Pameran Tahun 2003

Exploring Vacuum II

2 - 31 Desember 2003

Yudhi Soerjoatmodjo, Samuel Indratma, F.X. Harsono, Sigit Pius, Krisna Murti, Arahmaiani, Asmudjo Jono Irianto, Tisna Sanjaya, Ade darmawan, Bambang Toko Witjaksono.

‘Exploring Vacuum’ menggali hubungan timbal balik yang teramat sengit dalam konteks ambiguitas antara individu dan kolektif, ego dan sosial, dipengaruhi dan mempengaruhi, merekayasa sekaligus menjadi tumbal.

Pameran ‘Exploring Vacuum II’ berlangsung sampai 31 December 2003.

‘Exploring Vacuum I’ sudah berlangsung pada 24 Agustus sampai 26 Oktober 2003. Akan ada banyak aktivitas lain selama periode ini dan buku Exploring Vacuum: 15 tahun Rumah Seni Cemeti akan di luncurkan pada Desember 2003.

Exploring Vacuum II
Artists dan kolaborasinya:

Ade Darmawan - Sulasmoro, seorang biosampler
Asmudjo Jono Irianto - seniman Dikdik Sayahdikumullah
Arahmaiani - penulis Sindhunata, animasi dan ilustrasi oleh Gamma, editing video bersama Jompet, penerjemah Agni Malagina Guritno dan Pramesthi Kirono Rani
Bambang Toko Witjaksono - komunitas Soboman dan komunitas Ngadinegaran
Fx. Harsono - seniman/perupa Hendrawan
Krisna Murti - Jejaring Art-networkers
Samuel Indratma - Gedek, Kesong, Ruli dan teman-teman
Sigit Pius - fotografer Wimo Ambala Bayang
Tisna Sanjaya - partner dan teman sepak bola
Yudhi Soerjoatmodjo - kelompok teater, seni pertunjukkan dan tari

Exploring Vacuum I

24 Agustus - 26 Oktober 2003

Agung Kurniawan, Anusapati, AG.Kus Widananto (Jompet), Eko Nugroho, Eko Prawoto, Jumaldi Alfi, Moelyono, Santi Arietyowanti, Syagini Ratnawulan.

Exploring Vacuum’ menggali hubungan timbal balik yang teramat sengit dalam konteks ambiguitas antara individu dan kolektif, ego dan sosial, dipengaruhi dan mempengaruhi, merekayasa sekaligus menjadi tumbal.

Displaced

10 Juli - 17 Agustus 2003

Hendro Wiyanto dan FX Harsono

Setelah rejim Orde Baru jatuh pada 1998, kehidupan sosial politik di Indonesia pun mengalami sejumlah perubahan bermakna. Rejim yang represif tidak ada lagi, kehidupan sehari-hari masyarakat pun menunjukkan arah, suasana dan dinamika yang baru. Termasuk di dalamnya adalah kecenderungan politik kebudayaan yang diterapkan di Indonesia. Sebagai ganti suasana otoritarian yang memusat, pelbagai otoritas baru pun muncul dari bawah.

Dalam situasi semacam itu, FX Harsono mempertanyakan di mana posisi keseniannya.
Pertanyaan semacam itu kemudian berkembang menjadi pertanyaan, "Siapa saya ini?" Dengan kata lain, FX Harsono tiba pada pertanyaan tentang identitas kulturalnya.

Dilahirkan sebagai keturunan Cina di Indonesia, Harsono merasa tidak punya akar-akar budaya Cina. Politik kebudayaan di Indonesia di masa Orde Baru tidak memberikan tempat bagi berkembangnya budaya Cina yang masih dianut oleh sebagian orang keturunan Cina yang lahir di Indonesia. Sekolah-sekolah Cina ditutup, bahasa Cina dilarang digunakan di antara para penggunanya dan semua yang berhubungan dengan kebudayaan ini (bahasa, seni, dan tradisi) dilarang untuk dipraktikkan. Selama 35 tahun keturunan Cina di Indonesia terjauhkan dari budaya leluhurnya sendiri. "Secara geografis saya memang tinggal di Indonesia, tetapi secara kultural dan secara hukum saya tetap terpinggirkan," kata FX Harsono.

