Pameran Saat Ini

wasted

16 Desember 2009 - 16 Januari 2010

Proyek Epik Multimedia | Rumah Seni Cemeti - Tomoko Mukaiyama Foundation

Tomoko Mukaiyama

wasted_web.jpg

Sunken Square, photo by Yuri Shirasaka

Konser Multimedia:

16 Desember 2009, 18.30

LIP [Lembaga Indonesia Perancis] Yogyakarta

Jl. Sagan No. 3

Bebas biaya masuk


Pembukaan Pameran:

16 Desember 2009, 20.30

Rumah Seni Cemeti

Jl. D.I. Panjaitan No.41 Yogyakarta

 

Artist Talk:

17 Desember 2009, 19.30

Rumah Seni Cemeti

Jl. D.I. Panjaitan No.41 Yogyakarta

 

wasted 

‘wasted adalah proyek seni internasional yang menantang kefanaan atas kualitas feminin untuk melahirkan; ide, kreasi dan tidak hanya untuk menghasilkan keturunan. Energi seperti apa yang dirasakan seseorang antara dirinya dengan karya seni, atau musik yang diperdengarkan? Atau antara dirinya dengan sang seniwati dan bahkan dengan orang di sebelahnya? Bagaimana menangkap energi ini dan lantas memindahbentukkannya ke dalam suatu kreasi atau pemikiran baru?  


Seniwati Jepang serba bisa, Tomoko Mukaiyama, selalu membangun hubungan dengan penonton dalam setiap pertunjukan pianonya. Ia menguji apa yang terjadi pada energi tersebut selama dan setelah waktu yang dilewatkan bersama penontonnya. 


Pameran ‘wasted’ selalu dibuka dengan konser multi media berdasarkan pada karya Bach, ‘Goldberg Variations’, dan ungkapan-ungkapan artistik yang diterima Tomoko dari para partisipan yang berasal dari berbagai belahan dunia. Mereka terlibat dalam proyek ‘wasted’ dan mengirimkan kembali energi yang telah tertransformasi dalam bentuk ungkapan-ungkapan artistik kepada sang perupa.  


Karya instalasi yang digelar di Rumah Seni Cemeti adalah semesta rok sutera putih yang tak terhitung banyaknya, yang dapat menjadi seperti kulit lapisan kedua bagi seseorang. Rute penuh petualangan menembus dinding-dinding sutera halus akan merengkuh dan meluapi Anda dengan kekuatan estetis yang luar biasa. 


Tomoko Mukaiyama meminta para pengunjung untuk berpartisipasi dan membuat ungkapan artistik yang akan diintegrasikan ke dalam konser multi media pada pementasan berikutnya. Pengunjung perempuan di Yogyakarta diundang untuk menerima sehelai rok sutera secara cuma-cuma dengan dua syarat yang ia ajukan: mengenakan baju tersebut selama ‘waktu bulanan’ dan kemudian mengirimkan kembali pengalaman emosional dan fisikal mereka dalam sebuah ungkapan artistik kepada Tomoko Mukaiyama. Ungkapan dari ribuan perempuan dari seluruh dunia dapat berupa suara, puisi, teks, foto, video atau yang lainnya. Pengunjung laki-laki juga ditantang untuk melakukan hal serupa. Semua bisa terlibat dengan menghadiri konser dan pameran yang diadakan.


Untuk keterangan lebih lanjut, datang dan kunjungilah konsernya di LIP pada hari Rabu,16 Desember 2009 pukul 18.30 dan dilanjutkan dengan pembukaan pamerannya pada hari dan tanggal yang sama di Rumah Seni Cemeti pukul 20.30. Pameran berlangsung sampai dengan tanggal 16 Januari 2010 dan dibuka untuk umum setiap hari Selasa sampai dengan Sabtu, pukul 09.00 – 17.00. Daftarkan diri Anda melalui website www.wasted.nl atau di tempat acara berlangsung.


