Pameran Tahun 2006

Open Studio: Grafis Minggiran

15 - 31 Desember 2006

Rumah Grafis Minggiran

Cemeti Art House & ViaVia Cafe

Rumah Grafis Minggiran berdiri pada tanggal: 1 September 2001 dalam sebuah pameran bersama seni grafis berjudul “Cerita-cerita” di Gelaran Budaya, Yogyakarta. Dari pameran dan workshop bersama ini, timbullah ide untuk menyatukan dan bekerja bersama dalam usaha pengembangan seni grafis dan produksi seni lainnya.

Anggota Studio Grafis Minggiran adalah beberapa mahasiswa seni dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Aktivitas utama Studio Grafis Minggiran adalah menyediakan ruang dan fasilitas kerja bagi para seniman, khususnya yang bekerja dengan teknik grafis. Studio Grafis Minggiran juga bekerja untuk membangun jaringan di antara para seniman grafis di Yogyakarta, bahkan dengan studio grafis yang ada kota-kota lain.

“Open Studio: Grafis Minggiran” merupakan rangkaian kegiatan yang bertujuan untuk membuka kembali wacana tentang seni grafis, terutama dalam konteks seni cetak digital yang mulai menjadi gerakan arus utama dalam praktik seni kontemporer. Dalam aktivitas pameran di Rumah Seni Cemeti, Studio Grafis Minggiran akan mengundang pengunjung untuk mengalami suasana “studio kerja.” Mereka memindahkan ruang studio ke ruang pamer, tak cuma perangkatnya, namun juga aktivitas mereka. Pameran di Via-via Kafe akan menampilkan karya-karya yang siap diapresiasi publik.

Sebagai side-event pameran, untuk mempopulerkan medium grafis di kalangan seniman visual, Studio Grafis Minggiran menyelanggarakan workshop yang akan diikuti para perupa yang selama ini tidak bekerja dengan medium grafis. Pengunjung diundang untuk hadir dan menikmati proses kreatif para seniman!

Jadwal acara

  • 14 - 21 Desember
    Workshop Intaglio di Cemeti Art House, pukul 11.00 - 16.00
  • 22 Desember
    Diskusi 'Studio Grafis sebagai pengembangan infrasrtuktur Seni Rupa' pembicara Devy Ferdiyanto & Edie Prabandono di Cemeti Art House, pukul 15.00 - 17.00.

TRIBUTE

9 November - 12 Desember 2006

Wedhar Riyadi dan Eko Didyk Sukowati (Codit)

Dua seniman muda ini membiarkan karya-karya mereka terinspirasi oleh pentas musik; Punk, Rock ‘n Roll dan sebagainya. Wedhar tergila-gila pada musik periode enampuluhan dan tujuhpuluhan, selebihnya secara khusus pada gerakan ‘phischadelic’. Codit lebih mengarah pada satu grup sebagai obsesinya; Raymon.

Tidak hanya musik yang mereka sukai namun lebih pada penampilan total dengan gerakan spesifik, gaya rambut dan pakaiannya.

Di pameran ini Wedhar dan Codit berkolaborasi membuat karya mural yang besar. Karya yang lain dikerjakan secara individual; komik, drawing, fotokopi, lukisan dan kolase.

Codit: “Meng-kolase-kan visual dengan memotong-motong obyek dan menempelkannya pada obyek lain adalah esensi pengaruh yang besar dari karya punk hingga memilih kolase sebagai gaya berkarya. Bahwa punk identik dengan kolase. Membuat kolase bagi saya layaknya sebuah kehidupan dari bermacam-macam esensi. Saya juga memaknai, bahwa belajar dari kehidupan ini adalah proses peng-kolase-an diri antara individu dengan lingkungan di luar individu tersebut”. Eko Didyk Sukowati (Codit) lahir di Tegal tahun1977. Wedhar Riyadi lahir di Yogyakarta pada 1980 dan dua-duanya belajar di Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.

Mereka juga bermain dalam band “Belajar membunuh” dan kelompok ini menciptakan lagu-lagu sendiri dengan alasan bahwa mereka belum cukup pintar secara teknis untuk memainkan lagu orang lain. Kelompok band ini akan main pada pembukaan!

