Pameran Tahun 2004

Batu Bata Tanah Air

6 - 24 Desember 2004

Nadiah Bamadhaj dan Tian Chua

Segera ketika sebuah gedung, jalanan atau monumen dibangun, maka pada saat itulah mulai sebuah sejarah. Sejarah itu merepresentasikan pada kita bagaimana kematian datang menjemput kita. Jika representasi itu tidak akurat, maka pikiran, perasaan dan perhatian yang Anda miliki akan mati bersama Anda, dan apa yang tertinggal di tempat Anda hanyalah batu-bata dan nisan yang memberikan propaganda tentang siapa Anda.

Bangsa Malaysia merupakan bangsa yang mempunyai kebudayaan, latar belakang etnik, penghidupan dan ketertarikan yang sangat  mejemuk. Dalam 30 tahun terakhir, melalui satu dari sistem politik berbasis ras yang dipraktikkan selain di Israel dan mantan negara apartheid Afrika Selatan, Malaysia dikategorikan secara etnis ke dalam kelompok Melayu, India, dan Yang Lain (Other). Pembedaan ini pula yang kemudian mendorong dipertahankannya pemisahan rasial dalam ranah ekonomi dan politik , dan terus dikontrol praktiknya oleh elite kekuasaan.

Tapi fenomena di atas “tidaklah rasis”. Dalam kenyataannya, pemisahan itu diterima oleh mayoritas populasi. Tetapi ketika kita dipaksa secara tak sadar untuk memilih ras tertentu, dan diasumsikan kita akan berbagi lebih banyak hal yang sama dengan orang-orang yang satu ras tersebut, merupakan sesuatu yang memukul (?).

Beberapa proyek arsitektural yang dilakukan negara pada periode yang sama juga mulai merepresentasikan rasialisasi ini. Dan pada periode itu, proyek tersebut mengabaikan kategori-kategorinya sendiri yang telah terkonstruksi sedemikian rupa, dimana satu ras berada “di atas” ras yang lain. Arsitektur negara di masa mendatang tampaknya tidak akan bisa menggambarkan pluralitas masyarakat yang seharusnya direpresentasikannya, dan justru menggambarkan sebuah masyarakat terbayang yang terdiri dari pelbagai ras yang dikonstruksi. 

Proyek berjudul Batu Bata Tanah Air ini merupakan usaha dari seniman Nadiah Bamadhaj dan aktivis hak asasi manusia Tian Chua, untuk  memandang rasialisasi Malaysia dalam ranah infrastruktur dan bahasa di masa kini, dan membayangkan masa depan mereka sendiri, seratus tahun mendatang.

In the Shadow of Light

4 - 30 November 2004

Performance Art Exhibition (Artists: Teater Garasi, Gumarang Sakti Dance Company)

Seni pertunjukan, sebagai bentuk seni yang mempunyai karakter lintas disiplin, telah membuka kemungkinan kerja-kerja kolaborasi dengan bidang seni rupa sejak awal perkembangannya. Seni pertunjukan, pada dasarnya, selalu melakukan usaha untuk mentransformasikan gagasan ke bentuk visual yang akan menjadi bagian tak terpisahkan dari keseluruhan pertunjukan tersebut. Proses visualisasi inilah yang akan merepresentasikan wacana yang mereka angkat dalam bentuk simbol visual ke atas panggung, misalnya melalui pengadeganan, tata ruang, atau komposisi koreografi. Singkat kata, dapat dikatakan bahwa elemen visual dalam seni pertunjukan mempunyai posisi yang sama pentingnya dengan teks, aktor, dan sebagainya.

Dalam dunia seni pertunjukan kontemporer, kekuatan yang dimiliki elemen-elemen visual yang ditampilkan di atas panggung bahkan telah membuat pertunjukan menjadi lebih artikulatif. Keseimbangan antara kata dan citra (imaji) dalam dunia seni pertunjukan telah bergeser: sisi visual dari seni pertunjukan bergerak makin mendekati pusat panggung, dengan mendapatkan penguatan posisi dari teks, penyutradaraan, dan akting para aktor.

Dari zaman ke zaman, dapat dikatakan bahwa seni rupa selalu memberikan kontribusi yang besar dalam seni pertunjukan. Seni rupa menyediakan medium bagaimana gagasan yang awalnya bersifat abstrak diturunkan menjadi bentuk benda-benda yang “berbicara”. Pada perkembangannya, seni pertunjukan seringkali mengundang seniman seni rupa untuk melakukan kerja kolaborasi dalam mewujudkan desain panggung. Kerja kolaborasi ini, sesungguhnya, merupakan tantangan bagi para seniman senirupa untuk melakukan dialog yang lebih jauh dengan seni pertunjukan.

