Pameran Tahun 2005

Electra Complex: A Story of Father and Me

21 Desember 2005 - 13 Januari 2006

Tita Djumaryo dan Keke Tumbuan

Pameran di Rumah Seni Cemeti bulan Desember sampai Januari menampilkan dua seniman perempuan muda dari Jakarta, Saraswati Djumaryo dan Keke Tumbuan. Ide untuk mempertemukan kedua seniman dengan dua disiplin yang berbeda ini—Tita dengan keahliannya di bidang printing dan grafis, sementara Keke telah lama malang melintang di dunia fotografi—didasari pengamatan kami atas kecenderungan keduanya yang kerapkali berangkat dari tema personal yang diambil dari pengalaman hidup sehari-hari. Perbedaan medium yang terbentang di antara keduanya, pada titik ini, akan menjadi potensi yang bisa menunjukkan pada kita bagaimana sebuah gagasan bisa dikonkretkan dalam banyak bentuk.
Keduanya akan berbicara tentang relasi mereka dengan sang ayah. Tanpa disadari, bayangan tentang figur ayah, juga pola relasi dengannya, turut membentuk dan mengonstruksi pandangan kita tentang dunia. Sosok seorang ayah seringkali ditempatkan pada posisi sekunder ketika kita berbicara tentang pembentukan "diri".

Dalam ilmu psikologi, kita mengenal Electra Complex. Ini bukan semata kisah tentang Elektra yang biasa ada di panggung sandiwara. "Elektra complex" yang kami rujuk di sini adalah sebuah pembalikan atas teori Sigmund Freud tentang Oedipus komplex, ketika seorang anak laki-laki memiliki dan bergulat dengan fantasi seksual atas sosok ibunya. Melalui Elektra, kami berbicara tentang "saya" dan "dia" ("me" and "him"). Dan, pada akhirnya, tentang "kita".

Tita dan Keke mencoba menelusuri setiap peristiwa, setiap ingatan, dan setiap percakapan mereka dengan ayahnya, dan membawanya ke dalam bentuk-bentuk visual. Setiap karya adalah proyeksi dari perasaan intim yang terjalin antara mereka dan ayahnya, juga pergulatan tanpa henti antara cinta dan benci, antara hadir dan tidak hadir.

Saraswati "Tita" Djumaryo lahir di Jakarta, 1980. Lulus dari Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung. Keke Tumbuan menekuni fotografi, belajar di Rietveld Art Academy, Amsterdam. Keduanya kini tinggal dan berkarya di Jakarta.

For Your Consideration Only

20 November - 14 Desember 2005

Filippo Sciascia

Sebagai seniman visual kontemporer, Filippo Sciascia telah bergerak menjelajah pelbagai kemungkinan medium untuk merealisasikan gagasannya. Dalam beberapa tahun terakhir, ia secara intens melakukan kerja seri “video-painting”, dimana ia mengombinasikan teknik video dan lukis untuk memahami “bagaimana mata memandang” dan secara konstan mentransfer imaji ke otak.

“For Your Consideration Only” adalah parodi tentang perjalanan-perjalanan, baik fisik maupun lainnya, yang kita lakukan sepanjang hidup kita dan juga tentang ruang, baik ruang fisik maupun bukan, ketika kita menemukan diri kita berjuang menuju sesuatu yang kita tuju. Kata “Consideration” (menimbang) yang dirujuk dalam pameran ini adalah usaha kita untuk menengok kembali perjalanan-perjalanan dan ruang-ruang tersebut.

Menurut Filippo, kita selalu berusaha untuk berbuat sesuatu atau menjadi sesuatu/seseorang. Dengan keharusan untuk menjadi “seseorang”, kita menemukan banyak masalah karena pada proses itulah ego kita mencuat keluar. Ide-ide dan konsep-konsep kitalah yang membentuk apa yang disebut dengan “diri”.

Ketika kita membiarkan semua datang dan pergi, ketika kita melihat  perubahan yang terus menerus, alam yang secara konstan berubah, kita tidak lagi terikat pada pandangan egoistik kita.  Wilayah alamiah kita telah kosong. Kita hanya menutupinya dengan konsep tentang diri.

Filippo Sciascia lahir di Palma di Montechiaro, Italia, pada 1972. Sepanjang akhir1990an ia secara aktif memamerkan karyanya di berbagai galeri di Italia. Pada 2000, ia hijrah ke Bali dan bekerja mengelola Gaya Fusion of Senses di Ubud.