MASA LALU - MASA LUPA IV

MATAHARIKU-MATAHARIMU

6 - 31 Oktober 2006

Seniman Jakarta

Dalam wadah sejarah ‘MASA LALU MASA LUPA’, tema yang merangkum seluruh program kuratorial Rumah Seni Cemeti untuk bulan Juli sampai dengan Desember 2006 ini; ‘Matahariku-Mataharimu’ merupakan rekayasa konstruksi pendekatan kuratorial secara khusus atas para seniman dari berlapis generasi tiga kota di Jawa; Yogyakarta, Bandung dan Jakarta.

Rekayasa pendekatan ini mempercayai tesis bahwa seniman dengan seluruh kompleks pembentukannya, baik secara sosial intelektual, artistik individual, politis etis, harus bisa menyumbangkan perspektif pendekatan khas yang akan memperkaya ranah sejarah secara menyeluruh. Betapapun cairnya profesi sosial seniman dalam masyarakat, namun seringkali dilihat sebagai indikator penting dalam arus perubahan budaya masyarakatnya secara luas. Untuk alas an ini maka seniman-seniman ini dilibatkan dalam proyek/pameran dengan tema sejarah.

Tentu saja ke semua seniman perupa dari lapis generasi ketiga kota ini bukan serta merta sebuah ‘representasi’ atas keragaman analisis, pemahaman dan ungkapan seni tentang ‘sejarah’, melainkan sebagai sebuah ‘proyek perintis’ kesenian dan sosial; pendekatan kuratorial ini diharapkan menjadi inspirasi ‘bola salju’ bagi kerja-kerja kesenian di Indonesia secara luas.

Presentasi, gelar dan pameran ‘matahariku-mataharimu’ dari para seniman lapis generasi kota Jakarta ini mengungkap seluruh proses kerja kreatif para seniman, baik analisisnya, gagasannya, fantasinya, ungkapannya, interaksi dan kreasinya dalam berbagai macam media yang membantu menguji atau mengukuhkan keyakinan kita akan fungsi sosial seni rupa.

Fx. Harsono (lahir 1949), Erik Prasetyo (lahir 1958), Indra Ameng (lahir 1974) dan Paul Agusta (lahir 1980) adalah para seniman dan perupa yang meniti dan mengembangkan karier keperupaannya di Jakarta.

JEDA

27 September - 3 Oktober 2006

Fotografi Forum Lenteng

Jeda adalah sebuah pertanyaan tentang memori yang dilihat dengan medium fotografi. Penjelajahan biografis dan sosial yang direkam kembali untuk mempertemukan kita dengan: diri/privat, ruang-ruang, keterasingan, serta tanda-tanda universal. Setiap individu memiliki proses ini dalam hidupnya. Proses untuk berpikir ke belakang, sekarang, dan ke depan. Jeda adalah proses untuk berhenti dan berpikir sejenak.

Pada proyek Jeda selama delapan bulan ini (dimulai bulan November 2005), Forum Lenteng mencoba menelusuri memori masing-masing partisipan. Memori subjektif berupa apa saja yang memungkinkan direkam kembali. Setiap individu mempunyai catatan yang berserakan dalam pikiran masing-masing.

Seniman yang terlibat: Agung Natanael, Andang Kelana, Andy Rahmatullah, Ardy Widi Yansah, Bagasworon Aryaningtyas, Eko Yulianto, Hafiez M. Pasha, Herman Syahrul, Mahardika Yudha, Maulana M. Pasha, Muhamad Gunawan Wibisono, Syaiful Anwar, Wachyu Ariestya Permana, Otty Widasari, Hafiz (kurator).

MASA LALU - MASA LUPA III

MATAHARIKU-MATAHARIMU

3 - 24 September 2006

Bandung Artists

Dalam wadah sejarah ‘MASA LALU MASA LUPA’, tema yang merangkum seluruh program kuratorial Rumah Seni Cemeti untuk bulan Juli sampai dengan Desember 2006 ini; ‘Matahariku-Mataharimu’ merupakan rekayasa konstruksi pendekatan kuratorial secara khusus atas para seniman dari berlapis generasi tiga kota di Jawa; Yogyakarta, Bandung dan Jakarta.