Pameran ini mengajak pengunjung untuk merekonstruksi kembali makna dari benda-benda visual yang biasanya diletakkan di panggung dan melihatnya sebagai karya visual yang kontekstual.

FOLLOW THE RABBIT

6 - 28 Oktober 2004

Gusbarlian & Ramla Istibar

Gusbarlian dan Ramla Istibar, gb+ramla, adalah duo seniman yang mulai bekerja bersama sejak tahun 2003. Melalui kalimat "follow the rabbit" duo ini mencoba mengajak siapa saja untuk memasuki dunia fantasi mereka.

"Kelinci putih, sang juru kunci wonderland, mungkin adalah satu-satunya makhluk yang sangat ingin kami temui saat ini. Dan semoga Ia bersedia membawa kami pergi ke hutannya yang indah."

Melalui karya-karya mereka, Gusbarlian dan Ramla Istibar mencoba bercerita tentang dunia yang mereka masuki. Bagai Alice atau Neo yang mengikuti Kelinci Putih, masuk ke wilayah yang (mungkin?) sangat tidak nyata, mereka bercerita tentang sebuah dunia dimana fiksi adalah kebenaran, fakta hanyalah fantasi yang indah. Dunia yang segala sesuatu didalamnya (sesungguhnya) ada di dalam kepala mereka sendiri. Tercipta sebagai hasil dari hubungan yang unik diantara mereka berdua. Antara Gusbarlian dengan Ramla Istibar, laki-laki dengan perempuan, fiksi dengan kenyataan dan sang pencipta dengan ciptaannya.

Melalui pameran ini, Gusbarlian dan Ramla Istibar mencoba mempertanyakan bahkan mereduksi semua hal yang selama ini mereka hadapi dan percayai. Seni, kehidupan sosial dan ekonomi, persoalan gender, eksistensi, tubuh dan pikiran, norma bahkan eksistensi mereka sendiri dan keberadaan Tuhan, yang bagi mereka semua itu lebih banyak berbentuk mitos dan imajinasi.

Pameran yang dikurasi oleh Aminuddin Siregar ini agaknya juga cukup penting bagi perjalanan kesenian Gusbarlian dan Ramla Istibar. Karena, melalui pameran ini keduanya mencoba mengukuhkan diri sebagai "duo artist", setelah sebelumnya lebih banyak bekerja sendiri-sendiri. Dengan singkat mereka menyebut diri mereka gb+ramla dengan satu alasan sederhana : "mungkin kami adalah pasangan terbaik sepanjang masa. Sebab kami adalah Shakespears dan Juliet,  yang sangat menggemari feminisme."

Pink Man in Paradise

4 - 30 September 2004

post-bomb Bali, 2003

Manit Sriwanichpoom and performance in photographs by Sompong Thawee

“Seperti halnya mayoritas turis, dia bepergian bukan untuk mengkonsumsi: mengumpulkan tujuan eksotis, berbelanja, pamer…”
(Manit Sriwanichpoom)

Pink Man in Paradise, melalui kemahiran seniman Thailand, Manit Sriwanichpoom, yang merupakan serial satir terbarunya yang ditampilkan melalui melalui fotografi dengan tokoh the Pink Man. The Pink Man menyatakan perannya dalam cerita Manit sebagai seorang pengembara yang tersesat dalam masa konsumerisme. Dengan pakaian berwarna fuchsia, the Pink Man mendorong trolley berwarna merah muda menyolok yang kosong mengelilingi Asia, Eropa dan kemudian -sesaat setelah bom Bali- melalui pulau yang masih belum dikenal sebagai tujuan rahasia wisatawan yang mematikan.