Pada saat mempertanyakan suatu teritori bagi identitas kulturalnya, ia pun menyadari hadirnya budaya global di seluruh dunia yang justru terus-menerus melakukan proses deteritorialisasi, di mana batas-batas apa saja ikut mengabur. FX Harsono kemudian terpancing untuk bertanya "nilai lokal semacam apa kiranya yang masih dapat saya ajukan? Bukankah saya sudah tecerabut pula dari akar-akar budaya leluhur saya? Dan bukankah identitas nasional saya sebagai orang Indonesia pun tidak juga punya arti secara kultural bagi saya?"

Situasi semacam ini tidak menyenangkan bagi FX Harsono. Dia mulai merasa perlu meninggalkan tema-tema sosial politik yang telah digeluti semenjak 1970-an, -mulai dengan "Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia". Seniman ini ingin menempatkan diri dan karya seninya lebih tepat dalam situasi baru yang memicu di dalam negerinya sendiri ("mapping"), sebelum akhirnya ia dapat dengan lebih jelas memberi nama bagi identitas barunya ("naming"). Ia berharap melalui proses itu ia dapat hadir kembali untuk merepresentasikan identitasnya sepenuhnya ke dalam karya-karyanya ("telling").

Dalam pencarian identitas kultural serta posisi kesenian semacam ini, dunia digital muncul kembali ke hadapannya. Melalui praktik desain grafis, penggunan komputer sebagai alat untuk menuangan ide-ide tidak asing bagi FX Harsono sejak 1980-an. Pada pameran ini ia menampilkan sejumlah karya grafis yang dikerjakannya dengan medium dan proses digital serta beberapa karya instalasi yang disusun dari elemen-elemen tidak jauh pula dari medium-medium print yang dicoba diakrabinya kembali.

Situasi serba terpinggirkan disebutnya sebagai "displaced". Masa ini baginya bermakna sebagai peralihan dari tendensi tema sosial politik dalam karyanya menuju pengucapan baru yang dia sendiri belum tahu apa dan menuju ke mana.

(SEDUCTION) BOYS DON'T CRY

18 Juni - 4 Juli 2003

Herra Pahlasari, Dewi Aditia, Prilla Tania, Syagini Ratnawulan, Ferial and Puji Siswanti.

Kita sekarang hidup di suatu era, dimana berbagai peristiwa hanya menjadi seperti kilatan-kilatan lampu mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi dijalan tol. Pertumbuhan stasiun televisi, media massa cetak dan internet secara global telah memberikan akses berbagai citraan baik berupa reproduksi foto dan film pada masyarakat luas secara utuh dan besar-besaran. Gambar-gambar yang membujuk rayu seperti iklan dan MTV berkelebat secara simultan mendera mata dan kadang dibarengi sedikit rangsangan yang menyentuh birahi. Membuat jutaan mata terpesona. Bagi seni rupa, percepatan gambar yang penuh bujuk rayu(seduction) bisa jadi akhir dari estetika yang meniscayakan kedalaman makna. Semuanya hanya sebatas pemenuhan hasrat yang binal. Dalam suasana seperti itu nilai menjadi begitu cair, berbagai dikotomi dalam masyarakat tak lagi bisa dipahami. Abad ini adalah masa dimana kita hidup diatas kematian "nature". Akhir sejarah, akhir ideologi dan akhir dominasi kaum lelaki.

Karya-karya ke-enam perupa muda perempuan ini merepresentasikan suatu tanda-tanda dimana bujuk rayu telah menjadi strategi artistik untuk mengemukakan persoalan seputar cinta, sex maupun hasrat kehidupan lainnya ditengah pencarian identitas dan konstruk yang umum. Lewat obyek-obyeknya mereka seolah ingin mencumbu pemirsa pada suatu batas keintiman yang sedikit mengganggu kemapanan. Maka cewek-cewek ini secara agresif bisa membuat para lelaki sedikit nista, suatu strategi fatal yang membuat para cowok mungkin menangis.