Rekayasa pendekatan ini mempercayai tesis bahwa seniman dengan seluruh kompleks pembentukannya, baik secara sosial intelektual, artistik individual, politis etis, harus bisa menyumbangkan perspektif pendekatan khas yang akan memperkaya ranah sejarah secara menyeluruh. Betapapun cairnya profesi sosial seniman dalam masyarakat, namun seringkali dilihat sebagai indikator penting dalam arus perubahan budaya masyarakatnya secara luas. Untuk alas an ini maka seniman-seniman ini dilibatkan dalam proyek/pameran dengan tema sejarah.

Tentu saja ke semua seniman perupa dari lapis generasi ketiga kota ini bukan serta merta sebuah ‘representasi’ atas keragaman analisis, pemahaman dan ungkapan seni tentang ‘sejarah’, melainkan sebagai sebuah ‘proyek perintis’ kesenian dan sosial; pendekatan kuratorial ini diharapkan menjadi inspirasi ‘bola salju’ bagi kerja-kerja kesenian di Indonesia secara luas.

Presentasi, gelar dan pameran ‘matahariku-mataharimu’ dari para seniman lapis generasi kota Bandung ini mengungkap seluruh proses kerja kreatif para seniman, baik analisisnya, gagasannya, fantasinya, ungkapannya, interaksi dan kreasinya dalam berbagai macam media yang membantu menguji atau mengukuhkan keyakinan kita akan fungsi sosial seni rupa.

Sunaryo (lahir 1943), Tisna Sanjaya (lahir 1958), R.E. Hartanto (lahir 1973) dan Prilla Tania (lahir 1979) adalah para seniman dan perupa yang meniti dan mengembangkan karier keperupaannya di kota Bandung.

Proyek Masa Lalu Masa Lupa #2: MATAHARIKU MATAHARIMU

MUSEUM SUKRODIMEJO

7 - 27 Agustus 2006

Agung Kurniawan, Agus Suwage, Maryanto, Lian Sahar

Sukro Dimejo: Pahlawan atau Jahanam?
Masa Lalu Masa Lupa, Masa Sekarang Saat Mengenang