Pada tengah malam, 12 Oktober 2002 lalu, sebuah bom meledak di depan sebuah kelab malam di Bali, menewaskan 202 wisatawan asing -yang sebagian besar adalah warga negara Australia—dan melukai ratusan orang. Hal ini merupakan preseden buruk terhadap serangan teroris dalam sejarah pulau Dewata (Bali). Perang terhadap terorisme yang didanai oleh presiden Amerika, George W. Bush dan sekutunya, bukan malah menyiasati permasalahan yang ada dari akarnya tetapi malah seperti menyiramkan bensin pada api. Karpet telah ditarik dari bawah kaki kita. Tidak jauh berbeda dengan “The Pink Man”, sebuah perwujudan/symbol dari konsumerisme. Sebagaimana biasanya wisatawan-wisatawan dan para pencari sensasi di semua tempat, ego “Pink man” merupakan tampungan ketakutan dan ketidakstabilan, kenaifan yang hilang tanpa melahirkan sebuah kebijaksanaan, selama dia tinggal di pulau Bali untuk pencarian atas surga-nya yang hilang.

Manit Sriwanichpoom (lahir di Bangkok, Thailand, tahun 1961) menyelesaikan program Bachelor seni rupa di Universitas Srinakharinvirot, Bangkok. Melalui fotografi dan video, dia mengekspos kelemahan masyarakat Thailand. Juga melalui gabungan menarik antara gambar-gambar dangkal dan pernyataan politik.

Genosida budaya

5 - 31 Agustus 2004

Moelyono with the Art Community Foundation, is a facilitator for strengthening local culture in the village of Tulungagung. Ponorogo, pacitan, east Java. And supported by AKY-INSIST

Ketika kenduri dirumah warga desa Pacitan: seorang warga bertanya: pak moel, berapa harga beras per-kilo di Tulungagung. Saya jawab secara antusias -tahu jawabannya, karena seminggu sekali bersama istri kulakan beras ke toko pecinan sebagai usaha warung kecil di rumah-: harga beras jenis 64 per-kilo Rp.2.450, jenis Bramu per-kilo Rp. 2.900 Warga menimpali: mengapa di mana-mana harga beras murah. membuat petani rugi tidak sesuai dengan modal membeli benih, pupuk, pestisida, biaya tenaga.Harga beras murah membuat petani miskin. Petani miskin karena tidak bisa menentukan harga beras. Siapa yang menentukan harga beras? siapa yang menentukan harga pasar? Harga sepeda motor di Pacitan sama mahal dengan harga di Jakarta. Harga langsung mengikuti ukuran nasional dan langsung mengikuti kurs dollar internasional. Harga beras harus tunduk pada harga pasar bebas internasional dengan siapa pemerintah Indonesia melakukan perjanjian pasar. Dalam pasar bebas, kelompok pemilik kapital besarlah yang menentukan harga.

Bisakah petani mandiri? Pertanyaan ini melahirkan kesadaran: munculnya pembahasan ini dari obrolan kumpulan kenduri. Maka jika warga berkegiatan dalam kumpulan budaya tani digunakan sebagai sarana membahas persoalan sosial, ekonomi, budaya, poltik untuk merencanakan tindakan. Praksis sekarang adalah penguatan sel-sel institusi informal budaya petani sebagai metodologi penyadaran untuk transformasi sosial.

Moelyono dengan Yayasan Seni Rupa Komunitas adalah fasilitator penguatan budaya lokal di desa-desa Tulungagung, Ponorogo, Pacitan, Gunung Kidul, Maumere, Kupang, Janeponto, Maluku.

 

Welcomeback Mayo’nnaise

20 - 30 Juli 2004

Eko Nugroho

Pada April-Juni 2004 yang lalu, Eko Nugroho, perupa yang aktif di kelompok "Daging Tumbuh", mendapatkan kesempatan untuk mengikuti program residensi di Amsterdam Grafisch Atelier. Pameran ini merupakan semacam presentasi dari proses residensi yang dilakukan Eko di Belanda. Eko akan menggelar karya-karya yang merupakan bagian dari proyek yang dilangsungkannya selama berada di sana. Pameran ini akan menjadi semacam presentasi dari Eko atas pengalaman keseharian Eko serta proses kreatifnya dalam sebuah lingkungan yang sama sekali berbeda dengan apa yang terjadi di Indonesia. Eko akan menampilkan dokumentasi-dokumentasi tentang proses kerjanya di sana, apa saja yang dilakukannya selama berada di sana, persentuhannya dengan kebudayaan dan masyarakat yang berbeda, serta apa saja yang didapatkannya dalam rentang waktu 3 bulan tersebut. Dokumentasi ini mewujud dalam beragam bentuk: foto-foto, drawing yang menjadi semacam buku harian, faktur-faktur belanja, pernak-pernik sehari-hari, catatan-catatan tentang hal-hal yang menarik dan mengesankan baginya, dan sebagainya.

