (isu polusi, sampah, dan sebagainya) atau penyelamatan keanekaragaman hayati. Kenyataannya, isu ini jauh lebih kompleks daripada itu. Banyak kasus berkaitan dengan isu lingkungan justru dapat mengantarkan kita pada sejarah peradaban. Isu lingkungan berkaitan dengan kesenjangan negara kaya dan miskin, penghormatan terhadap masyarakat dan kebajikan lokal, neo-kolonialisme/imperialisme sumber daya pemanfaatan teknologi, dan lain-lain.

Pameran ini tidak berpretensi untuk melakukan kampanye lingkungan. Yang terutama digarisbawahi di sini adalah upaya untuk mengajak seniman memikirkan kembali isu-isu yang terkait dan kemudian membaginya kembali pada publik yang luas. Karya yang ditampilkan sifatnya interaktif dan memancing respons publik, sehingga terjadi dialog dalam masyarakat sendiri tentang berbagai macam isu dalam ranah lingkungan.

Landing Soon # 4

23 - 30 Oktober 2007

AG Kus Widananto 'Jompet' & Gerco de Ruijter

ls 4 jompet_the animist_2007.jpg

AG Kus Widananto 'Jompet', lahir di Yogyakarta tahun 1976, belajar di Diploma Komunikasi, Universitas Gadjah Mada. Perupa yang tinggal di Yogyakarta ini menggunakan beragam media baru untuk mengelaborasi gagasan-gagasan sosial yang bersifat interaktif, seperti projek '1 hour 2be Other' (Satu Jam Menjadi Orang Lain) dan 'Cross Personal Respiratory' yang dilakukannya dalam kurun 2003 hingga 2005 lalu. Jompet dengan tekun berupaya menemukan beragam teknik dan pola instalasi dalam ranah seni media baru. Ia tidak saja berupaya untuk menghadirkan imaji visual melalui gambar bergerak, tetapi juga melakukan eksperimentasi untuk membuat bentuk-bentuk karya melalui berbagai instrumen elektronik. Pada program residensi kali ini, ia mencoba mencerap suara-suara yang muncul dari lingkungan domestik petani dan ‘mencurinya’; memindahkan ruang domestik petani ke dalam bentuk bunyi-bunyian, objek tiga dimensi, dan video. Karyanya bergerak di antara irisan gagasannya atas situasi alam sebagai sebuah pertarungan kuasa dengan ironi tentang cara-cara kita berkomunikasi sebagai manusia.

Gerco de Ruijter lahir di Vianen tahun 1961, belajar di Academy of Visual Arts, Rotterdam, Belanda. Dia mulai merintis jalan sebagai seorang fotografer independen, sebelum memutuskan untuk mengubah perspektif fotografisnya ke dalam konsep ‘seni’. Sejak tahun 1993, Gerco de Ruijter mulai mengembangkan teknik fotografi dari udara menggunakan layang-layang atau balon udara helium. Dengan teknik tersebut, ia membuat foto-foto lansekap yang begitu interpretatif, menunjukkan pemandangan sebagai kumpulan tekstur dan pola-pola yang diciptakan oleh alam atau aktivitas manusia. Selama periode residensinya, Gerco menjelajah daerah-daerah perbukitan Panggang, persawahan dan tambak ikan di sekitar Borobudur, waduk kering di Karanganyar, dan sawah-sawah di Imogiri. Beberapa perjalanannya ke situs-situs ‘alam’ tidak membuahkan hasil karena ‘tak ada angin', seperti katanya, tetapi tempat-tempat yang disinggahinya telah memberikan pemahaman baru mengenai perbedaan antara ‘lahan’ dengan ‘tanah’; antara lapisan telanjang bumi dengan tanah yang telah terlapis oleh aktivitas budaya. Gerco de Ruijter telah mengerjakan seri foto yang menggambarkan ketertarikannya pada skala sawah-sawah; dari keping lahan kecil dengan tunas-tunas padi sampai lahan lebar dan terbuka berisi padi yang telah dipindahkan.


 

BOCOR #2

20 September - 18 Oktober 2007

Anang Saptoto, Bambang Toko Witjaksono, Indrayanti, S.Teddy Darmawan, Theresia Agustina, Wedhar Riyadi

BOCOR 2.jpg

Isu lingkungan selama ini sering dipahami secara sempit, semata-mata sebagai penyelamatan ekosistem (berkaitan dengan perlindungan terhadap spesies langka atau lahan sumber kehidupan), perlindungan dan perbaikan lingkungan di mana kita hidup (isu polusi, sampah, dan sebagainya) atau penyelamatan keanekaragaman hayati. Kenyataannya, isu ini jauh lebih kompleks daripada itu. Banyak kasus berkaitan dengan isu lingkungan  justru dapat mengantarkan kita pada sejarah peradaban. Isu lingkungan berkaitan dengan kesenjangan negara kaya dan miskin, penghormatan terhadap masyarakat dan kebajikan lokal, neo-kolonialisme/imperialisme sumber daya pemanfaatan teknologi, dan lain-lain.

Pameran ini tidak berpretensi untuk melakukan kampanye lingkungan. Yang terutama digarisbawahi di sini adalah upaya untuk mengajak seniman memikirkan kembali isu-isu yang terkait dan kemudian membaginya kembali pada publik yang luas. Karya yang ditampilkan sifatnya interaktif dan memancing respons publik, sehingga terjadi dialog dalam masyarakat sendiri tentang berbagai macam isu dalam ranah lingkungan. 