OMONG KOSONG #8 Change Yourself

21 September - 15 Oktober 2005

Irwan Ahmett

Begini! Change Yourself merupakan sebuah “personal public campaign.” Ahmed akan mengajak orang untuk melakukan transformasi dalam hidupnya, sehingga akan terjadi sebuah perubahan sikap yang akan meningkatkan kualitas hidup mereka, terutama untuk hal-hal yang bersifat personal dan intim.

“Perubahan ini seperti; Pernahkah kita memeluk sahabat yang paling kita sayangi? Kenapa kita tidak mencoba sedikit naif untuk ngobrol dengan mantan pacar?..hmmm…Atau, heyyy! Kenapa juga tidak nyoba pake push up bra? Atau, Tell your Boss, “I Quit” Atau, Matikan handphone mu sekarang juga :-)”

Ahmed berpikir bahwa setiap orang harus merencanakan perubahan karena perubahan itu akan membawa orang untuk keluar dari wilayah aman dan memasuki situasi baru yang menantang. Setiap orang sebenarnya mempunyai keinginan untuk berubah, tetapi kebanyakan dari mereka merasa tidak mampu untuk melakukannya.

Apa yang akan diubah? Pola pikir, emosi, dan kebiasaan yang dianggap negatif. Banyak perubahan sederhana di sekitar kita yang kalau kita sikapi akan membuat hidup semakin ringan dan positif.

Dengan pengalaman di bidang komunikasi visual, Ahmed akan mencoba melihat dan menggunakan seni ‘sihir’ visual untuk mempengaruhi sebuah sikap.

Change Your Self!
"Saat hidup kita membutuhkan suplemen"

Irwan Ahmed adalah seniman desainer grafis yang aktif bekerja bersama Ruangrupa, tinggal di Jakarta. Karya-karyanya menunjukkan kecenderungan di kalangan seniman muda untuk bekerja dengan idiom sehari-hari dan interaksi yang intens dengan pengunjung.

OMONG KOSONG #7 Revolution Ugly No Beauty

24 Agustus - 16 September 2005

Ag. Kus Widananto (Jompet) & Angki

Kota selain menyediakan ruang luas bagi privasi setiap individu sebenarnya juga memperpendek jarak psikologis antar individu melalui kecenderungan publik yang sama. Mimpi-mimpi akan kesejahteraan ekonomi dan kebebasan berselera adalah mainstream kota. Mainstream yang terkelola akan menghasilkan bentuk-bentuk persaingan sempurna. Persaingan-persaingan ini kemudian berpotensi melahirkan resiko bagi tiap individu yang terlibat.

Resiko berada pada batas antara ‘bisa diperkirakan’ dan ‘di luar kemampuan perkiraan’.

Karena sifat tersebut, beberapa orang melakukan antisipasi pasif dengan mengalihkan resiko itu ke sebuah perusahaan asuransi (risk transfer) melalui premi yang ia bayarkan.

Jika dipahami bahwa setiap orang merupakan merupakan potensi resiko bagi yang lain, sebenarnya juga berarti bahwa setiap orang juga punya kekuatan untuk mencegah sebuah resiko terjadi. Dengan pemahaman tersebut kemudian bebrapa perusahaan asuransi mengembangkan prinsip membagi resiko (risk sharing).

Entah mekanisme ‘sharing’nya seperti apa, yang jelas ini bukanlah pekerjaan yang mudah, terutama dalam proses pemetaan potensi resiko yang dipunyai masing-masing individu untuk mengetahui besarnya peran dan tanggung jawabnya, karena ‘sharing’ tidaklah selalu berarti sama rata. Masing-masing individu karena perbedaan kuantitas dan kualitas aktivitasnya tentu juga akan memproduksi kuantitas dan kualitas resiko yang berbeda pula. Ketika pemetaan ini dilakukan oleh pihak ketiga dengan ukuran yang dianutnya maka akan rawan menimbulkan bias kepentingan. Akan sedikit lebih menyegarkan jika masing-masing individu bersama komunitas terdekatnya melakukan sendiri pemetaan itu dalam upaya mencegah sebuah resiko terjadi.

Karya ini akan mencoba mengolah hubungan kreator dengan lingkungan di sekitar dirinya dengan menjadikan potensi resiko sebagai basis hubungan tersebut.

Pameran ini merupakan bagian dari pameran bertema “Omong Kosong” yang diselenggarakan di Rumah Seni Cemeti, April - Oktober 2005.