Catatan awal tentang Sukro Dimejo (Soekro Dimedjo) bisa ditemukan dalam Javasche Courant, 2-October- 1863. Sukro Dimejo (SD) bisa jadi pada waktu itu lebih dikenal dengan sebutan Mas Pungut. Tokoh ini diberitakan telah ditembak mati oleh pemerintah Belanda karena terlibat dalam peristiwa kerusuhan sosial di Banten pada tahun 1862. Mas Pungut yang waktu itu mengaku sebagai kerabat Sultan Banten dan anak dari Mas Jakaria (seorang pemberontak yang disegani di Banten) dituduh menghasut rakyat untuk melakukan pemberontakan di Cilangar, Banten. Sejarahwan/ti melihat tokoh ini secara mendua. Sebagian diantaranya melihat tokoh ini semata-mata fiksi tapi ada juga yang berpendapat tokoh ini nyata, bahkan turut aktif dalam beberapa peristiwa penting di beberapa daerah di Jawa pada pergantian abad ke 20. Tidak itu saja sampai saat ini di daerah pesisir Banten nama ini masih sering disebutkan dalam beberapa cerita rakyat sebagai seorang tokoh yang baik --semacam Si Pitung kalau di Jakarta. SD terlacak secara nyata pada beberapa peristiwa lain salah satunya adalah peristiwa penangkapan Pangeran Diponegoro. Keberadaan tokoh ini bisa dilacak (meskipun secara samara) dalam lukisan yang dibuat oleh Raden Saleh, Penangkapan Pangeran Diponegoro.
Sejarahwan/ti selalu mengaitkan kemunculan SD dengan peristiwa-peristiwa sejarah yang bersifat mesianistik. Dia seringkali ditengarai sebagai peletak jalan bagi munculnya Ratu Adil. Sartono Kartodirdjo dalam bukunya Pemberontakan Petani Banten 1888, menyebutkan situasi sosial yang berubah karena masuknya pengaruh asing (barat) telah mengguncang tatanan sosial mapan yang sebelumnya telah terbentuk selama bertahun-tahun. Situasi ini menyebabkan situasi kritis yang sering kali memunculkan tokoh-tokoh mesianistik yang mengisi hilangnya tokoh hero tradisional dalam masyarakat oleh karena pembaratan. SD selalu muncul dalam situasi transisi antara jaman lama dan jaman baru. Yang menjadi persoalan di kubu manakah tokoh ini berpihak; kolonialisme Belanda atau orang-orang Jawa?
Cemeti Art House menggandeng empat seniman, Agung Kurniawan, Agus Suwage, Maryanto dan Lian Sahar untuk bekerja memvisualisasikan sejarah yang berkaitan dengan tokoh SD. Ruang pamer Cemeti Art House akan selama bulan Agustus akan menjadi tuan rumah dari kerja kolaborasi antara Keluarga Besar Sukrodimejo dan empat seniman ini. Para seniman bekerja mewujudkan imaji-imaji visual berdasarkan riset yang mereka lakukan tentang SD.
Sungguh menarik jika kita mulai kembali menelaah secara kritis tentang keberadaan tokoh ini. Dan usaha itu tentunya bisa dimulai dari mana saja, salah satunya melalui metode Speculative History. Speculative history menelaah kejadian, tokoh, dan perilaku masyarakat pada masa lampau lewat pendekatan sejarah yang longgar, kualitatif dan dipenuhi dengan dugaan-dugaan logis-rasional. Metode ini tentu saja tidak dapat diterapkan sebagai satu-satunya jalan untuk mendekati sejarah, tetapi sebagai sebuah pendekatan alternatif metode ini bisa diterapkan, dengan tentunya beberapa prasyarat tertentu. Pendekatan ini diharapkan dapat menghasilkan sebuah cara pandang yang berbeda dengan sejarah utama. Selain itu metode ini memungkinkan untuk melihat seorang tokoh penting dalam khasanah sejarah Indonesia yang dilupakan secara lebih terbuka dan modest.

Masa Lalu - Masa Lupa I

Kampung Juminahan

14 - 30 Juli 2006

KUNCI Cultural Studies dan Sanggar Watulunyu

Warga Kampung Watulunyu, Juminahan, dengan fasilitasi KUNCI Cultural Studies Center dan Sanggar Watulunyu, mulai Agustus 2005 menyelenggarakan program penyusunan sejarah kampung Juminahan.

Dengan program ini, diharapkan mereka bisa mendorong upaya “melek sejarah kampung” dan menjadikan warga kampung sebagai penyusun sejarahnya sendiri; mempererat hubungan antargenerasi dan antargolongan warga kampung; mendokumentasikan kekayaan kampung (material, budaya, dan pengetahuan kampung) guna mendorong kemandirian dan inisiatif kampung dalam menghadapi persoalan-persoalan masa kini; menumbuhkan kebanggaan warga kampung, terutama para pemuda kampung, terhadap identitas kampungnya.

Program ini diawali dengan kegiatan belajar bersama tentang sejarah lisan dan sejarah partisipatif, lalu dilanjutkan pengumpulan informasi yang melibatkan seluruh warga kampung. Beberapa kegiatan yang dilakukan dalam tahap pengumpulan informasi ini, misalnya para pemuda mempelopori diadakannya lomba foto lawasan Juminahan, reuni orang-orang tua yang berusia di atas 60 tahun untuk saling bercerita tentang berbagai hal berkaitan dengan masa lalu kampung, dan sebagainya.

Pameran ini diadakan untuk menunjukkan budaya visual orang biasa dan menunjukkan peran budaya visual dalam kehidupan sosial di Indonesia.