Seniman yang terlibat: Anang Saptoto, Bambang Toko Witjaksono, Indrayanti, Theresia Agustina, Wedhar Riyadi, S. Teddy D 

 

KONSEP SENIMAN
 

Anang Saptoto
Konsep ANIMAL TOYS
Dewasa ini, kemajuan disegala macam hal dalam kehidupan sehari-hari semakin menuntut kemudahan dalam mencukupi segala macam kebutuhan. Ruang menjadi salah satu faktor pilihan penting untuk memenuhi segala macam kebutuhan masyarakat masa kini. Kemajuan pusat perbelanjaan (mal) yang mengusung konsep "one-stop shoping" menjadi penjembatan untuk menembus ruang dan waktu.
Jika kita sempat melihat dan masuk kedalam mal di Yogyakarta, semua tersedia mulai dari kebutuhan pangan dan sandang. Salah satu perkembangan terkini yang (menurut saya) sangat mengejutkan adalah keberadaan robot-robot (“Robot Goblog”) yang diwujudkan dalam rupa binatang panda, gajah, harimau, orang utan. Fenomena keberadan binatang-binatang robot itu menjadi permainan baru dalam konsep ruang publik di industri globalisasi.
Pertanyaannya; seberapa efektifkah kemajuan (animals toys) ini menjembatani jarak antar manusia dengan lingkungan sekitar? Mungkin kita harus siap dan jangan kaget bila 20 tahun lagi anak cucu kita merasa tidak nyaman dengan kebun binatang yang tersedia, kemudian dengan muka polos mempertanyakan rupa seekor harimau kalimantan atau gajah lampung yang konon habitatnya hanya tinggal beberapa ratus ekor di Indonesia.


Bambang Toko Witjaksono
Konsep:
Konsep Bambang terutama didasarkan pada upaya untuk menumbuhkan kesadaran tentang perlunya memperbaiki desain dan tata lingkungan hidup terutama di daerah perkotaan. Kesadaran ini amat perlu dimulai sejak dini sehingga generasi yang mendatang bisa lebih menimbang efek-efek pembangunan kota terhadap keberlangsungan lingkungan hidup. Isu-isu lingkungan hidup di Indonesia masuk dalam situasi yang sudah sangat terlambat, sehingga untuk memperbaikinya perlu dilakukan pendidikan lingkungan sedari dini, terutama yang berkaitan dengan upaya menumbuhkan visi dan paradigma tentang bumi yang sehat kepada anak-anak.
Bambang akan membuat bak pasir yang akan dibuat menjadi medium bermain bagi anak-anak. Sebelum pembukaan akan dilakukan workshop, yang terutama berupaya untuk merangsang anak-anak untuk berpikir tentang lingkungan ideal yang mereka bayangkan; bagaimana lingkungan yang bersih, sehat dan ramah untuk mereka.  Setelah itu, anak-anak akan menciptakan kota yang mereka bayangkan itu bersama-sama, dari bahan-bahan bekas yang sudah disediakan oleh seniman.
 

Indrayanti
Konsep:
Indra bekerja dengan memanfaatkan barang-barang bekas, terutama plastik sampah, terutama dengan kecenderungan craft. Indra melihat bahwa kebanyakan orang tidak berpikir secara kreatif untuk memanfaatkan sampah dan barang-barang yang tidak lagi mereka pakai. Bahan-bahan ini sesungguhnya bisa diolah menjadi aneka bentuk benda fungsional yang memiliki nilai seni yang tinggi. Selain membuat karya yang akan dipamerkan, Indra juga akan membuat workshop yang melibatkan warga kampung terutama remaja untuk membuat asesoris dan pakaian dari bahan bekas pakai.
Indra membuat empat karya pakaian yang akan dipasangkan pada empat buah manekin yang dibuat dari bahan-bahan bekas pula (kayu bekas).

S Teddy D
Konsep:
Perang tak berguna. Sejarah memperlihatkan bahwa perang adalah sebuah peradaban manusia yang sekaligus menghancurkan hasil hasil peradaban itu sendiri.
Dana perang; berjuta,miliar-miliar  dolar, atau ber ton - ton emas habis pada setiap peperangan, mulai dari  perang parit ke perang Vietnam.
Ekosistem perang;
Tentunya bukan ekosistem yang secara alami tercipta sebelum suatu kawasan terlanda perang atau jadi medan perang,memang akan terjadi ekosistem baru dari penghancuran krn perang


Theresia Agustina
Konsep:
Tere membuat karya yang diinspirasi dengan kesadarannya atas ritme yang alamiah dari alam. Alam mempunyai ritme yang perkembangannya sangat dipengaruhi oleh perilaku manusia terhadap alam itu sendiri. Tere mengilustrasikan ritme ini melalui ciptaan alat musik yang terbuat dari kayu. Ia mencoba bermain dengan musik alam dan mengingatkan kita semua pentingnya berpikir tentang keharmonisan dengan alam.  