OMONG KOSONG #6 POP Station - KYTV

5 - 19 Agustus 2005

Rizman Putra Ahmad Ali, Choy Ka Fai, Zulkifle Mahmod, Fared Jainal

Kerja lintas disiplin dalam bidang seni merupakan salah satu pilar yang menyangga senirupa kontemporer dewasa ini. Para perupa sekarang ini bekerja bersama seniman-seniman dari disiplin seni yang lain, dalam upaya untuk menemukan bahasa ungkap yang baru yang mendukung idiom-idiom visual yang ingin ditampilkan. Konsekuensi yang tak terhindarkan dari pola kerja lintas disiplin ini adalah jelajah medium yang tak terbayangkan luasnya, termasuk eksplorasi atas bentuk-bentuk medium baru.

Pameran Rumah Seni Cemeti Agustus 2005, salah satunya akan menampilkan kelompok Kill Your TeleVision dari Singapura. Kill your Television (KYTV) dibentuk pada awal 2002 atas gagasan Aaron Kao, Jeremy Sharma, dan Rizman Putra dengan tujuan melakukan eksplorasi artistik di luar musik dan seni visual. Jadi yang penting adalah kerja yang berbentuk kolektif. Konsep di balik KYTV adalah menggali batas-batas berbagai bentuk seni seperti seni visual, instalasi, penulisan, gerak, musik/bunyi, dan multimedia. Diharapkan dari kerja semacam ini akan tercipta satu bentuk performance interdisipliner yang integratif. Sekarang ini anggota Kill Your Television adalah Rizman Putra dan Choi Ka Fai.

Untuk pameran ini, mereka akan membawa proyek terakhir mereka yang sudah beberapa kali disuguhkan dalam even-even internasional, yaitu Pop Station. “The Politics of Popular (POP) Station” adalah pendekatan yang satir terhadap proses-proses menjadi “bintang pop”. Proyek ini dilakukan melalui banyak cabang makna yang berbeda-beda yang turut membentuk atau menjadi bungkus dari individu atau kelompok yang ingin menjadi bagian dari produk spektakuler yang nyaris sama bentuknya dengan status quo para selebritis. Proyek yang didasarkan pada The American Idol, yang sangat terkenal di kota-kota di Asia Tenggara.

OMONG KOSONG #5 (Tidak) 100% Bebas Seniman

2 Agustus 2005

Nerfita Primadewi

Kali ini Rumah Seni Cemeti menghadirkan sebuah SMS festival yang merupakan presentasi proyek dari Nerfita ‘Popi’ Primadewi. Bermula dari kertertarikan Popi atas fenomena Short Message Service (SMS) yang melanda dunia tehnologi komunikasi . SMS adalah fenomena dalam tehnologi informasi yang digunakan oleh sebagian besar lapisan masyarakat di Indonesia. Popi merasa terkejut melihat bagaimana negara dunia ketiga seperti Indonesia begitu mudah mengadopsi bahkan tergantung pada tehnologi telepon genggam dalam waktu yang sangat cepat.

Penggunaan fitur SMS sebagai media komunikasi sangatlah populer. Hal tersebut dikarenakan murahnya tarif penggunaan komunikasi ini. Poppi juga merasa bahwa SMS memiliki nilai personal bahkan bisa mempengaruhi pembentukan norma dan nilai sosial baru. Popi melihat hal tersebut pada batasan ruang dalam fitur SMS (biasanya satu pesan SMS hanya memuat 160 karakter), hal tersebut membuat orang kemudian menciptakan satu sistem bahasa baru. Bahasa ini tercipta didasarkan pada penyingkatan atau percampuran bahasa. Poppi juga membaca bahwa penggunaan SMS juga menghadirkan dilema tentang yang personal dan yang komunal, hal tersebut bekaitan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Poppi membuat festival SMS dan teknologi terbaru Message Service, MMS (Multimedia Message Service) sebagi presentasi karyanya. Festival ini akan terdiri dari pameran SMS-MMS yang telah diedit dan diolah secara artistik. Poppi meggunakan peralatan multimedia sebagai medium seperti videografi, program komputer interaktif, dan sebagainya.

Jadi, kirimkan SMS-MMS kamu sekarang juga ke SMS-MMS Art Project ke nomor 081329445757 (batas waktu pengiriman tanggal 2 Agustus 2005). Bagi 5 SMS-MMS terbaik akan ada gift menarik dari Popi. Kita tunggu SMS-MMS kamu.

Nerfita Primadewi, atau bisa dipanggil Popi adalah seniman yang banyak berkerja dengan peralatan multimedia. Sekarang ia bekerja sebagai staf pengajar jurusan Seni Rupa, Sekolah Tinggi Seni Indonesia, Surakarta. Proyek presentasi ini merupakan presentasi atas tugas akhirnya untuk menyelesaikan pendidikan sarjana di Program Studi Penciptaan Seni (dengan konsentrasi utama videografi) Institut Seni Indonesia. Proyek ini juga diikutsertakan dalam Asian Public Intellectual (API) yang akan dijalani Popi selama setahun di Filipina.