Pameran ini berusaha membuka ruang yang lebih luas untuk terciptanya dialog antara Eko Nugroho dengan publik, tentang makna dan nilai penting dari kegiatan residensi bagi proses kreatif. Dokumentasi dan karya yang menjadi pameran ini kiranya harus didukung dengan adanya dialog yang akan menjelaskan kisah-kisah yang ada di sebalik materi pameran tersebut, sehingga kisah-kisah itu dapat dibagi pada publik dengan konteks yang sesuai, seperti apa yang dialami Eko selama berada di Belanda.

Pembukaan pameran akan diisi dengan presentasi lisan-semacam artist's talk-oleh Eko dengan tajuk: "Pengalaman Personal dan Pengaruhnya terhadap Proses Kreatif Saya Selama di Belanda". Eko akan menceritakan secara langsung bagaimana lingkungan sosial-budaya dan berbeda, dan pengalaman-pengalaman yang didapatkannya selama berada di lingkungan yang "asing" tersebut memberikan pengaruh terhadap terciptanya gagasan dan berlangsungnya proses kreatif.

Memasak & Sejarah

9 Juni - 15 Juli 2004

Klinik Seni Taxu

Masakan punya sejarah tersendiri yang tertuang dalam dokumen-dokumen berbentuk resep masakan yang diwariskan secara turun-temurun penuh rahasia. Sejarah memasak memiliki "narasi-narasi besar"nya sendiri, yang kadang tak kalah penting dengan rahasia negara yang harus dijaga rapat-rapat. Kalau di negara kita, proses menjaga rahasia perusahaan itu demikian ketat, bahkan tangan-tangan lembaga konsumenpun tak mampu memaksa perusahaan-perusahaan makanan untuk mempublikasikan resep/kandungan bahan makanan andaipun terbukti berbahaya bagi konsumen.

Pameran ini mencoba mencari kaitan antara memasak dan sejarah. Memasak sebagai aktivitas mengolah sesuatu (bahan makanan plus bumbu) sedangkan sejarah sebagai hasil racikan gurih penuh bumbu (mitos, heroisme) oleh pihak penguasa, yang terkadang kelewat gurih sehingga menyerupai babad atau mitologi.

Hubungan yang terlihat adalah seputar "kegiatan meracik dan hasilnya". Kalau dilebarkan mungkin persilangan dua tema itu kelak bisa menghasilkan paduan-paduan seperti "Sejarah Memasak", "Memasak & Sejarahnya" atau mungkin "Memasak Sejarah". Yang terakhir itu bisa berkonotasi "memasak sejarah hingga matang untuk disajikan di atas meja makan".

Makanan (hasil kegiatan memasak) dan sejarah sama-sama harus dikonsumsi kalau anda ingin sehat wal-afiat. Namun yang jelas makanan lebih enak dikunyah dibanding sejarah yang terkadang tidak hanya pahit di lidah tetapi juga bisa merusak pencernaan dan mengakibatkan sembelit.

Klinik Seni Taxu didirikan oleh beberapa mahasiswa seni di Bali pada tahun 2001. Menjadi ruang alternatif dalam mewujudkan berbagai gagasan seni yang mampu menawarkan pokok persoalan baru, segar dan orisinal bagi seniman dari berbagai latar belakang adalah salah satu tujuan mereka. Pameran ini melibatkan 11 orang anggotanya, yakni: I Wayan Suja, Wayan Arsana, Sri Yoga Partha, Made Muliana, I Gde Puja, I Ketut Moniarta, I Putu Sumiantara, Komang Agus Purnama Santhi, Hendra, Made Dodit Arthawan dan Dewa Ngakan Ardana.

Good looking for all seasons

7 Mei - 4 Juni 2004

S.Teddy.D, Tohjaya Tono, Cahyo Basuki Yopi, Yustoni Volunteero

S. Teddy D., perupa yang mencoba menawarkan sebuah gagasan baru dalam pameran kali ini. Keterlibatannya dengan 3 orang temannya telah melahirkan gagasan kesenian yang merujuk pada proses kuratorial pameran yang memuat sebuah kisah berempat: Cahyo Basuki Yopi, S.Teddy D., Tohjaya Tono dan Yustoni Volunteero. Akan berkisah dengan cara bermain main dan berbahagia selalu.