Wedhar Riyadi
Konsep:
Wedhar bekerja dengan gagasan awal membuat performans tentang respons masyarakat awam terhadap peningkatan polusi udara di kota-kota besar. Di Yogyakarta, peningkatan polusi udara terutama disebabkan oleh peningkatan penggunaan kendaraan bermotor. Kendaraan-kendaraan umum biasanya menjadi penyebab paling utama dari polusi udara ini karena sistem penyaringan udaranya yang tidak lagi memadai. Belum lagi, lima tahun terakhir, kendaraan roda dua telah menggantikan fungsi sepeda dan bis-bis umum, terutama motor menjadi sangat populer di kalangan mahasiswa. Beberapa tahun ini terjadi fenomena baru di kalangan pengguna sepeda motor yang  selalu menutup wajah dan sebagian tubuh mereka dengan helm, penutup muka dan kaus tangan yang melindungi mereka dari sinar matahari dan polusi udara. Wedhar berupaya untuk menggali bagaimana respons dan persepsi masyarakat terhadap persoalan yang mereka hadapi secara nyata dalam hidup sehari-hari. Yang menarik, selain berkaitan dengan  persoalan polusi ini karya Wedhar juga berusaha untuk melihat efek yang lain dari penggunaan pelindung-pelindung wajah tersebut. Dalam pandangan Wedhar, orang-orang menjadi kelompok anonim ketika mereka mulai menggunakan pelindung, tidak lagi mengenali satu sama lain. Ekspresi mereka juga tertutupi, sehingga kita tidak tahu apakah mereka senang, marah, sebal, atau jengkel. Menurut Wedhar, para pengendara motor menjadi entitas yang sama ketika berada di jalan raya.


 

Bocor # 1

Gross National Happiness

14 Agustus - 15 September 2007

Mirjam Burer

Brokoli.jpg

Bocor merupakan seri pameran yang berkaitan dengan isu-isu lingkungan.

Mirjam Bürer bertahun-tahun yang lalu memulai proyeknya dengan mengumpulkan citra lanskap. Di Thailand selatan, Pakistan, Burma, India utara dan Indonesia, dalam perjalanannya ia menempuh aneka lanskap – bentang alam – lalu tertarik pada beragam cara tanam dan penumbuhan tanaman. Dari mengumpulkan informasi tentang ritual yang berkait dengan lanskap, dan mengamati persepsi manusia tentang alam, ia jadi berminat pada berbagai cara mengawetkan dan menyemai benih demi mengamankan hari depan. Dengan cara ‘potong-tempel’, ia ciptakan citra lanskap dengan foto, cetak saring, dan lapis lukisan, dan ini dapatlah dibandingkan dengan penyilangan dan manipulasi tumbuhan yang sudah dilakukan orang berabad-abad.

Brokoli cetak berwarna hijau dan hitam menjadi pohon, dan karena diperbiakkan dan diulang-ulang jadi mengingatkan kita pada perkebunan dan memperlihatkan kontras antara yang artifisial dan tak-artifisial. Maka interaksi penting antara seni dan ilmu pengetahuan tervisualisasikan dan mengimbau kita berpikir tentang pelestarian keragaman hayati, pentingnya keragaman genetis dalam tanaman konsumsi sebagai lawan dari tumbuhan modern yang seragam dan dipatenkan. Pertumbuhan urbanisasi di seluruh dunia, bersama dengan dominasi kaidah-kaidah ekonomi pasar, mengesampingkan materi-materi dasar ekologi yang menopang tatanan bumi dan yang terkorbankan nyaris tanpa kepedulian.

Mirjam Bürer lahir di Utrecht, Belanda pada 1959 dan belajar di Akademi Seni Rupa Utrecht. Pameran ini dilaksanakan kerjasama dengan Erasmushuis Jakarta. 

Landing Soon # 3

30 Juli - 8 Agustus 2007

Gerard Holthuis, Sadewa

gerard_hey joe.jpg

Sadewa lahir di Kediri, 1980. Menempuh pendidikan formal di Universitas Muhamadiyah Malang. Belajar fotografi secara informal di komunitas Insomnium, Malang.
Selama masa residensinya di Yogyakarta, Sadewa mengembangkan tiga proyek seni berkaitan dengan fotografi. Yang pertama adalah workshop phenakistoscope. Pada proyek ini, ia mengisi piringan dengan seri-seri foto yang kemudian diputar di hadapan sebuah cermin. Dari sana, gambar yang diam kemudian bergerak. Gerakan yang menyerupai kartun. Pada proyek kedua, Sadewa membuat eksperimentasi teknik fotografi, yaitu percobaan membuat tripod yang bisa berputar dan melihat efeknya untuk hasil foto. Sementara proyek yang kedua berkaitan dengan keinginannya menjelajah tema dan wacana. Untuk proyek ini, Sadewa memfokuskan dirinya pada kehidupan seorang penari tradisional (pemeran Rahwana) dalam pergelaran Sendratari Ramayana. Ia mencoba mendokumentasikan transformasi diri subjek dari ruang personal ke ruang publik, dari yang sehari-hari ke kehidupan panggung. Simbol, lanskap, dan arah kamera Sadewa kemudian menunjukkan sebuah persepsi dan pertanyaan tentang bagaimana tradisi dimaknai, bagaimana diri mengalami benturan dan penautan, serta bagaimana seluruh tampilan (performance) ini direpresentasikan.

Gerard Holthuis lahir di Venlo – Belanda, 1952. Ia belajar film di Free Academy di Den Haag.
Film-film Gerard menunjukkan karakter unik yang berkaitan dengan komposisinya yang merupakan perpaduan antara imaji-imaji yang biasa kita temukan dalam film dokumenter dengan imaji film seni. Kebanyakan film pendek Gerard bercerita tentang lanskap, tentang kota, tentang kesunyian. Gambar-gambar bergerak dalam film Gerard membentuk sekumpulan pertanyaan tentang subjek yang ia kerjakan. Selain bermain-main dengan tema (yang terkadang terasa sederhana dan teramat luas), Gerard banyak melakukan eksperimentasi dengan teknik, baik suara, teknik pengambilan gambar, atau peralatan yang ia gunakan. Dalam proyeknya di Yogyakarta, ia bekerja untuk dua film. Yang pertama tentang “kehidupan seniman”, dengan sudut pandang yang non-dokumenter, dan yang kedua, sebuah film feature “Hei, Joe!”, yang menawarkan pada kita untuk memberi makna baru pada arti kata “menunggu.”