Biografi Tomoko Mukaiyama

Tomoko Mukaiyama seringkali dilibatkan oleh berbagai orkestra dan ansambel prestisius, diantaranya adalah Ensemble Modern di Frankfurt, London Sinfonietta, Ensemble Intercontemporain dan Royal Concertgebouw Orchestra. Ia pernah bekerjasama dengan para sutradara film, perancang, arsitek, penari, maupun fotografer, seperti Ian Kerkhof, Marina Abramovic, MERZBOW, Kim Ito dan Jirí Kylián.    


Sepuluh tahun yang lalu Tomoko Mukaiyama mulai berkarya sebagai seorang seniwati visual. Ia menggunakan pengalamannya sebagai pemain piano khusus konser untuk menciptakan  instalasi pertamanya di sebuah gedung konser.  Ia memberikan makna baru pada gedung yang digunakan sebagai lokasi pameran dalam proyeknya ‘Amsterdam x Tokyo’ [2000], ‘for you’ [2002], dan mempelajari ketidakhadiran maupun kehadiran komponis, penonton dan pianis dalam instalasi ‘you and bach’ yang ia buat untuk Sydney Biennale pada tahun 2006. Di tahun 2007 ia menciptakan instalasi fesyen untuknya dan pianonya dalam ‘Show me your second face’. Instalasi musiknya, ‘Mo-Ichido’ (2008,) memasukkan pengalaman wewangian parfum dan bebauan organik. Pada awal tahun 2009 ia meluncurkan cd buku seninya yang baru yang dibuat bersama mendiang suaminya Philip Mechanicus, seorang fotografer. Proyeknya yang terkini, ‘wasted,’ melakukan tur selama satu setengah tahun ke lima lokasi di seluruh dunia.


 