“Layaknya sebuah judul film yang sering kita jumpai di banyak tempat dengan mudah, “Good looking for all seasons” diambil sebagai judul pameran ini. Diilhami dari banyaknya film yang diproduksi dalam dewasa ini, banyak ragam keajaiban dibuat, yang kemudian menjadi inspirasi dan kecanduan bagi penikmat. Merekam kejadian adalah hal yang sangat menakjubkan, sampai-sampai teknologi baru-pun menjadi sebuah kenikmatan lebih bagi kita. Film menjadi sebuah kesenian dan menjadi industri yang baru, citarasa  baru, dunia yang baru dan cara berpikir yang baru.

Kami berempat? Kenapa tidak? Kami bisa seperti Stephen Spielbergh, Jackie Chan, Benyamin S, Binyo atau bahkan Mariadi Sudrajat (paling tidak menurut kami sendiri). Kami menemukan suatu kesepakatan seolah-olah Hollywood adalah kampus dan buku yang lain”.

Keempat seniman ini tinggal dan bekerja di Yogyakarta.

Hidup adalah Pelacur, beri aku lebih

28 April - 4 Mei 2004

Maroussia Rebecq

Lahir tahun 1975, hidup dan bekerja di Paris. Dulunya sebagai asisten seniman Thomas Hrischhorn dan Annette Messager, menjadi direktur agency seniman Andrea Crew. Menggunakan media: video, fotografi, pertujukan dan peragaan busana.

"Kesan Indonesia yang paling mengejutkan saya adalah perempuan berkerudung naik motor dan ngebut di jalan raya Yogyakarta. Paradoksnya gambaran ini datang dari visi barat tentang kungkungan islam seksis yang ada sekarang ini. Bayangan selintas namun melekat di pikiran dalam konteks geopolitik.

Saya memakai busana untuk menciptakan sebuah pertanyaan dunia estetik yang ada pada dogma generik, saya mencoba mencari guratnya dan menawarkan alternatif.."

Maroussia menggunakan imaji tubuh, pada kebebasan dan perempuan serta mengekplorasi jilbab sebagai objek siap pakai. Ia sendiri seorang feminis yang lucu, individu barat yang modern dan seniman perempuan yang mendayakan pribadinya sebagai tubuh untuk bereksperimen. Tujuannya bukan membuat obyek, namun menciptakan bentuk hidup, cara bertindak, dan prinsip kebebasan. Jilbab, diluar konteks, diluar kesakralannya, bukan sekedar aksesoris berbusana "anggun dan eksentrik" dalam masyarakat yang jelas mengunci diri mereka sendiri.

CONCERN

10 - 26 April 2004

A CONSTRUCTED WORLD, DAMP, PEDAGOGICAL VEHICLE PROJECT

STUART KOOP

Banyak seniman telah bersikap kritis terhadap bentuk-bentuk sapaan pada publik yang massal dan, sebagai gantinya, condong pada perjumpaan dengan publik yang kecil, perjumpaan yang nyaris satu lawan satu dengan audiens. Alih-alih menyapa kelompok besar sebagai "kelas" atau sebagai "publik", atau sebagai "audiens", bentuk-bentuk perjumpaan sosial dalam kesenian ini menjelajahi kemungkinan hubungan antara seniman dan warga audiens. Dan ada kalanya karya seni menjadi landasan terbentuknya komunitas sementara yang baru dalam interaksi antara seniman dan audiens.

Pameran ini meliputi karya-karya para seniman, yang seringkali bekerja di tengah publik dan berkolaborasi, terutama dalam kelompok-kelompok seniman, untuk menyegarkan kembali hubungan antara seniman dan audiens sebagai sebuah model hubungan sosial yang lebih vital. Estetika baru ini tidak terutama bersifat "relasional" melainkan lebih didasarkan atas kepedulian pada orang lain, suatu faktor yang genting, krusial, dalam pembentukan komunitas dan fungsi yang sepatutnya (yang ideal, barangkali) dari masyarakat.

Monet Tok Tan’ni-Skills for life

5 Maret - 5 April 2004

Biboki weavings

Yayasan Tafeah Pah, Ibu Yovita Meta

Pameran tenun ikat kontemporer karya Yayasan Tafaen Pah, Biboki, Timor Barat

Pameran ini sebelumnya diadakan di Pusat Kebudayaan Belanda Erasmus, Jakarta, berkenaan dengan penyampaian Prince Claus Award untuk Yayasan Tafaen Pah (YTP) dan pimpinannya, Ibu M. Yovita Meta.