Even Pendamping:

Seniman Bicara, 6 Agustus 2007, 19.30 WIB

Rahasia Keluarga

17 - 27 Juli 2007

Yoshiko Shimada

YoshikoTansu2.JPG

Yoshiko Shimada adalah seniman yang menjalani program residensi di Studio Cemeti selama Juli 2007. Yoshiko mempresentasikan proyeknya yang telah berjalan sejak 2004, Family Secrets. Dalam Family Secrets, Yoshiko menginstal laci-laci kecil (sebuah laci tradisional Jepang) yang di dalamnya pengunjung bisa menemukan rahasia dan berbagai cerita tentang relasi seorang individu dengan keluarganya. Yoshiko mentransformasikan cerita itu menjadi karya visual dengan teknik drawing dan etsa. Yoshiko juga mengajak pengunjung terlibat dalam proyek ini dengan membagi kisah mereka tentang keluarga dan ingatan masa lalu yang terasa menyakitkan dan selama ini tak ingin mereka ingat.

Yoshiko Shimada bekerja dengan berbagai teknik, terutama video dan fotografi. Ia banyak mengeksplorasi sejarah Jepang, perempuan, kekerasan, nasionalisme dan representasi ingatan. Family Secret merupakan bagian dari usahanya untuk membicarakan persoalan-persoalan tersebut dalam ranah yang lebih personal.  

Yoshiko Shimada lahir di Tokyo, 1959. Ia mempelajari secara khusus teknik etsa pada Katsuro Yoshida di Bigakko, Tokyo. Ia pernah tinggal di Berlin dan New York, serta terlibat pada beberapa pameran internasional, baik tunggal maupun kelompok.

Yoshiko mengundang Anda untuk datang ke Rumah Seni Cemeti sebelum dan selama pameran berlangsung. Bagilah rahasia keluarga yang selama ini Anda simpan dan bahkan tidak ingin Anda kenang. Yoshiko akan mentransformasikan rahasia Anda pada bentuk karya visual yang menarik! Tentu saja, rahasia di jamin!

Berkoper-koper Cerita

8 Juni - 15 Juli 2007

Hardiman Radjab

main.jpg

Tatkala menyaksikan pameran karya Hardiman di Galeri Lontar, Jakarta tahun lalu, saya terkesima pertama-tama oleh kekayaan tematika yang dijelajahinya. Dengan cepat saya terperangkap dalam ruang temaram galeri dan merasa tubuhku mengkerut di sana. Pastilah, intensitas dan daya magis koper-koper itu yang telah menghisapku begitu rupa, mengubahku jadi apa saja dan membiarkanku diusung kemana saja oleh koper-koper itu.

Lama saya tertegun di depan karya ‘Franki Menangis’. Koper itu tak henti-hentinya meneteskan air mata sehingga membuat lantai galeri menjadi basah dan terasa dingin. Karya itu terdiri dari dua bagian, yakni tayangan sebuah video tentang koper yang berpindah-pindah tempat, mengesankan bahwa dia tersesat dan tak tahu harus mengikuti arus yang mana. Yang kedua adalah sebuah koper lusuh yang digantung dengan bekas jahitan atau robekan di salah satu sudutnya. Dari celah itu air mata ‘Franki’ menetes membasahi lantai galeri, seakan ingin menghubungkan ruang pameran itu dengan pojok dunia mana pun, di mana jutaan orang di masa kini tak sanggup menemukan jalan pulang. Luar biasa sederhana, betapa magisnya, pikirku.

Koper-koper Hardiman dibangun atau ditemukan. Dia mantap memilih obyek ini, dan merasa bahwa obyek-koper cukup lebar untuk menampung wawasan, ide atau cerita karyanya lewat bentuknya yang sederhana. Lewat perburuan koper-koper lusuh itulah Hardiman mengembangkan narasi atau makna seni rupanya yang ‘berkoper-koper’. Kentalnya upaya menyusun tema dalam obyek-koper Hardiman menunjukkan kecenderungan yang berbeda dengan wacana obyek dalam seni rupa kontemporer kita akhir-akhir ini. Di sana letak kekuatan karya Hardiman menurutku. (Hendro Wiyanto).

Kisah-Kisah Tanpa Narasi

8 Mei - 3 Juni 2007

Titarubi

main.jpg

Ketimpangan dalam perekonomian dunia, yang belakangan ini semakin menajam, merupakan akibat jangka panjang dari transformasi penjajahan politik menjadi penjajahan industri. Penjajahan ini memasuki berbagai segi hidup, mulai dari bahan kebutuhan pokok seperti beras, garam, gula, hingga benda-benda rekreasi.

Titarubi tertarik untuk memasuki isu ini sejak 2005. Ia menciptakan instalasi yang insiprasinya datang dari lori—kereta pengangkut tebu—yang digunakan oleh pabrik-pabrik gula. VOC, perusahaan dagang Belanda, menjadikan industri gula sebagai salah satu “mesin uang” yang besar untuk mereka. Dari industri gula inilah masyarakat Indonesia kemudian mengenal sistem industri, terlibat dalam silang sengkarut di dalamnya, hingga sekarang tak bisa melepaskan diri dari segala kompleksitasnya.