Herra Pahlasari, Dewi Aditia (Ade), Prilla Tania, Syagini Ratnawulan (Cagi), Ferial dan Puji Siswanti (Onet). Enam perupa muda dari Bandung, dalam pameran yang dikurasi oleh Rifky 'Goro' Effendy ini akan memamerkan karya-karya mereka mulai 18 Juni - 4 Juli 2003. Dimana pada pembukaan pameran akan diadakan performance dan artist talk, yang kemudian dilanjutkan dengan diskusi pada 19 Juni 2003.

REACH ME

6 - 30 Mei 2003

Christine Ay Tjoe

Pameran karya-karya seni rupa dengan media grafis dan gambar (drawing) dan Ay Tjoe Christine di Rumah Seni Cemeti, seakan-akan menjanjikan sebuah jeda bagi perbincangan sengit yang masih berlangsung di kalangan seni rupa, baik di Yogyakarta sampai seluruh Jawa. Perdebatan yang tiada henti-hentinya mengenai permasalahan sosial, dari yang paling genit sampai kepada yang paling tidak tahu diri, dari politik kekuasaan hingga rebutan pasar yang menggiurkan. Kualitas perenungan yang tersirat dari bukti-bukti panjang akan kedekatan Ay Tjoe pada medium grafisnya, menggetarkan; dan menyeret kita pada nilai-nilai universal, tidak dengan serta merta hendak mengabaikan posisi Ay Tjoe sebagai mahluk sosial, tetapi tetap saja menarik dan sangat penting meneropong pergulatan batin semacam ini, dialog pribadi dengan medium yang ia geluti semenjak masuk pendidikan formal seni rupa.
 
"....Niat menggeser diri, sama halnya menggeser sebuah gunung, keyakinan untuk tidak terikat pada posisi tertentu mengantar saya pada suatu kekayaan spiritual, ....'sakti'! "
 
Ay Tjoe Christine lahir di Bandung (1973) menyelesaikan pendidikan seni rupa di FSRD Institute Teknologi Bandung.

Read!

6 - 30 April 2003

Eko Nugroho, Bambang Toko, Bunga Jeruk, Nindityo Adipurnomo, S .Teddy.D, Hafiz, Cristine Ay Tjoe, Oky Arfie Hutabarat, Sigit Pius, Krisna Murti, Popok Tri Wahyudi, Tisna Sanjaya, Jumaldi Alfi, Arie Diyanto, Mella Jaarsma, Handiwirman, Bunga Jeruk, Wildan Antares, Agung kurniawan, Ade Darmawan, Anusapati

Hingga sekian waktu masyarakat umum di Indonesia cenderung dikenal lebih berbudaya oral daripada budaya tulis/baca (secara verbal). Konsep membaca (disebuah ruang baca) inilah, yang kemudian menjadi pokok pemikiran berkembangnya gagasan, untuk sebuah kurasi pameran yang pernah berlangsung selama tiga bulan di Perpustakaan The British Council Jakarta (Juli-September 2002), bekerja sama dengan Rumah Seni Cemeti. Konon pengunjung perpustakaan itu bisa mencapai empat ratus orang setiap harinya. Menyadari bahwa perpustakaan The British Council akhirnya menjadi sebuah stasiun lalu-lalangnya bermacam-macam ide, gagasan serta informasi dari dan untuk berbagai generasi. Menarik untuk mengundang seniman secara partisipatif menggali inspirasi, bekerja, dengan mempergunakan perpustakaan sebagai studio sekaligus ruang pameran, ruang interaksi karya-karya mereka. Membaca ulang pada dialog yang tengah berlangsung selama tiga bulan tersebut, pemikiran seterusnya berlanjut pada, tidak sekedar membaca kata, membaca tanda, membaca rupa dan sebagainya; tetapi misalnya membaca keadaan, memperkirakan perubahan sampai kepada misalnya membaca tanda-tnada jaman. Dengan demikian proyek penciptaan ini menjadi suatu rangkaian proses yang tetap saja berorientasi pada sebuah site spesifik, tanpa memaksa audience untuk terlebih dahulu mengalami serta memahami ‘site’ secara langsung. Membaca ruang baca yang berlapis-lapis!