Ada dua prestasi istimewa yang dicapai YTP. Yang pertama YTP berhasil mengelola pelestarian dan pemeliharaan sebuah bentuk seni tradisi, yaitu kain tenun Biboki, selama lebih dari 13 tahun, sehingga menjadikan kain tenun Biboki diakui dan dikukuhkan sebagai bentuk seni kontemporer. Yang ke dua, YTP secara terus menerus meningkatkan status budaya, sosial dan ekonomi para pembuat kain tenun ini. Kekuatan YTP terletak pada kesadaran bahwa proses untuk mempertahankan pusaka yang berharga ini bisa terjadi jika seiring sejalan dengan perkembangan masyarakat Biboki sendiri. Integritas sikap seperti ini justru menegaskan kembali akan peran kesenian dan praksis budaya sebagai wahana yang kritis untuk pemberdayaan dan pertumbuhan masyarakat.

Lingkungan alam pun terbukti dapat menjadi sumber inspirasi yang dapat diandalkan dalam lebih dari 40 disain motif yang teridentifikasi, dan variasi-variasinya yang menjadi disain motif tenun Biboki sekarang.

Kain tenun Biboki kini dibuat untuk kebutuhan lokal, keperluan sehari-hari, ritual, maupun untuk kebutuhan pasar luar negeri, namun justru kombinasi disain motif yang istimewa, warna-warna alam, dan ketrampilan teknik dalam mencipta kain-kain tenun inilah yang membawa kaum perempuan Biboki berhasil mencapai posisi yang terbaik di antara pencipta tekstil di seantero Asia Tenggara.

Pameran ini dikurasi oleh Joanna Barrkman dari Museum and Art Gallery of the Northern Territory, Darwin, Australia.

Discussion with Yovita Meta, Nia Fliam, Dyan Anggraini, Dr.Lono Lastoro Simatupang March 17, 2004

A Small Life Sweetener

17 - 21 Januari 2004

Ye Shufang

Situasi terkini, seperti serangan teroris dan SARS, di beberapa negara di Asia menjadi katalisator kuat dalam gagasan instalasi ini. Beberapa waktu yang lalu pameran tunggal saya di Rumah Seni Cemeti sempat tertunda karena SARS dan terorisme. Keharmonisan politik dan toleransi diantara negara-negara Asia yang begitu lembut dan terjaga dimasa silam telah terpengaruh. Dengan pertimbangan itu saya memutuskan untuk menggunakan suasana tersebut sebagai konsep dasar instalasi "PROJECT: Small Sweets"

Instalasi ini akan dibuat dari perbesaran gambar beberapa macam gula-gula/permen yang dapat dibeli di Singapura. Gambar-gambar tersebut, termasuk komposisi gula-gula/permen, negara penghasil dan tanggal kadaluwarsa, akan dicetak pada dinding galeri. Di tengah galeri disediakan sebuah tempat bagi pengunjung untuk memberikan informasi tentang jenis gula-gula/permen yang mereka pilih dengan menyertakan alamat lengkap. Pada akhir pameran, Rumah Seni Cemeti akan mengirimkan informasi tersebut kepada saya dan saya akan mengirimkan gula-gula/permen tersebut kepada mereka.

Walau harus saya akui bahwa ada ketakutan untuk melakukan perjalan ke Indonesia, saya harus mencari jalan untuk menciptakan karya seni yang menyatakan keadaan tersebut, daripada hanya dengan mengirimkan beberapa karya menyeberangi lautan. Meskipun dalam sejarah dan perkembangan seni di mata situasi politik menilai bahwa efektifitas seni tidak bisa melebihi fungsi kritik. Dalam instalasi ini, hal terkecil yang paling bisa dilakukan kesenian adalah dengan menyebarkan sedikit rasa manis menyeberangi lautan. Hal ini mungkin tidak akan menjadi penyelamat hidup tapi dapat mempermanis hari-hari dengan cara yang sederhana.