Pada Kisah-Kisah Tanpa Narasi, Titarubi menolak menggunakan metafor “korban”. Ia menunjukkan keinginan besar dari “yang tertindas” untuk bangkit dan berdiri.

Titarubi lahir di Bandung, 1968. Belajar di Institut Teknologi Bandung. Tinggal dan berkarya di Yogyakarta.

Landing Soon # 2

22 - 28 April 2007

Ingrid Mol, Handy Hermansyah, Quinten Smith

Ingrid Mol.jpg

Ingrid Mol lahir di Wormerveer – the Netherlands, 1970 dan belajar di Royal Academy for Visual Arts, Den Haag.
Ingrid Mol bekerja dengan medium utama keramik. Dalam program residensi Landing Soon #2, Ingrid bekerja sama dengan seorang pemahat untuk membuat patung figur se-ukuran manusia terbuat dari kayu. Ia mengeksplorasi melalui patung kemungkinan-kemungkinan untuk memvisualisasikan cerita yang berangkat dari legenda atau kisah-kisah fantasi yang diciptakannya sendiri. Dengan strategi ini, selain menampilkan metafor visual, Ingrid juga memberikan ruang bagi audiens untuk mengeskplor imajinasi dan fantasi mereka, dan mencoba menembus batasan-batasan logika dan memori yang dimiliki manusia. Ingrid Mol juga banyak melasanakan proyek-proyek seni publik. Proyek seni publik inilah yang kemudian membawanya pada gagasan untuk membaca, melihat dan mengolah kembali karya-karya publik yang ia temui di kota-kota di Jawa, misalnya patung polisi di pinggir jalan, monumen-monumen dan yang lain. Patung figur kayunya juga akan dipresentasikan di ruang publik di Yogyakarta; di gardu-gardu sekitar studio Cemeti dan di sekitar Cemeti Art House.

Handy Hermansyah lahir di Kudus, Jawa Tengah, 1978 dan belajar di Jurusan Seni Rupa, Institut Teknologi Bandung.
Selama masa residensinya di Rumah Seni Cemeti, Handy Hermansyah tertarik untuk menjelajahi kemungkinan pengolahan dari objek-objek sehari-hari yang ia temui di sekitar studio. Ia sempat mengolah kursi, tumbuhan, dan sebagainya, sebelum akhirnya ia membuat patung-patung menggunakan buah-buahan, sayuran dan ikan sebagai medium berkaryanya. Ia mengolahnya ini menjadi obyek baru dengan makna yang baru. Selain bentuk visualnya yang menarik, Handy juga melihat kontradiksi yang menarik dari pemanfaatan buah sebagai material obyek: buah punya sifat kesementaraan yang mutlak, sementara persepsi umum tentang karya seni biasanya punya pretensi tentang “keabadian” yang kuat. Dalam proyek ini, Handy akan mempresentasikan karyanya dalam bentuk fotografi.

Quinten Smith lahir di De Haag, Belanda, 1969 dan belajar di Willem de Kooning Academy, Rotterdam dan Royal Academy for Visual Art di Den Haag.
Quinten Smith telah akrab dengan medium fotografi sejak usia yang belia. Belakangan Quinten lebih banyak bekerja dengan animasi sebagai mediumnya. Foto-foto yang dibuat Quinten di Indonesia menunjukkan ketertarikannya pada cara hidup dan cara melihat yang lain ketimbang yang dialaminya di Belanda. Dengan cepat, ia menangkap hal-hal yang “berbeda” dan mulai menggali cerita-cerita yang ada di balik situasi yang berbeda itu. Ia tertarik mengeksplorasi fenomena-fenomena visual yang terekam dari budaya naik motor di kalangan masyarakat Jogja, kemudian juga proses yang terjadi di sektor-sektor usaha skala rumah tangga yang dalam pandangan Quinten tidak lagi ia temui di masyarakat “Barat”. Melalui karya fotografinya, Quinten tertarik membuat bentuk animasi dari lanskap-lanskap alam yang dibuat manusia, seperti lembah, sawah, dan sebagainya. 

Masa Lalu Masa Lupa

7 - 19 April 2007

Enam Seniman Indonesia Merefleksikan Sejarah Indonesia 1930 - 1960

Agus Suwage, Eko Nugroho, Irwan Ahmett, Prilla Tania, Wimo Ambala Bayang, Yuli Prayitno

exhibition_view_1.jpg

Pameran ini merupakan pameran penutup dari seri pameran “Masa Lalu Masa Lupa” yang kami selenggarakan sepanjang 2006 yang lalu. Tema ini menunjukkan usaha untuk mempopulerkan pendekatan yang kritis terhadap sejarah, baik sebagai basis penciptaan karya maupun sebagai gagasan kuratorial. Para seniman mempertanyakan kembali kepercayaan kita terhadap apa yang selama ini ditunjuk sejarah sebagi kebenaran. Proyek pameran kali ini berangkat dari program penelitian “Indonesia across Orders” yang diinisiasi oleh The Netherlands Institute for War Documentation, diikuti 13 peneliti dari Universitas Gadjah Mada. Penelitian ini memberikan wawasan mendalam yang baru tentang akibat perang, revolusi dan dekolonisasi untuk berbagai kelompok populasi di Indonesia sejak kurun 1930an hingga 1960an.