OMONG KOSONG #4 Choose Your Own Public

7 - 31 Juli 2005

Popok Tri Wahyudi dan Arie Dyanto

Pameran ini mencoba menawarkan definisi dan pemaknaan yang berbeda tentang “publik” atau “komunitas” dalam kaitannya dengan praktik seni kontemporer. Dalam pandangan dua orang seniman, Popok Tri Wahyudi dan Arie Dyanto, yang disebut sebagai publik atau komunitas selalu menjadi konsep yang kontekstual. Makna publik bagi seniman yang satu bisa jadi berbeda dengan seniman yang lain. Proyek Popok dan Arie menjadi representasi dari perbedaan-perbedaan tersebut.

Popok: Bagi saya, ini bisa disebut sebagai proyek kuratorial. Saya berencana membuat playground bersama teman-teman, ... nama ...Kami akan masuk ke pemukiman penduduk, lalu merespon ruang kosong di sana dan membuat taman bermain yang terbuka, kreatif, dan alternatif untuk anak-anak.

Arie Dyanto: Saya ingin bekerja dengan anak muda untuk menafsir kembali ikon-ikon visual yang biasa mereka temui dalam kehidupan sehari-hari, balihoo, iklan, t-shirt, sticker, ikon grafis di MTV, dan sebagainya. Kami akan bekerja bersama melalui serangkaian workshop seni. Kami mencoba melihat bagaimana ikon-ikon visual itu pada akhirnya menghadapkan anak-anak muda pada konsep tentang identitas.

OMONG KOSONG #3 Packaging

2 - 30 Juni 2005

Yuli Prayitno

Pameran bulan Juni menampilkan perupa Yuli Prayitno, seniman kelahiran Bandung yang belajar di Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia, Yogyakarta. Selama ini Yuli Prayitno banyak membuat karya-karya patung.  Seperti halnya seniman patung pada generasinya, Yuli Prayitno banyak membuat karya-karya patung yang mempunyai identifikasi yang dekat dengan objek/benda. Karena kecenderungannya yang demikian, karya-karya patung yang dihasilkannya tidak banyak yang berukuran besar, dan bahkan, kecil. Ia tidak memproyeksikan gagasannya dalam bentuk-bentuk yang monumental, sebagaimana pengertian kita atas patung selama ini.

Karya Yuli Prayitno terasa menunjukkan interaksi yang intens antara dirinya sebagai seniman—yang menggagas dan membentuk—dengan material yang akan digunakannya. Dialog ini membawanya pada sebuah gagasan tentang patung dan teks sebagai cara berkomunikasi dan mengungkapkan pikiran. Dari sana, Yuli Prayitno seringkali menyelipkan teks-teks (yang terkadang hanya terbaca sebagai deretan huruf, tetapi pada saat yang lain ia menawarkan kalimat yang puitik).

Pada pameran tunggal pertamanya di Rumah Seni Cemeti ini, Yuli Prayitno mengajukan ”PACKAGING” sebagai gagasan utama dalam karya-karyanya. Ia mengajak kita untuk mempertanyakan kembali kepercayaan kita pada apa yang kita sebut sebagai ”kemasan”. Mengapa sekarang ini, kemasan, yang sebenarnya berfungsi ”hanya sebagai bungkus” bisa menjadi senjata yang sangat ampuh untuk menggoda siapapun yang tidak ingin menjadi ketinggalan zaman?

OMONG KOSONG #2

6 - 29 Mei 2005

Andri Mohammad, Arie Dyanto, Dewi Aditya, Gustaff Iskandar, Marzuki, Narpati Awangga, Reza Afisina, Terra Bjraghosa, Wimo Ambala Bayang

“Omong Kosong #2” menampilkan sembilan perupa muda dari Yogyakarta, Bandung,dan Jakarta.  Sebagaimana kebanyakan karya yang muncul pada pameran “Omong Kosong #1”, karya pada pameran ini berangkat dari refleksi para seniman muda tentang praktik hidup sehari-hari yang mereka temui di sekitar wilayah tempat tinggal mereka. Ada kecenderungan besar di kalangan seniman muda yang terlibat dalam pameran ini untuk berbicara tentang isu-isu kontemporer seperti konsumerisme, identitas, budaya urban, dan budaya populer/budaya massa/subkultur anak muda. Refleksi mereka atas isu-isu ini diwujudkan dalam beragam bentuk, mulai dari instalasi video, lukisan, neon-box, instalasi objek, dan sebagainya.