Presentasi

Box of Heaven and Bamboo Shrine

5 - 31 Mei 2006

Eko Prawoto & Cemeti Art House (Eko Nugroho, Popok Wahyudi, Arie Dyanto, Terra Bajraghosa)

Anyang Public Art Project 2005, South Korea

Anyang Public Art Project (APAP), merupakan satu dari bentuk-bentuk pendekatan proyek pembangunan urban di sebuah resort, Anyang, kota urban pinggiran Seoul. Anyang adalah bahasa Korea untuk ‘Kebahagian sempurna’ (Perfect Bliss) atau ‘Utopia’ dalam istilah para pemeluk Budha. Otoritaris lokal dan kapital adalah modal utama sekaligus model pendekatan pembangunan budaya yang dipercayai mengokohkan nilai-nilai ‘human life’, ‘natural life’, dan ‘geological life’ sejak Korea terbebaskan dari terpusatnya pemerintahan tahun 1995.

Dengan daya dan ambisi besar Anyang Resort ditransformasikan menjadi ‘Resort Lembah Seni’ yang melibatkan para arsitek, seniman dan desainer internasional. Membangun 50 karya permanen seperti, exhibition hall, street furniture, watching tower dan tidak ketinggalan juga karya seni temporer serta menggelar pameran tren baru arsitektur.

Rumah Seni Cemeti dan Eko Prawoto diundang berpartisipasi dalam forum menarik ini. Pameran presentasi keduanya di Rumah Seni Cemeti ini menguak dokumentasi proses gagasan dan realisasi Eko Prawoto (arsitek individu) dalam ‘Bamboo Shrine’, kerja kolaborasi seni di ruang publik Eko Nugroho, Popok Triwahyudi, Ari Dyanto dan Terra Brajaghosa pada ‘A Box of Heaven’ yang dimotori oleh Rumah Seni Cemeti. Karya dan bahan yang dipamerkan meliputi dokumentasi digital, cetak digital, sketsa, maket, desain komik, poster, brosur, catalog dan sebagainya.

Robotgoblokism

7 - 30 April 2006

Terra Bajraghosa

Terra Bajraghosa bekerja dengan semangat “kooptasi” terhadap karya orang lain. Aliah-alih menjadi hal yang negatif, kooptasi ini menjadi modus yang produktif untuk proses kreatifnya. Ia biasa mengolah karya atau benda yang sudah ada, kemudian menjadikannya sebagai karya baru yang menarik. Dengan cara tertentu, penyikapannya ini bisa dilihat sebagai sebentuk resistensi terhadap konsep orisinalitas dan kebaruan yang sudah mapan dalam sejarah seni rupa modern. Sebagai bagian dari generasi yang lahir pada zaman berlimpahnya citra visual, Terra dengan rajin memunguti tebaran imaji-imaji dari pelbagai media: televisi, majalah, iklan luar ruang, desain web, poster, dan sebagainya, kemudian menjadikannya sebagai pijakan bagi proses berkaryanya. Dengan cara pengolahan yang unik terhadap imaji tersebut, karya-karya yang dihasilkannya membawa audiens pada perasaan dekat dan akrab. Terra ingin membuat para pengunjung mendapatkan pengalaman jelajah visual dengan asyik, masuk ke imaji satu menuju imaji lain.

Terra mempunyai ketertarikan yang besar pada komik sebagai medium kreatif. Secara aktif, ia menampilkan karyanya sebagai ilustrasi buku, komik panel, dan video animasi. Di sela kesibukannya sebagai seniman individual, ia bergiat pula dalam komunitas The Daging Tumbuh.

Terra Bajraghosa lahir di Yogyakarta, 1980 dan belajar di ISI Yogyakarta, jurusan Disain Komunikasi Visual.

Kesendirian di Perbatasan

8 - 31 Maret 2006

Melati Suryodarmo

Sebagai seniman performans, Melati Suryodarmo percaya bahwa tubuh adalah bagian yang elementer dari konsep karyanya. Sebuah medium untuk menkonkritkan gagasannya. Melalui karya-karyanya, secara intens ia membaca keterkaitan antara tubuh, jiwa dan pikiran manusia. Tubuh menjadi proyeksi atas situasi psikologis dan kompleksitas gagasan manusia.