Kami mengundang Agus Suwage, Eko Nugroho, Irwan Ahmett, Prilla Tania, Wimo Ambala Bayang dan Yuli Prayitno untuk berdiskusi dan berkomunikasi dengan para peneliti, saling bertukar data dan mengelaborasi gagasan. Para seniman juga melakukan riset di situs-situs sejarah yang dirujuk dalam penelitian, melihat keterkaitan antara peristiwa-peristiwa masa lampau dengan apa yang terjadi di masa kini.

Pameran ini mempresentasikan cara pandang yang beragam tentang pergulatan untuk “Menjadi Indonesia”. Kisah-kisah personal berbaur dengan fakta-fakta formal untuk menunjukkan bagaimana situasi kolonial menjadi bagian besar dalam usaha membentuk identitas Indonesia tersebut. Melalui bentuk-bentuk visual yang dihasilkan para seniman, kita belajar lagi untuk mengingat dan merefleksikan masa lalu, dan bersama-sama, melawan lupa.

Industrial Fiesta

3 Maret - 1 April 2007

Angki Purbandono

anti_pregnant.jpg

Angki Purbandono, pada September 2005 - September 2006 menjalani program residensi jangka panjang di Changdong Art Studio, Seoul Korea Selatan. Selama setahun, ia merasakan pengalaman menjadi warga di negeri yang baru. Ia mengakrabi sudut-sudut kota di Korea, terbiasa dengan berbagai jenis makanan di negeri gingseng itu, bercakap dan menyapa orang dengan bahasa Korea sehari-hari. Ia menyerap peristiwa dan makna-makna baru.

Industrial Fiesta menunjukkan serapan Angki tentang bagaimana masyarakat merayakan kemajuan industri, yang kemudian secara simultan mendorong berbagai kemajuan di segala bidang kehidupan.

Di Korea, Angki melanjutkan eksplorasinya tentang sampah, proyek yang telah dimulainya sejak lama di Indonesia. Angki tertarik mengeksplorasi “apa yang dianggap penting untuk disimpan” dan “apa yang sudah seharusnya dibuang” melalui barang-barang yang ia temui di sepanjang jalan. Ia menggunakan teknik scanning untuk mempraktikkan pendekatan “fotografi tanpa kamera”. Ia percaya bahwa praktik merekam, yang menjadi esensi fotografi, bisa dilakukan dengan berbagai medium teknologi. Ia mencoba mencari kemungkinan lain dalam menghasilkan imaji digital, tetapi tidak dengan kamera.

Angki Purbandono belajar di jurusan Fotografi Fakultas Seni Media Rekam, Institut Seni Indonesia. Tinggal dan berkarya di Yogyakarta.

Presentasi dan program artist’s talk: 15 Maret 2007, 19.00

Pameran Kartun Asia ke-10

Ragam Isu Lingkungan Hidup di Asia

10 - 26 Februari 2007
kartun_1.jpg

The Japan Foundation menyelenggarakan Pameran Kartun Asia setiap tahun sejak 1995, untuk memperkenalkan masyarakat Asia, budaya serta juga kehidupan mereka dari berbagai perspektif. Tema kali ini adalah “Ragam Isu Lingkungan di Asia” yang tidak saja menjadi masalah untuk negara Asia saja tetapi juga menjadi masalah dan tanggung jawab dunia. Pameran ini menampilkan 77 karya 10 kartunis dari 10 negara di Asia.

Workshop kartun GRATIS
Max 25 orang / kelas
Umum : 7 - 9 Februari
Siswa SMU : 23 - 25 Februari

Pemateri :

  • Bambang Toko Wicaksono
    seniman komik / dosen ISI Yogyakarta
  • Kuss Indarto
    Kurator / mantan karikaturis Bernas
  • Terra Bajraghosa
    seniman/ Ilustrator / komikus
  • Eko Nugroho
    seniman / ilustrator / komikus
  • Ismail
    ilustrator / komikus untuk KOMPAS

Landing Soon #1

24 - 31 Januari 2007

Angki Purbandono, Lieven Hendricks, Sara Nuytemans, Arya Pandjalu

even_Hendricks__Sara_Nuytemans__Arya_Panjalu.jpg

Angki Purbandono  seniman yang tinggal di Yogyakarta dan bekerja dengan fotografi. Dalam tiga bulan proyek ini, dia mengembangkan ide untuk mengumpulkan foto-foto kuno hitam putih. Mondar-mandir ke pasar Bringhardjo dan pasar-pasar loak, memburu foto-foto kuno itu dan mulai mengelompokkan. Beberapa ‘image’ yang terseleksi ditransfer menjadi neon box yang terinspirasikan dari image setting tersebut. Angki juga mencoba menghubungi orang-orang yang berada di dalam foto-foto itu, dan menemukan seseorang yang kemudian ia wawancarai.
Selama residensi berlangsung ia juga memberi workshop kepada mahasiswa dan murid sekolah menengah, bagaimana membuat foto (digital images) dengan teknologi scanning daripada sekedar belajar memotret.

Arya Pandjalu  seniman tinggal dan bekerja di Yogyakarta. Ide Arya muncul dengan mengumpulkan roda, mentransformasikannya menjadi  kendaraan mainan yang berukuran lebar di belakang. Menggunakan kulit ban yang diukir seperti ‘lino cut’  ia memasang lembaran karet itu pada seluruh roda belakang.
Saat kendaraan itu dijalankan akan menghasilkan cetakan sablon di atas permukaan jalan. Bersepeda sekaligus beraksi sepanjang jalan-jalan di Yogyakarta, Arya menyablonkan kalimat untuk mengingatkan para pemakai jalan agar mengurangi kecepatan dan lebih selamat.