Ye Shufang lahir di Singapura , belajar di LASALLE-SIA College of the Arts, Singapura, dimana dia mengajar sekarang.

indonesian art Jogja, Tita Rubi indonesia, Muyono indonesia, tren baru Yogyakarta, Terra Bajraghosa Jogja, video art Yogyakarta, art Jogja, Ruang Seni indonesia, Angki Purbandono Yogyakarta, visual arts Jogjakarta, Seni Rupa indonesia, buku seni Yogyakarta, art discours Jogja, art house Jogjakarta, seni rupa asia Yogyakarta, art space indonesia, rumah seni, buku seni Jogjakarta, lukisan Yogyakarta, seniman muda Jogja, photography Yogyakarta, Seni Rupa kentemporer Yogyakarta, contemporary art Jogjakarta, seni rupa asia Jogjakarta, rumah seni, Ugo Untoro indonesia, fotografi Jogja, proyek Jogja, Muyono Yogyakarta, contemporary art Yogyakarta, Wimo Ambala Bayang Jogjakarta, tren baru Jogjakarta, Krisna Murti indonesia, contemporary art indonesia, Eko Nugroho Jogjakarta, landing soon indonesia, Eko Prawoto indonesia, Asian artists Yogyakarta, installations indonesia, fotografi Yogyakarta, Asian artists Jogja, pertukaran Jogjakarta, Tita Rubi Jogjakarta, Jompet Jogjakarta, paintings Yogyakarta, indonesia, Mella Jaarsma Jogjakarta, photography indonesia, Muyono Jogja, Christine Ay Tjoe Yogyakarta, catalogues Jogjakarta, katalog Jogjakarta, catalogues indonesia, video art Jogja, Eko Prawoto Jogja, tren baru indonesia, Mella Jaarsma Jogja, Ruang Seni Jogja, seniman asia Yogyakarta, Seni Rupa kentemporer indonesia, art space Jogjakarta, Galeri Jogjakarta, seniman muda Jogjakarta, exhibition Yogyakarta, art house Jogja, lukisan indonesia, seniman muda indonesia, installations Jogja, fine arts indonesia, FX Harsono Jogjakarta, catalogues Jogja, paintings Jogja, proyek seni Jogja, gerakan seniman muda Yogyakarta, S. Teddy D. Yogyakarta, project Jogjakarta, new art Jogja, Handiwirman Jogja, art house Yogyakarta, Jompet indonesia, gallery Jogja, fine arts Jogja, new art trends Yogyakarta, Angki Purbandono indonesia, gerakan seniman muda Jogja, rumah seni, Popok Tri Wahyudi indonesia, art exchange Jogjakarta, Seni Rupa Jogjakarta, katalog Yogyakarta, Anusapati indonesia, gambar indonesia, art works indonesia, wacana seni rupa Jogja, Asian art Jogjakarta, cemeti Yogyakarta, art space Yogyakarta, Seni Rupa Yogyakarta, pameran Yogyakarta, fine art indonesia, Galeri Jogja, Christine Ay Tjoe Jogjakarta, indonesian art Jogjakarta, Wimo Ambala Bayang Yogyakarta, Agus Suwage indonesia, Eko Nugroho indonesia, art projects Yogyakarta, Jogjakarta, cemeti Jogja, fine arts Yogyakarta, fotografi Jogjakarta, art exchange Yogyakarta, instalasi Jogjakarta, S. Teddy D. Jogja, gallery Jogjakarta, art residency Jogja, Jogja, art projects Jogjakarta, proyek indonesia, Popok Tri Wahyudi Jogja, fotografi indonesia, Krisna Murti Yogyakarta, contemporary art Jogja, seni rupa modern indonesia, new art trends indonesia, installation art Jogjakarta, Ruang Seni Jogjakarta, art space Jogja, instalasi Yogyakarta, art discours Jogjakarta, gallery Yogyakarta, visual arts indonesia, fine art Jogjakarta, art residency Yogyakarta, art projects Jogja, proyek Yogyakarta, cemeti Jogjakarta, landing soon Yogyakarta, art exchange indonesia, sculptures Yogyakarta, cemeti Yogyakarta, Anusapati Jogjakarta, wacana seni rupa Jogjakarta, katalog Jogja, Ugo Untoro Jogja, art books Jogjakarta, gallery indonesia, Melati Suryodarmo Jogja, Anusapati Jogja, Melati Suryodarmo indonesia, installation art Jogja, art works Jogja, sculptures Jogja, installation art indonesia, patung Yogyakarta, pertukaran Jogja, exhibition indonesia, seni rupa asia Jogja, modern art Yogyakarta, Christine Ay Tjoe indonesia, patung Jogjakarta, S. Teddy D. indonesia, indonesian