Karya Melati Suryodarmo selalu berangkat dari peristiwa dan pengalaman personalnya. Karenanya, ia banyak menggunakan benda fungsional yang biasa dipakai dalam kehidupan sehari-hari sebagai medium pendukung bagi performansnya. Dengan benda dan tubuhnya, ia bercerita pada publik tentang caranya memandang dunia. “Menurut banyak orang, cara saya memperlakukan benda dan tubuh tampak ekstrem. Tapi justru itu, cara ini membantu saya menyampaikan gagasan personal kepada banyak orang dengan impresi yang kuat.”

Melati Suryodarmo lahir di Surakarta, 1969. Sekarang tinggal di Braunschweig, Jerman. Selepas pendidikannya di FISIP Universitas Padjajaran, Bandung, ia belajar performance art di Hochschule fur Bildende Kunste, Braunschweig. Dari sana, ia membangun karirnya sebagai seniman performans. Ia terlibat dalam berbagai proyek menarik. Salah satunya, performans yang dilakukannya di Van Gogh Museum di Amsterdam, berkolaborasi dengan Marina Abramovic. Selain melakukan performans, ia juga membuat karya-karya instalasi dan video.

My Truth, Day by Day

17 - 31 Januari 2006

Shigeyo Kobayashi

Karya-karya yang dipamerkan oleh Shigeyo Kobayashi kali ini merupakan proyek yang telah dimulai sejak 2004. Konsepnya, proyek ini adalah diary atau catatan harian dari peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari Shigeyo. Proyek ini menarik karena menawarkan banyak perspektif dari peristiwa keseharian tersebut. Drawing, kolase, dan catatan personal ini dituangkan dalam bentuk postcard, yang jika dirangkai seluruhnya bisa menjadi karya instalasi.

Proyek ini menunjukkan eksistensi Shigeyo sebagai seniman yang aktif dan sibuk. Hari-hari dilaluinya dengan membentuk banyak peristiwa dan menjelajah banyak tempat. Ia mengunjungi Amerika, Rusia, Meksiko, dan berbagai tempat di Jepang sendiri. Di setiap tempat itu, ia mendapatkan semangat dan gagasannya melalui kebersamaannya dengan komunitas disana. Gaya kreatifnya, bisa dikatakan, serupa dengan apa yang dikerjakan para antropolog.

“...karya-karya saya diinspirasi oleh mitos daur hidup tumbuh-tumbuhan. Saya percaya bahwa emosi kita (sel emosional kita) juga mempunyai daur pertumbuhan, pembentukan, serta kerusakan dan pembentukan kembali tubuh kita. Ketika saya melihat orang yang sangat saya cintai, dunia tampak sangat berwarna dan terus berubah, tetapi pada saat yang sama, saya selalu merasakan sakit dan kesedihan yang ada di hatinya. Emosi yang berubah-ubah ini memancing dan membawa saya pada proses penciptaan.”

Shigeyo Kobayashi lahir di Sapporo, Jepang, 1957. Pameran ini adalah pameran tunggalnya yang ketiga di Rumah Seni Cemeti.