Semua seniman yang berpartisipasi pada pameran READ di Perpustakaan The British Council akan hadir kembali di Rumah Seni Cemeti bulan April 2003 nanti, mendaur ulang dan menambah karya mereka yang baru, selain itu juga akan hadir pendatang baru yang menjadi sangat penting untuk meneruskan rangkaian proses gagasan ini.

Lekker Eten Zonder Betalen

2 - 30 Maret 2003

Ruang Rupa

Ruang Rupa pada kesempatan gelaran proyek seni rupa di Rumah Seni Cemeti ini; tidak secara kebetulan mereka memulai setting-nya di Jakarta beberapa tahun yang lalu, tidak pula menyia-nyiakan potensi tegangan yang muncul sebagai ruang altenatif seni rupa di Jakarta.

Jakarta yang khas, cepat, agresif, dangkal, digital, amoral nan sok moral, individual, alianated, chaos, sadis-masochistic dan sebagainya.

Kesepuluh (pekerja seni dan jaringan seni dari Jakarta ini, memaparkan pemikiran yang tidak selalu terkotak-kotak itu (tidak ada kurator, tetapi adalah kesepuluh orang) melalui berbagai cara dan atau medium. Perhelatan jamuan makan malam, interior, masak memasak, bermain musik, diskusi dan sebagainya. Mereka menciptakan suasana interaksi bermain, manusia dengan benda, benda dengan benda serta manusia dengan manusia; interaksi untuk menentukan sikap terhadap 'tembok galeri'. Senua sisa kejadian dan atau rekaman yang terjadi tertinggal/dibiarkan begitu saja sebagai obyek-obyek yang telah dibebani/diberi energi hingga masa pameran berakhir.
 
Ade Darmawan, Aditya Satria, Anggun Priambodo, Bondan, Elim, Farah Wardani, Hafiz, Henry Foundation, Indra Ameng, Irwan Ahmett, Lilia Nursita, Oscart Dekemano, Reza Asung, Rony Agustinus, Teresa Stok