art indonesia, pameran indonesia, Seni Rupa Jogja, patung indonesia, fine arts Jogjakarta, cemeti Jogja, Asian art Yogyakarta, art works Yogyakarta, seni instalasi Jogja, cemeti indonesia, Mella Jaarsma Yogyakarta, Popok Tri Wahyudi Yogyakarta, Bunga Jeruk Jogja, modern art Jogja, seniman muda Yogyakarta, Bunga Jeruk indonesia, Nindityo Adipurnomo, video art indonesia, Angki Purbandono Jogjakarta, buku seni Jogja, modern art indonesia, visual arts Yogyakarta, new art Yogyakarta, photography Jogja, Asian artists indonesia, Terra Bajraghosa indonesia, instalasi Jogja, Ruang Seni Yogyakarta, Tita Rubi Yogyakarta, Eko Prawoto Jogjakarta, Asian art Jogja, indonesia, art books Yogyakarta, art books Jogja, new art trends Jogjakarta, Wimo Ambala Bayang indonesia, art discours Yogyakarta, Popok Tri Wahyudi Jogjakarta, drawings Jogjakarta, indonesia, new art trends Jogja, Terra Bajraghosa Jogjakarta, paintings Jogjakarta, tren baru Jogja, Yogyakarta, gerakan seniman muda Jogjakarta, Ugo Untoro Jogjakarta, lukisan Jogja, fine art Yogyakarta, Eko Nugroho Yogyakarta, paintings indonesia, Jompet Jogja, Nindityo Adipurnomo, pertukaran Yogyakarta, drawings indonesia, Handiwirman Yogyakarta, cemeti indonesia, Jompet Yogyakarta, art projects indonesia, instalasi indonesia, seni rupa modern Jogjakarta, seni rupa modern Jogja, pameran Jogja, art residency indonesia, art Jogjakarta, buku seni indonesia, rumah seni, art house indonesia, S. Teddy D. Jogjakarta, project indonesia, landing soon Jogjakarta, proyek seni Yogyakarta, seni kontemporer Yogyakarta, Nindityo Adipurnomo, art books indonesia, project Jogja, exhibition Jogjakarta, seniman asia Jogja, Handiwirman indonesia, Seni Rupa kentemporer Jogja, seni kontemporer indonesia, drawings Yogyakarta, Wimo Ambala Bayang Jogja, emerging artists indonesia, seniman asia Jogjakarta, gambar Yogyakarta, emerging artists Jogjakarta, photography Jogjakarta, modern art Jogjakarta, gambar Jogja, seni instalasi Jogjakarta, proyek Jogjakarta, Jogja, indonesian art Yogyakarta, Muyono Jogjakarta, Angki Purbandono Jogja, Jogjakarta, Ugo Untoro Yogyakarta, seni instalasi indonesia, indonesia, Melati Suryodarmo Yogyakarta, Asian artists Jogjakarta, seni kontemporer Jogjakarta, catalogues Yogyakarta, patung Jogja, Agus Suwage Jogja, new art Jogjakarta, exhibition Jogja, cemeti Jogjakarta, art discourse indonesia, art Yogyakarta, wacana seni rupa Yogyakarta, FX Harsono Yogyakarta, FX Harsono Jogja, installations Jogjakarta, Bunga Jeruk Yogyakarta, proyek seni indonesia, Anusapati Yogyakarta, lukisan Jogjakarta, Melati Suryodarmo Jogjakarta, new art indonesia, fine art Jogja, Agus Suwage Yogyakarta, seni kontemporer Jogja, seni instalasi Yogyakarta, art works Jogjakarta, Krisna Murti Jogjakarta, Galeri Yogyakarta, Krisna Murti Jogja, landing soon Jogja, Nindityo Adipurnomo, installations Yogyakarta, seni rupa modern Yogyakarta, pameran Jogjakarta, FX Harsono, seni rupa asia indonesia, Galeri indonesia, art indonesia, art exchange Jogja, Mella Jaarsma indonesia, Yogyakarta, wacana seni rupa indonesia, video art Jogjakarta, emerging artists Yogyakarta, drawings Jogja, pertukaran indonesia, sculptures indonesia, visual arts Jogja, proyek seni Jogjakarta, Eko Nugroho Jogja, art residency Jogjakarta, gerakan seniman muda, Handiwirman Jogjakarta, seniman asia indonesia, Terra Bajraghosa Yogyakarta, installation art Yogyakarta, Bunga Jeruk Jogjakarta, emerging artists Jogja, katalog indonesia, Tita Rubi Jogja, Seni Rupa kentemporer Jogjakarta, Christine Ay Tjoe Jogja, Agus Suwage Jogjakarta, gambar Jogjakarta, Asian art indonesia, Eko Prawoto Yogyakarta, sculptures Jogjakarta, project Yogyakarta