art discourse indonesia, indonesian art Yogyakarta, seni kontemporer Jogjakarta, Eko Prawoto indonesia, Jompet Jogjakarta, lukisan indonesia, Eko Nugroho Jogjakarta, seni kontemporer Yogyakarta, gambar Yogyakarta, patung Jogja, installation art Jogjakarta, rumah seni, Wimo Ambala Bayang Jogja, cemeti Jogja, Seni Rupa kentemporer Jogjakarta, art space Yogyakarta, lukisan Yogyakarta, proyek seni Jogjakarta, Mella Jaarsma indonesia, Krisna Murti indonesia, modern art Jogja, katalog indonesia, Melati Suryodarmo Yogyakarta, indonesia, fotografi Jogjakarta, gerakan seniman muda, Ugo Untoro Yogyakarta, art discours Jogjakarta, project indonesia, fine arts Jogja, art house Jogja, proyek Jogja, seniman muda indonesia, fine art Yogyakarta, project Yogyakarta, art exchange Jogjakarta, cemeti Jogjakarta, seniman muda Jogja, art books indonesia, art space Jogjakarta, Handiwirman Yogyakarta, S. Teddy D. Jogjakarta, S. Teddy D. Yogyakarta, installations Jogja, buku seni Yogyakarta, Tita Rubi indonesia, S. Teddy D. indonesia, Popok Tri Wahyudi Jogja, drawings indonesia, Jogja, proyek indonesia, gambar indonesia, exhibition indonesia, katalog Yogyakarta, art exchange Yogyakarta, seni instalasi Jogja, art Jogjakarta, art projects Jogjakarta, Mella Jaarsma Jogja, fotografi Jogja, sculptures Yogyakarta, visual arts Yogyakarta, Seni Rupa Yogyakarta, Bunga Jeruk Yogyakarta, fine art Jogja, instalasi indonesia, Jogjakarta, patung indonesia, Popok Tri Wahyudi Yogyakarta, Muyono Yogyakarta, Terra Bajraghosa Yogyakarta, Asian artists indonesia, new art trends Jogja, Angki Purbandono Jogjakarta, Nindityo Adipurnomo, paintings indonesia, fine arts indonesia, fine arts Jogjakarta, Asian artists Jogja, wacana seni rupa indonesia, indonesia, Mella Jaarsma Jogjakarta, pameran Yogyakarta, Melati Suryodarmo Jogjakarta, Tita Rubi Jogjakarta, FX Harsono Jogja, new art trends Jogjakarta, art works Jogja, Ruang Seni indonesia, exhibition Jogjakarta, art space indonesia, modern art Jogjakarta, exhibition Jogja, katalog Jogjakarta, installation art indonesia, FX Harsono Yogyakarta, instalasi Jogjakarta, Asian art Jogjakarta, Krisna Murti Jogja, art residency Jogjakarta, proyek Jogjakarta, seni instalasi Yogyakarta, rumah seni, art exchange Jogja, drawings Jogja, Popok Tri Wahyudi indonesia, Asian artists Yogyakarta, Bunga Jeruk indonesia, installation art Jogja, seni rupa modern Yogyakarta, art house Jogjakarta, catalogues Jogjakarta, art house indonesia, Yogyakarta, Popok Tri Wahyudi Jogjakarta, Christine Ay Tjoe Jogja, art projects Jogja, Ugo Untoro Jogjakarta, landing soon Yogyakarta, tren baru Yogyakarta, drawings Jogjakarta, Yogyakarta, proyek seni Jogja, pertukaran Jogja, new art trends Yogyakarta, pertukaran Yogyakarta, Christine Ay Tjoe indonesia, Galeri Jogja, art residency Yogyakarta, photography indonesia, cemeti Yogyakarta, gerakan seniman muda Jogjakarta, Seni Rupa kentemporer Yogyakarta, patung Jogjakarta, Handiwirman Jogjakarta, S. Teddy D. Jogja, contemporary art Jogjakarta, seni rupa asia Yogyakarta, emerging artists indonesia, exhibition Yogyakarta, Jogja, Melati Suryodarmo Jogja, tren baru Jogja, new art trends indonesia, fine art indonesia, buku seni indonesia, Christine Ay Tjoe Jogjakarta, fotografi indonesia, Nindityo Adipurnomo, seni rupa modern Jogja, Seni Rupa Jogjakarta, drawings Yogyakarta, seni kontemporer indonesia, photography Yogyakarta, Angki Purbandono indonesia, Agus Suwage Yogyakarta, seniman asia Yogyakarta, paintings Yogyakarta, gallery Jogjakarta, new art Yogyakarta, instalasi Yogyakarta, Mella Jaarsma Yogyakarta, cemeti Yogyakarta, fotografi