Lieven Hendrik adalah seorang seniman perupa tinggal di Amsterdam, melukis secara sangat realistik sehingga pada saat yang sama menjadi abstrak. Obyek-obyak pada karyanya ditemukan apa adanya di sekitar studio dan jalan jalan seputar alun-alun selatan Yogyakarta. Sampah, seonggok beton blok, cuilan sisa sisa rumah yang hancur karena gempa, paku di tembok dan seruas bambu. Obyek-obyek terlihat dan dilihat sebagai patung memang dipilih dengan sangat teliti oleh Lieven dari aspek ilusi dan dramatisnya.

Sara Nuytemans, seniman perupa tinggal dan bekerja di Den Haag, tergoda untuk mengolah tegangan antara kebenaran obyektif dan yang pribadi, pemahaman intuitif dan analisa logis. Pada karya-karya instalasinya, ia menyatukan tingkatan realitas yang berbeda-beda dengan cara menciptakan interaksi antara dunia virtual dan dunia wadag. Wujud dari gabungan realitas ini merupakan pengalaman akan munculnya batas-batas pemahaman. Selama program residensi di Yogyakarta, Sara menciptakan instalasi video yang ‘site specific’, obyek-obyek mekanik; sebagai reaksi dan interaksi dengan lingkungan sekitarnya; misalnya suara adzan masjid.