“Omong Kosong” merupakan tema sekaligus pertanyaan yang ingin kami ajukan dalam pameran seni rupa kali ini. Pameran ini berangkat dari pembacaan kami atas kecenderungan baru generasi seniman terkini. Kami melihat bahwa generasi seniman yang kebanyakan lahir pasca 70an ini seperti “menolak” untuk memunculkan pesan-pesan tertentu dalam karya-karya mereka. Berbeda dengan seniman-seniman generasi sebelumnya, para seniman muda ini cenderung membebaskan karya mereka dari tema-tema sosial-politik yang aktual, dan menghindari kesan-kesan bahwa karya mereka merupakan karya yang “berat” dan “serius” dan menampilkan kesan “kesenangan” (fun) dan “kebermain-mainan” (playful). Apakah mereka sungguh-sungguh “anti-pesan”?

Pengalaman, diskusi, dan pengamatan yang kami langsungkan selama pameran “Omong Kosong #1” sedikit banyak mulai memberikan tanda dan arah, meskipun belum pasti, dari sekian banyak gagasan yang berseliweran di sekitar praktik seni rupa kontemporer yang dilakukan anak muda. Kami mambaca kemungkinan bahwa penolakan anak muda tentang “pesan” tidaklah berarti mereka tidak mempunyai pesan apapun yang akan disampaikan dalam karyanya, melainkan mereka menawarkan cara pandang yang baru atas apa yang disebut sebagai “pesan”: sesuatu yang sederhana, kecil, tetapi punya makna yang langsung.

Seniman yang terlibat dalam pameran ini adalah: Wimo Ambala Bayang (video), Tera Bajraghosa (instalasi neon-box), Dewi Aditia (lukisan), Gustaff Iskandar (multimedia), Arie Dyanto (instalasi stensil), Narpati Awangga (digital print), Marzuki (performance), Reza Afisina (video), Andri Mohammad (Instalasi).

OMONG KOSONG #1

6 - 30 April 2005

Arya Panjalu, Abdi Setiawan, Henry Foundation, Hafiz, Andy Seno Aji, Puji Siswanti, Anggun Priambodo, Angky Priambodo

Pameran ini menampilkan 8 seniman yang kebanyakan lahir pasca 70an. Para seniman muda ini cenderung membebaskan karya mereka dari tema sosial-politik aktual, dan menghindari kesan bahwa karya mereka “berat” dan “serius”. Mereka suka ketika karya mereka bisa menampilkan kesan “kesenangan” (fun) dan “kebermain-mainan” (playful). Apakah mereka sungguh-sungguh “anti-pesan”?

Seniman-seniman muda ini menghadapi situasi politik yang barangkali telah bebas dari apa yang disebut sebagai “musuh bersama”- yang pada seniman sebelumnya bisa ditunjuk pada “rezim penguasa”. Mereka bekerja dalam tema-tema global: identitas, konsumerisme, budaya massa, globalisasi/neoliberalisme, poskolonialisme, subkultur anak muda, dan sebagainya. Mereka juga melakukan aktivitas lain seperti bergabung dengan band/bermain musik; membuat film indie; aktif terlibat dalam diskusi-diskusi tentang budaya pop-bahkan menjadi anggota klub baca perpustakaan; belajar tentang teori-teori Marx, Foucault, kajian budaya (cultural studies), posmodernisme; mengorganizir rave-party dan pertunjukan musik; menghabiskan waktu menonton film, bermain game dan menjelajahi ruang maya. Kerja-kerja kesenian punya makna yang sama besarnya dengan aktivitas keseharian yang lain. Mereka melibas batas antara “yang seni” dan “yang bukan seni”, antara “seni tinggi” dan “seni rendah”, serta memperkenalkan konsep bahwa seni adalah sesuatu yang biasa-biasa saja.

Semua teks, semua ikon, semua objek yang muncul menarik kita untuk mempertanyakan kembali: apakah anak-anak muda ini sungguh enolak adanya “pesan” dalam karya mereka? Apakah karya-karya itu berdiri sendiri sebagai sesuatu yang lahir dari kesenangan belaka, tanpa pretensi sosial-politik apapun? Apa yang sesungguhnya ingin dinyatakan oleh para seniman muda ini? Apakah semua teks dan pesan itu hanya sekadar omong kosong belaka?