Yogyakarta, Handiwirman indonesia, Eko Nugroho Yogyakarta, new art Jogjakarta, Tita Rubi Jogja, emerging artists Jogja, gallery Jogja, installations Jogjakarta, fine art Jogjakarta, lukisan Jogja, pameran Jogja, catalogues Jogja, Nindityo Adipurnomo, catalogues Yogyakarta, art works Yogyakarta, indonesia, wacana seni rupa Yogyakarta, Eko Nugroho indonesia, sculptures Jogjakarta, Eko Prawoto Jogja, contemporary art Yogyakarta, Ruang Seni Jogjakarta, sculptures Jogja, Galeri Jogjakarta, Galeri Yogyakarta, Terra Bajraghosa indonesia, cemeti indonesia, photography Jogja, cemeti Jogjakarta, visual arts indonesia, Agus Suwage Jogja, seni kontemporer Jogja, Wimo Ambala Bayang indonesia, art projects indonesia, seni instalasi indonesia, Seni Rupa kentemporer Jogja, buku seni Jogja, modern art Yogyakarta, art indonesia, Jompet indonesia, Eko Prawoto Yogyakarta, art space Jogja, indonesian art indonesia, Asian art indonesia, seni rupa modern indonesia, new art indonesia, Krisna Murti Yogyakarta, art discours Yogyakarta, art Jogja, indonesian art Jogja, Agus Suwage indonesia, video art indonesia, installations indonesia, Ruang Seni Jogja, seniman asia Jogja, Seni Rupa indonesia, emerging artists Jogjakarta, art books Jogja, art works indonesia, Asian artists Jogjakarta, Jogjakarta, Terra Bajraghosa Jogja, proyek Yogyakarta, wacana seni rupa Jogjakarta, installation art Yogyakarta, pertukaran indonesia, seni rupa asia Jogjakarta, Angki Purbandono Jogja, katalog Jogja, contemporary art Jogja, Wimo Ambala Bayang Yogyakarta, project Jogja, Anusapati indonesia, seniman asia Jogjakarta, seniman muda Yogyakarta, tren baru indonesia, project Jogjakarta, landing soon indonesia, Seni Rupa kentemporer indonesia, paintings Jogja, art residency Jogja, Melati Suryodarmo indonesia, Nindityo Adipurnomo, Wimo Ambala Bayang Jogjakarta, gerakan seniman muda Yogyakarta, gambar Jogjakarta, landing soon Jogja, pertukaran Jogjakarta, Christine Ay Tjoe Yogyakarta, FX Harsono Jogjakarta, catalogues indonesia, Muyono indonesia, Jompet Jogja, proyek seni indonesia, art exchange indonesia, Angki Purbandono Yogyakarta, seni rupa modern Jogjakarta, video art Jogjakarta, paintings Jogjakarta, art Yogyakarta, video art Jogja, Tita Rubi Yogyakarta, Bunga Jeruk Jogja, seni instalasi Jogjakarta, Jompet Yogyakarta, Terra Bajraghosa Jogjakarta, fine arts Yogyakarta, visual arts Jogjakarta, Anusapati Yogyakarta, Asian art Yogyakarta, art works Jogjakarta, Ugo Untoro indonesia, proyek seni Yogyakarta, Galeri indonesia, instalasi Jogja, patung Yogyakarta, Muyono Jogjakarta, gallery indonesia, rumah seni, photography Jogjakarta, contemporary art indonesia, Seni Rupa Jogja, art books Yogyakarta, sculptures indonesia, Handiwirman Jogja, Krisna Murti Jogjakarta, pameran indonesia, new art Jogja, installations Yogyakarta, gambar Jogja, FX Harsono, gerakan seniman muda Jogja, art house Yogyakarta, Eko Prawoto Jogjakarta, visual arts Jogja, cemeti indonesia, Agus Suwage Jogjakarta, Muyono Jogja, Anusapati Jogja, Anusapati Jogjakarta, lukisan Jogjakarta, Ruang Seni Yogyakarta, buku seni Jogjakarta, emerging artists Yogyakarta, seni rupa asia Jogja, indonesia, pameran Jogjakarta, rumah seni, gallery Yogyakarta, seniman muda Jogjakarta, landing soon Jogjakarta, wacana seni rupa Jogja, art projects Yogyakarta, art residency indonesia, art discours Jogja, Asian art Jogja, Bunga Jeruk Jogjakarta, cemeti Jogja, seni rupa asia indonesia, modern art indonesia, seniman asia indonesia, tren baru Jogjakarta, Ugo Untoro Jogja, indonesian art Jogjakarta, video art Yogyakarta, Eko Nugroho Jogja, art books Jogjakarta