art space Jogjakarta, Jompet indonesia, proyek seni Jogja, landing soon indonesia, exhibition indonesia, Agus Suwage Yogyakarta, Agus Suwage Jogjakarta, video art indonesia, rumah seni, indonesia, pertukaran indonesia, Eko Nugroho Yogyakarta, Bunga Jeruk Jogja, new art Yogyakarta, Wimo Ambala Bayang indonesia, seniman asia Jogjakarta, Handiwirman Jogja, art books Jogjakarta, seni rupa modern Jogjakarta, Jompet Yogyakarta, lukisan Jogjakarta, Krisna Murti Jogjakarta, Mella Jaarsma Jogjakarta, Eko Nugroho Jogjakarta, art works Jogja, Asian artists Jogja, indonesian art Jogja, seni instalasi Yogyakarta, Galeri Jogja, Handiwirman Jogjakarta, Mella Jaarsma Yogyakarta, installations indonesia, visual arts Jogja, emerging artists Jogja, photography indonesia, pertukaran Yogyakarta, Anusapati Yogyakarta, indonesia, gerakan seniman muda Jogja, cemeti Jogja, seniman asia indonesia, Asian art Jogja, landing soon Jogja, Terra Bajraghosa Yogyakarta, exhibition Jogja, pameran indonesia, Jogjakarta, paintings Yogyakarta, Seni Rupa Jogjakarta, Terra Bajraghosa Jogjakarta, Jompet Jogja, Christine Ay Tjoe Jogja, Handiwirman indonesia, photography Jogjakarta, tren baru Jogjakarta, art books indonesia, art space Jogja, art discours Jogja, Bunga Jeruk Jogjakarta, Seni Rupa kentemporer Yogyakarta, seni kontemporer Jogjakarta, exhibition Yogyakarta, fine art Yogyakarta, art indonesia, patung Jogjakarta, gallery Jogja, seni instalasi Jogja, rumah seni, photography Yogyakarta, S. Teddy D. Jogja, seniman asia Jogja, indonesian art Jogjakarta, FX Harsono Yogyakarta, pertukaran Jogja, modern art Jogja, Muyono Jogjakarta, Galeri Yogyakarta, Agus Suwage Jogja, gallery indonesia, art space indonesia, new art trends Yogyakarta, cemeti Jogjakarta, exhibition Jogjakarta, project indonesia, Mella Jaarsma indonesia, cemeti Jogjakarta, drawings indonesia, art residency indonesia, fine arts Jogjakarta, seni kontemporer Yogyakarta, Melati Suryodarmo Jogjakarta, patung Jogja, cemeti Yogyakarta, Tita Rubi indonesia, Ruang Seni Jogja, seniman asia Yogyakarta, fotografi Yogyakarta, new art indonesia, Seni Rupa kentemporer indonesia, fine art Jogja, project Yogyakarta, installation art Yogyakarta, Muyono Jogja, fotografi Jogjakarta, new art trends Jogjakarta, visual arts Yogyakarta, installation art Jogja, fotografi Jogja, Melati Suryodarmo indonesia, Anusapati indonesia, gambar Jogja, Terra Bajraghosa indonesia, indonesia, art house indonesia, gallery Yogyakarta, Asian artists Yogyakarta, project Jogjakarta, Ugo Untoro indonesia, Mella Jaarsma Jogja, art discourse indonesia, seni kontemporer Jogja, art books Jogja, rumah seni, video art Jogja, art works Yogyakarta, Eko Nugroho indonesia, wacana seni rupa indonesia, seni rupa asia Jogja, landing soon Jogjakarta, Krisna Murti Yogyakarta, project Jogja, Ugo Untoro Yogyakarta, Popok Tri Wahyudi Yogyakarta, Galeri indonesia, seni rupa modern indonesia, art space Yogyakarta, Asian artists indonesia, art house Jogja, art house Jogjakarta, proyek indonesia, proyek seni indonesia, Eko Prawoto Yogyakarta, contemporary art Yogyakarta, drawings Jogjakarta, katalog Jogjakarta, art exchange indonesia, Krisna Murti indonesia, emerging artists Jogjakarta, visual arts indonesia, cemeti Yogyakarta, installations Jogja, art books Yogyakarta, indonesian art indonesia, emerging artists indonesia, Christine Ay Tjoe Yogyakarta, fine art indonesia, Nindityo Adipurnomo, proyek seni Jogjakarta, Asian art Yogyakarta, Eko Prawoto indonesia, Tita Rubi Jogja, Jompet Jogjakarta, gambar indonesia, Muyono Yogyakarta, modern art Jogjakarta, Muyono indonesia, Eko Nugroho Jogja, art residency Jogja, FX Harsono Jogja, art discours Jogjakarta, Ruang Seni Yogyakarta, indonesian art Yogyakarta, new art trends indonesia, Handiwirman Yogyakarta, wacana seni rupa Jogjakarta, Angki Purbandono Jogja, photography Jogja, Yogyakarta, cemeti Jogja, Angki Purbandono Jogjakarta, video art Jogjakarta, installation art Jogjakarta, paintings Jogja, new art Jogjakarta, indonesia, fine arts indonesia, cemeti indonesia, catalogues Jogja, buku seni indonesia, art discours Yogyakarta, art projects Jogjakarta, pertukaran Jogjakarta, emerging artists Yogyakarta, Nindityo Adipurnomo, buku seni Jogja, Jogja, Anusapati Jogja, Melati Suryodarmo Yogyakarta, art residency Jogjakarta, art projects indonesia, Seni Rupa kentemporer Jogja, seni instalasi Jogjakarta, catalogues Jogjakarta, Christine Ay Tjoe Jogjakarta, fine arts Yogyakarta, Seni Rupa Jogja, Ruang Seni Jogjakarta, rumah seni, art works indonesia, fine art Jogjakarta, seniman muda Jogjakarta, sculptures Jogjakarta, Ugo Untoro Jogjakarta, Jogja, sculptures indonesia, buku seni Jogjakarta, pameran Jogjakarta, drawings Jogja, art Yogyakarta, catalogues Yogyakarta, tren baru Jogja, Ugo Untoro Jogja, fine arts Jogja, paintings indonesia, new art trends Jogja, Ruang Seni indonesia, Angki Purbandono indonesia, seni rupa asia indonesia, Popok Tri Wahyudi indonesia, Nindityo Adipurnomo, seni rupa modern Jogja, seni rupa asia Jogjakarta, Popok Tri Wahyudi Jogja, art Jogja, sculptures Jogja, gambar Jogjakarta, Bunga Jeruk Yogyakarta, gambar Yogyakarta, proyek Jogja, Wimo Ambala Bayang Jogja, Eko Prawoto Jogja, contemporary art Jogja, modern art indonesia, art house Yogyakarta, katalog indonesia, drawings Yogyakarta, instalasi Jogjakarta, Bunga Jeruk indonesia, seni rupa asia Yogyakarta, buku seni Yogyakarta, proyek seni Yogyakarta, contemporary art Jogjakarta, installations Jogjakarta, Angki Purbandono Yogyakarta, Tita Rubi Jogjakarta, contemporary art indonesia, seniman muda Jogja, paintings Jogjakarta, installations Yogyakarta, gerakan seniman muda, instalasi Jogja, proyek Yogyakarta, Agus Suwage indonesia, art exchange Jogjakarta, landing soon Yogyakarta, seniman muda Yogyakarta, pameran Yogyakarta, instalasi indonesia, S. Teddy D. indonesia, S. Teddy D. Jogjakarta, gerakan seniman muda Yogyakarta, FX Harsono Jogjakarta, visual arts Jogjakarta, katalog Yogyakarta, art exchange Yogyakarta, Terra Bajraghosa Jogja, Jogjakarta, Asian artists Jogjakarta, Seni Rupa Yogyakarta, art Jogjakarta, fotografi indonesia, Krisna Murti Jogja, gerakan seniman muda Jogjakarta, catalogues indonesia, Yogyakarta, Wimo Ambala Bayang Yogyakarta, patung Yogyakarta, lukisan indonesia, new art Jogja, Seni Rupa kentemporer Jogjakarta, wacana seni rupa Jogja, modern art Yogyakarta, tren baru Yogyakarta, lukisan Yogyakarta, seni instalasi indonesia, patung indonesia, Galeri Jogjakarta, FX Harsono, installation art indonesia, Wimo Ambala Bayang Jogjakarta, lukisan Jogja, art exchange Jogja, Anusapati Jogjakarta, seniman muda indonesia, Seni Rupa indonesia, tren baru indonesia, Melati Suryodarmo Jogja, wacana seni rupa Yogyakarta, sculptures Yogyakarta, art projects Yogyakarta, proyek Jogjakarta, Tita Rubi Yogyakarta, pameran Jogja, Popok Tri Wahyudi Jogjakarta, S. Teddy D. Yogyakarta, art works Jogjakarta, seni rupa modern Yogyakarta, seni kontemporer indonesia, katalog Jogja, art projects Jogja, Asian art Jogjakarta, Nindityo Adipurnomo, gallery Jogjakarta, Eko Prawoto Jogjakarta, cemeti indonesia, art residency Yogyakarta, instalasi Yogyakarta, video art Yogyakarta, Asian art indonesia, Christine Ay Tjoe indonesia