SOAPOPERA

8 - 27 Maret 2005

Ann Wizer

Pameran SOAPOPERA karya perupa Ann Wizer ini akan menghamparkan objek-objek furnitur yang terbuat dari instalasi sampah. Selain itu, bersama dengan Yayasan XSProject yang didirikannya pada 2002, Ann Wizer juga akan menampilkan kisah perjalanan benda-benda ciptaannya dalam dokumentasi foto dan video yang dikerjakan oleh Angki Pubandono and Areifianao Tedja.

Ann memulai proyeknya di Jakarta setelah ia melihat bagaimana pengaruh industri terhadap lingkungan perkotaan. Dan jejak yang tak terhindarkan adalah menumpuknya sampah-sampah. Persoalan sampah inilah yang kemudian diolah secara serius oleh Ann Wizer. Dalam gagasannya, sampah—sisa-sisa—ini menjadi sebuah kesaksian tentang nilai-nilai dan gaya hidup manusia.

Apa yang dilakukan Ann Wizer melalui karya-karyanya barangkali bisa menjadi salah satu alternatif untuk membangun kesadaran kritis dalam lingkungan masyarakat konsumen. Ann memulai usaha ini dengan menunjukkan kepada kita akibat terburuk dari perilaku konsumsi yang berlebihan: menumpuknya sampah. Ia inginmempertanyakan kesadaran sosial dari dunia korporasi terhadap akibat-akibat buruk yang muncul dari praktik produksi dan konsumsi.

Di balik barang-barang trendi dan funky yang dihasilkannya, ada perjalanan dan cerita yang panjang tentang siapa, bagaimana dan mengapa benda-benda itu diciptakan. Tas pewangi Molto, tas capricone, atau dompet pepsodent itu berisi kisah hidup dari para pemulung yang mengumpulkan bahannya, canda dan tawa dari anak-anak cacat yang melakukan proses pencucian, serta gossip semarak dari para ibu rumah tangga yang kemudian menjahitnya. Judul pameran ini, “SOAPOPERA,” adalah gambaran yang menarik dari cara Ann Wizer memandang seluruh persoalan ini. Keseluruhan perjalanan benda-benda adalah kisah yang penuh dengan intrik, rahasia, konflik, dan romantika.

Pameran ini juga akan ditandai dengan peluncuran XSProject Foundation atau Yayasan XSProject  Reguna Kreasi, cabang Jogjakarta. Ann bekerja dengan beberapa kelompok "pemulung" dan Yayasan Pambudhi di Jogjakarta untuk memproduksi tas-tas XSProject dengan sampah-sampah lokal. Tas-tas ini akan dijual untuk umum, dan keuntungannya akan digunakan untuk melakukan aktivitas-aktivitas Yayasan XSProject cabang Jogjakarta.

aku.suka.tulisan.

6 - 26 Januari 2005

Handy Hermansyah

Karya-karya dalam pameran ini berangkat dari keinginan Handy Hermansyah untuk menuliskan perbedaan cara penulisan suatu kata dari pelbagai bahasa yang ada di dunia yang mencakup makna yang kurang lebih sama. Misalnya, untuk kata yang mempunyai makna sejarah, bahasa Indonesia menuliskannya sebagai “sejarah”, bahasa Inggris menuliskannya sebagai “history”, atau bahasa Jawa “babad”. Kata-kata tersebut dituliskan kembali dengan lebih memfokuskan pada perbedaan yang muncul di setiap hurufnya.
Handy tertarik untuk menelusuri ide-ide universal yang telah lama hidup dan diyakini dalam sejarah peradaban manusia. Ia memilih kata-kata yang mengandung konsep-konsep universal, yang dikenal oleh banyak bahasa dan peradaban. Misalnya, selain sejarah, ia memilih kata moral, cinta, seni, dan sebagainya. Dengan cara ini, ia mencoba untuk melihat bagaimana konsep-konsep itu dituliskan dalam simbol huruf. Selanjutnya, ia mengajak audiens untuk mempertanyakan kembali bagaimana konsep universal itu dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Handy juga mencoba untuk menerjemahkan usahanya untuk menuliskan kembali konsep-konsep ini dengan menjelajah pelbagai kemungkinan medium: lukisan, grafis, atau objek-objek tiga dimensi.
Handy Hermansyah lahir di Bandung, 1978. Ia lulus dari program studi patung, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung.