fotografi Jogja, Handiwirman Jogja, exhibition Yogyakarta, modern art Jogja, patung Jogja, gambar Jogja, S. Teddy D. Jogjakarta, art books Jogja, indonesia, Ugo Untoro Jogjakarta, seni kontemporer Yogyakarta, Krisna Murti Yogyakarta, paintings Yogyakarta, Muyono Yogyakarta, art discours Jogja, pameran Jogjakarta, Galeri Jogja, art works indonesia, rumah seni, Nindityo Adipurnomo, sculptures Jogjakarta, Jompet Jogja, indonesian art Jogjakarta, Popok Tri Wahyudi Yogyakarta, art indonesia, Seni Rupa indonesia, FX Harsono Jogjakarta, Wimo Ambala Bayang Jogja, proyek seni Jogjakarta, Wimo Ambala Bayang indonesia, patung Yogyakarta, fotografi Jogjakarta, seni instalasi Jogjakarta, tren baru Yogyakarta, Tita Rubi Jogjakarta, Eko Prawoto indonesia, rumah seni, project Jogja, art books Yogyakarta, Seni Rupa Jogja, Angki Purbandono Jogjakarta, new art trends indonesia, Melati Suryodarmo indonesia, Jogja, Popok Tri Wahyudi indonesia, Jogjakarta, Jogjakarta, seni instalasi Yogyakarta, Terra Bajraghosa indonesia, new art Jogja, fotografi Yogyakarta, seniman asia Yogyakarta, FX Harsono, cemeti indonesia, installation art indonesia, proyek indonesia, Anusapati Yogyakarta, Krisna Murti indonesia, S. Teddy D. indonesia, video art Jogjakarta, Melati Suryodarmo Jogja, Ugo Untoro indonesia, gambar Yogyakarta, cemeti Yogyakarta, indonesian art indonesia, seni rupa asia indonesia, Terra Bajraghosa Yogyakarta, Yogyakarta, paintings Jogjakarta, Ruang Seni Yogyakarta, Bunga Jeruk Jogjakarta, gallery indonesia, buku seni Jogjakarta, Nindityo Adipurnomo, landing soon indonesia, Eko Nugroho indonesia, contemporary art indonesia, visual arts indonesia, proyek seni indonesia, pameran Yogyakarta, gerakan seniman muda Jogjakarta, art house indonesia, gallery Jogja, buku seni Jogja, tren baru Jogjakarta, art residency indonesia, Mella Jaarsma Jogja, photography Jogjakarta, project Yogyakarta, Christine Ay Tjoe indonesia, seni instalasi indonesia, katalog indonesia, seni rupa modern Yogyakarta, modern art Yogyakarta, lukisan Jogja, contemporary art Jogja, cemeti Jogjakarta, seniman muda Jogjakarta, rumah seni, gallery Jogjakarta, video art Jogja, installation art Jogjakarta, emerging artists Jogja, installation art Jogja, art space indonesia, pertukaran Jogja, wacana seni rupa Jogjakarta, instalasi indonesia, Nindityo Adipurnomo, contemporary art Yogyakarta, katalog Jogjakarta, rumah seni, Seni Rupa kentemporer Jogjakarta, installations indonesia, art house Jogja, exhibition Jogja, Seni Rupa kentemporer Yogyakarta, FX Harsono Jogja, new art Yogyakarta, art house Yogyakarta, instalasi Jogjakarta, Wimo Ambala Bayang Yogyakarta, fine art Jogjakarta, proyek Yogyakarta, sculptures Jogja, exhibition Jogjakarta, art space Jogja, seniman muda Yogyakarta, art books Jogjakarta, art projects indonesia, Tita Rubi Jogja, drawings Jogja, Jompet Yogyakarta, Ugo Untoro Jogja, Angki Purbandono Yogyakarta, Jompet indonesia, Seni Rupa Jogjakarta, Agus Suwage Yogyakarta, emerging artists Jogjakarta, art projects Jogja, visual arts Jogjakarta, art residency Jogjakarta, art discours Jogjakarta, Seni Rupa Yogyakarta, visual arts Jogja, Eko Nugroho Jogjakarta, gerakan seniman muda Yogyakarta, Galeri Jogjakarta, landing soon Yogyakarta, Handiwirman indonesia, Popok Tri Wahyudi Jogja, cemeti indonesia, seniman asia indonesia, pertukaran Jogjakarta, wacana seni rupa Yogyakarta, Seni Rupa kentemporer indonesia, Bunga Jeruk Yogyakarta, S. Teddy D. Yogyakarta, Handiwirman Yogyakarta, video art Yogyakarta, art works Jogjakarta, catalogues Yogyakarta, cemeti Jogjakarta, art projects Jogjakarta, Wimo Ambala