fine arts indonesia, fotografi Jogja, S. Teddy D. indonesia, Krisna Murti Jogjakarta, art exchange Jogja, cemeti indonesia, contemporary art Yogyakarta, Wimo Ambala Bayang Yogyakarta, art exchange indonesia, Christine Ay Tjoe Jogja, Handiwirman Jogja, Tita Rubi indonesia, Jompet Jogjakarta, instalasi Jogjakarta, rumah seni, new art trends Jogjakarta, Tita Rubi Yogyakarta, patung indonesia, katalog Jogja, cemeti indonesia, gambar Jogja, catalogues Jogjakarta, proyek Jogjakarta, art exchange Jogjakarta, Ruang Seni Jogjakarta, landing soon Jogja, proyek Yogyakarta, instalasi Jogja, art house Yogyakarta, art Jogja, Christine Ay Tjoe Yogyakarta, art discours Jogja, seni rupa asia Jogjakarta, seni rupa asia Yogyakarta, seni rupa asia indonesia, lukisan Jogjakarta, sculptures indonesia, tren baru indonesia, Angki Purbandono indonesia, art indonesia, gerakan seniman muda Jogjakarta, Seni Rupa kentemporer Jogja, photography Yogyakarta, wacana seni rupa Yogyakarta, art books Jogjakarta, Agus Suwage Jogja, Wimo Ambala Bayang indonesia, Asian artists indonesia, modern art Jogja, cemeti Jogjakarta, tren baru Jogjakarta, katalog Yogyakarta, fine art Yogyakarta, gambar Jogjakarta, Handiwirman indonesia, Jompet indonesia, photography Jogjakarta, video art Jogjakarta, indonesia, art residency indonesia, Anusapati Yogyakarta, seni rupa modern indonesia, Ugo Untoro Jogja, video art indonesia, seniman muda Yogyakarta, art house indonesia, Jogjakarta, patung Jogja, FX Harsono Jogjakarta, Ugo Untoro indonesia, Angki Purbandono Jogja, contemporary art Jogjakarta, patung Jogjakarta, art space Yogyakarta, seni instalasi Jogja, new art trends Yogyakarta, photography Jogja, Nindityo Adipurnomo, photography indonesia, new art indonesia, Yogyakarta, Bunga Jeruk Yogyakarta, patung Yogyakarta, video art Jogja, Terra Bajraghosa Jogjakarta, cemeti Yogyakarta, Asian art Jogjakarta, art residency Yogyakarta, art books Jogja, seni rupa modern Jogja, Bunga Jeruk indonesia, seni kontemporer Jogjakarta, Ruang Seni Jogja, wacana seni rupa indonesia, Jogja, lukisan Yogyakarta, Asian artists Jogjakarta, Ugo Untoro Yogyakarta, buku seni Yogyakarta, seni instalasi Jogjakarta, Mella Jaarsma Yogyakarta, gerakan seniman muda Jogja, seni instalasi Yogyakarta, S. Teddy D. Jogjakarta, project Yogyakarta, modern art Jogjakarta, contemporary art Jogja, cemeti Jogjakarta, paintings Yogyakarta, Asian art Jogja, exhibition Yogyakarta, Popok Tri Wahyudi Jogjakarta, art house Jogjakarta, fine arts Yogyakarta, fine arts Jogja, Seni Rupa Jogja, Popok Tri Wahyudi indonesia, landing soon Jogjakarta, Krisna Murti Jogja, Muyono Jogja, Muyono indonesia, seni kontemporer Jogja, Jogjakarta, exhibition Jogjakarta, art books Yogyakarta, catalogues Yogyakarta, Nindityo Adipurnomo, art residency Jogjakarta, installations Yogyakarta, visual arts Jogja, drawings Yogyakarta, tren baru Yogyakarta, Eko Prawoto indonesia, Handiwirman Jogjakarta, Melati Suryodarmo Jogjakarta, Anusapati Jogja, lukisan indonesia, sculptures Yogyakarta, art projects indonesia, gerakan seniman muda, cemeti Jogja, Terra Bajraghosa indonesia, sculptures Jogjakarta, pertukaran Jogjakarta, Agus Suwage indonesia, art exchange Yogyakarta, fine art Jogjakarta, Jogja, Agus Suwage Jogjakarta, project Jogjakarta, seniman muda indonesia, Anusapati Jogjakarta, visual arts indonesia, seniman asia Jogjakarta, rumah seni, wacana seni rupa Jogja, installation art Jogjakarta, modern art indonesia, gambar Yogyakarta, art Jogjakarta, proyek seni Jogjakarta, Eko Nugroho Jogja, fotografi Yogyakarta, buku seni Jogjakarta, proyek seni indonesia, Tita Rubi