Bayang Jogjakarta, sculptures Yogyakarta, Christine Ay Tjoe Jogja, S. Teddy D. Jogja, seni rupa modern Jogja, indonesian art Jogja, tren baru indonesia, indonesia, Angki Purbandono indonesia, Asian art Jogjakarta, art space Jogjakarta, emerging artists Yogyakarta, seniman muda Jogja, drawings indonesia, fine arts Yogyakarta, Asian artists indonesia, seni rupa modern indonesia, seni rupa asia Jogjakarta, seni kontemporer Jogja, gerakan seniman muda Jogja, art residency Jogja, Eko Nugroho Yogyakarta, Anusapati indonesia, photography Yogyakarta, cemeti Jogja, Asian artists Yogyakarta, exhibition indonesia, drawings Yogyakarta, seni kontemporer Jogjakarta, gambar Jogjakarta, seniman asia Jogjakarta, Christine Ay Tjoe Jogjakarta, new art Jogjakarta, proyek seni Yogyakarta, proyek seni Jogja, sculptures indonesia, art house Jogjakarta, wacana seni rupa indonesia, seni rupa modern Jogjakarta, art exchange Jogja, art books indonesia, buku seni Yogyakarta, Agus Suwage Jogjakarta, Popok Tri Wahyudi Jogjakarta, patung indonesia, new art trends Yogyakarta, pertukaran Yogyakarta, art Jogjakarta, art Yogyakarta, art exchange Jogjakarta, fine arts indonesia, Jogja, new art indonesia, wacana seni rupa Jogja, lukisan indonesia, Tita Rubi indonesia, patung Jogjakarta, catalogues Jogjakarta, seni rupa asia Jogja, catalogues Jogja, seniman muda indonesia, new art trends Jogja, Asian art Jogja, Asian art indonesia, art exchange indonesia, art Jogja, proyek Jogja, Mella Jaarsma Yogyakarta, cemeti Yogyakarta, katalog Yogyakarta, modern art Jogjakarta, project indonesia, seni instalasi Jogja, Ruang Seni Jogjakarta, seni kontemporer indonesia, lukisan Jogjakarta, visual arts Yogyakarta, art discourse indonesia, emerging artists indonesia, fine arts Jogja, Seni Rupa kentemporer Jogja, Eko Prawoto Jogja, Ugo Untoro Yogyakarta, Jompet Jogjakarta, Terra Bajraghosa Jogja, Mella Jaarsma Jogjakarta, Anusapati Jogja, installation art Yogyakarta, seni rupa asia Yogyakarta, Muyono Jogjakarta, Melati Suryodarmo Jogjakarta, Galeri Yogyakarta, catalogues indonesia, art residency Yogyakarta, buku seni indonesia, fine art indonesia, Asian artists Jogja, pameran Jogja, modern art indonesia, installations Jogja, project Jogjakarta, Eko Prawoto Jogjakarta, Terra Bajraghosa Jogjakarta, new art trends Jogjakarta, landing soon Jogja, Tita Rubi Yogyakarta, pertukaran indonesia, proyek Jogjakarta, paintings Jogja, Galeri indonesia, fine art Jogja, Krisna Murti Jogja, seniman asia Jogja, photography indonesia, art space Yogyakarta, Eko Prawoto Yogyakarta, indonesia, photography Jogja, instalasi Yogyakarta, indonesian art Yogyakarta, Mella Jaarsma indonesia, Handiwirman Jogjakarta, fine arts Jogjakarta, art works Yogyakarta, Yogyakarta, Melati Suryodarmo Yogyakarta, Eko Nugroho Jogja, FX Harsono Yogyakarta, Krisna Murti Jogjakarta, gambar indonesia, katalog Jogja, art discours Yogyakarta, art works Jogja, installations Jogjakarta, fine art Yogyakarta, gallery Yogyakarta, lukisan Yogyakarta, art projects Yogyakarta, Bunga Jeruk Jogja, video art indonesia, Agus Suwage Jogja, contemporary art Jogjakarta, drawings Jogjakarta, Agus Suwage indonesia, cemeti Jogja, Asian art Yogyakarta, Angki Purbandono Jogja, instalasi Jogja, Asian artists Jogjakarta, fotografi indonesia, Muyono indonesia, paintings indonesia, landing soon Jogjakarta, pameran indonesia, art exchange Yogyakarta, Ruang Seni Jogja, gerakan seniman muda, Ruang Seni indonesia, Christine Ay Tjoe Yogyakarta, Nindityo Adipurnomo, Anusapati Jogjakarta, Bunga Jeruk indonesia, installations Yogyakarta, Muyono Jogja, indonesia, tren baru Jogja