Jogjakarta, installation art Jogja, seni kontemporer indonesia, seni kontemporer Yogyakarta, seni rupa asia Jogja, Mella Jaarsma Jogja, emerging artists Jogjakarta, art works Yogyakarta, pameran indonesia, pameran Yogyakarta, proyek indonesia, Bunga Jeruk Jogja, Seni Rupa Yogyakarta, gallery Jogjakarta, Popok Tri Wahyudi Jogja, indonesian art indonesia, Seni Rupa kentemporer indonesia, art projects Jogja, installations Jogjakarta, modern art Yogyakarta, pameran Jogjakarta, Wimo Ambala Bayang Jogjakarta, drawings Jogja, art residency Jogja, wacana seni rupa Jogjakarta, Eko Nugroho Yogyakarta, fotografi Jogjakarta, Galeri Jogja, Anusapati indonesia, cemeti Yogyakarta, Asian art Yogyakarta, Tita Rubi Jogja, buku seni indonesia, FX Harsono Jogja, gallery indonesia, Galeri indonesia, Mella Jaarsma Jogjakarta, tren baru Jogja, indonesian art Jogja, paintings indonesia, Terra Bajraghosa Jogja, Eko Nugroho Jogjakarta, instalasi indonesia, art space Jogjakarta, Agus Suwage Yogyakarta, Galeri Yogyakarta, sculptures Jogja, seniman asia Jogja, art Yogyakarta, Asian artists Yogyakarta, Ruang Seni indonesia, art discours Jogjakarta, seniman muda Jogjakarta, Muyono Yogyakarta, Angki Purbandono Jogjakarta, Seni Rupa Jogjakarta, FX Harsono, art space indonesia, exhibition indonesia, Handiwirman Yogyakarta, gerakan seniman muda Yogyakarta, Muyono Jogjakarta, gallery Yogyakarta, landing soon Yogyakarta, S. Teddy D. Jogja, fine arts Jogjakarta, catalogues indonesia, Mella Jaarsma indonesia, seniman asia indonesia, Terra Bajraghosa Yogyakarta, new art Jogjakarta, art space Jogja, art projects Jogjakarta, art works indonesia, Asian art indonesia, indonesia, fine art Jogja, installations Jogja, visual arts Yogyakarta, art discours Yogyakarta, new art Yogyakarta, landing soon indonesia, Galeri Jogjakarta, installation art indonesia, Eko Prawoto Jogja, rumah seni, Angki Purbandono Yogyakarta, lukisan Jogja, art projects Yogyakarta, project indonesia, art works Jogja, pertukaran Jogja, Ugo Untoro Jogjakarta, instalasi Yogyakarta, gambar indonesia, pertukaran indonesia, Jompet Jogja, seni rupa modern Yogyakarta, art works Jogjakarta, art discourse indonesia, drawings indonesia, emerging artists indonesia, project Jogja, new art trends indonesia, Melati Suryodarmo Yogyakarta, indonesian art Yogyakarta, Krisna Murti indonesia, Krisna Murti Yogyakarta, pertukaran Yogyakarta, buku seni Jogja, Ruang Seni Yogyakarta, paintings Jogjakarta, Eko Prawoto Jogjakarta, contemporary art indonesia, Eko Prawoto Yogyakarta, seniman asia Yogyakarta, Seni Rupa indonesia, Christine Ay Tjoe Jogjakarta, Yogyakarta, paintings Jogja, Melati Suryodarmo Jogja, cemeti Jogja, fotografi indonesia, Seni Rupa kentemporer Yogyakarta, Nindityo Adipurnomo, installations indonesia, new art Jogja, Bunga Jeruk Jogjakarta, emerging artists Jogja, Nindityo Adipurnomo, seniman muda Jogja, video art Yogyakarta, S. Teddy D. Yogyakarta, seni rupa modern Jogjakarta, proyek seni Jogja, emerging artists Yogyakarta, Seni Rupa kentemporer Jogjakarta, Asian artists Jogja, Wimo Ambala Bayang Jogja, drawings Jogjakarta, katalog Jogjakarta, catalogues Jogja, indonesia, indonesian art Jogjakarta, gallery Jogja, Christine Ay Tjoe indonesia, pameran Jogja, visual arts Jogjakarta, FX Harsono Yogyakarta, art books indonesia, Eko Nugroho indonesia, indonesia, exhibition Jogja, proyek Jogja, fine art indonesia, Melati Suryodarmo indonesia, seni instalasi indonesia, katalog indonesia, Jompet Yogyakarta, new art trends Jogja, proyek seni Yogyakarta, art house Jogja, rumah seni, Popok Tri Wahyudi Yogyakarta, installation art Yogyakarta