paintings Jogja, Galeri indonesia, wacana seni rupa Jogja, gallery indonesia, FX Harsono Jogjakarta, art Yogyakarta, video art Yogyakarta, sculptures Jogjakarta, Popok Tri Wahyudi Jogjakarta, fotografi indonesia, installation art Jogja, fine art Yogyakarta, seniman asia indonesia, installations Jogjakarta, wacana seni rupa Jogjakarta, cemeti Jogja, art projects Jogjakarta, Asian artists Yogyakarta, Terra Bajraghosa Jogjakarta, emerging artists Jogja, art residency Yogyakarta, new art trends Jogja, lukisan indonesia, pameran indonesia, fine art Jogjakarta, Angki Purbandono indonesia, proyek Jogjakarta, Angki Purbandono Jogja, Melati Suryodarmo Yogyakarta, new art indonesia, exhibition Jogjakarta, art indonesia, paintings Jogjakarta, Asian artists indonesia, rumah seni, Christine Ay Tjoe Jogja, art space Jogja, Mella Jaarsma Jogjakarta, Handiwirman indonesia, Yogyakarta, Nindityo Adipurnomo, Asian art Jogjakarta, art works indonesia, art Jogjakarta, art books Yogyakarta, emerging artists Yogyakarta, art residency indonesia, catalogues Jogja, Eko Prawoto indonesia, patung Jogja, seni kontemporer Jogja, gambar Jogja, patung indonesia, cemeti indonesia, pertukaran Yogyakarta, installation art Jogjakarta, Jogja, Ugo Untoro Jogja, art projects indonesia, katalog Jogjakarta, indonesia, gambar indonesia, Eko Prawoto Jogja, Wimo Ambala Bayang Yogyakarta, Christine Ay Tjoe Jogjakarta, tren baru Jogjakarta, Christine Ay Tjoe Yogyakarta, Eko Nugroho Yogyakarta, proyek indonesia, seni rupa modern Jogja, Krisna Murti indonesia, art space Yogyakarta, lukisan Yogyakarta, seni instalasi indonesia, art house Yogyakarta, seni rupa modern Jogjakarta, Terra Bajraghosa indonesia, Jompet Jogjakarta, Agus Suwage Yogyakarta, visual arts Yogyakarta, Agus Suwage indonesia, fine art indonesia, modern art Jogjakarta, art books Jogjakarta, Muyono indonesia, new art Jogjakarta, seniman muda Jogjakarta, exhibition Jogja, instalasi Jogja, new art trends Yogyakarta, lukisan Jogjakarta, Melati Suryodarmo Jogjakarta, exhibition Yogyakarta, modern art indonesia, Jogjakarta, art exchange Jogjakarta, photography Jogja, indonesian art Jogja, contemporary art indonesia, visual arts Jogja, Terra Bajraghosa Jogja, buku seni Yogyakarta, visual arts indonesia, catalogues Jogjakarta, pertukaran indonesia, Krisna Murti Jogjakarta, Asian art indonesia, Galeri Jogja, Ruang Seni Yogyakarta, S. Teddy D. Jogjakarta, gerakan seniman muda Jogjakarta, seniman muda Yogyakarta, seniman asia Jogja, seni kontemporer Yogyakarta, catalogues indonesia, cemeti Jogja, drawings Jogja, indonesian art indonesia, landing soon indonesia, rumah seni, patung Jogjakarta, video art Jogja, art projects Yogyakarta, Seni Rupa Jogja, Nindityo Adipurnomo, Seni Rupa Yogyakarta, fine arts Jogjakarta, art projects Jogja, Popok Tri Wahyudi indonesia, art books Jogja, Bunga Jeruk Jogja, art works Jogjakarta, Melati Suryodarmo Jogja, seni kontemporer Jogjakarta, seni rupa asia Jogja, seni instalasi Jogja, buku seni indonesia, wacana seni rupa indonesia, Popok Tri Wahyudi Yogyakarta, proyek seni Jogjakarta, landing soon Jogja, wacana seni rupa Yogyakarta, proyek seni Yogyakarta, seni rupa modern indonesia, S. Teddy D. indonesia, art exchange Yogyakarta, instalasi Jogjakarta, Nindityo Adipurnomo, art residency Jogjakarta, proyek Jogja, proyek seni indonesia, fine arts indonesia, Terra Bajraghosa Yogyakarta, Wimo Ambala Bayang indonesia, cemeti indonesia, S. Teddy D. Yogyakarta, patung Yogyakarta, Handiwirman Jogja, Seni Rupa Jogjakarta, modern art Yogyakarta, Ugo Untoro indonesia, instalasi Yogyakarta, catalogues Yogyakarta, tren baru Yogyakarta, Seni Rupa kentemporer indonesia, Bunga Jeruk Jogjakarta, gerakan seniman muda Jogja, Bunga Jeruk indonesia, photography indonesia, FX Harsono, gambar Yogyakarta, art discours Yogyakarta, Mella Jaarsma indonesia, Seni Rupa kentemporer Yogyakarta, Jompet Jogja, installations indonesia, art space indonesia, seni instalasi Yogyakarta, new art Yogyakarta, Anusapati Jogja, FX Harsono Yogyakarta, fotografi Yogyakarta, art house Jogjakarta, fine arts Yogyakarta, rumah seni, indonesian art Jogjakarta, pertukaran Jogjakarta, cemeti Yogyakarta, contemporary art Jogjakarta, Ugo Untoro Yogyakarta, gallery Jogja, proyek Yogyakarta, drawings indonesia, photography Jogjakarta, seni rupa asia indonesia, Anusapati Jogjakarta, project indonesia, Agus Suwage Jogja, seniman muda Jogja, seni rupa asia Jogjakarta, Ugo Untoro Jogjakarta, landing soon Yogyakarta, sculptures indonesia, art exchange Jogja, proyek seni Jogja, Angki Purbandono Yogyakarta, lukisan Jogja, seni rupa modern Yogyakarta, gambar Jogjakarta, Ruang Seni indonesia, Nindityo Adipurnomo, buku seni Jogja, sculptures Yogyakarta, indonesian art Yogyakarta, new art trends indonesia, Handiwirman Jogjakarta, Asian art Yogyakarta, installations Jogja, paintings indonesia, Galeri Jogjakarta, Seni Rupa kentemporer Jogja, modern art Jogja, tren baru indonesia, art books indonesia, art house indonesia, Wimo Ambala Bayang Jogjakarta, pameran Jogja, paintings Yogyakarta, emerging artists Jogjakarta, tren baru Jogja, Ruang Seni Jogjakarta, fotografi Jogja, seniman asia Yogyakarta, pameran Yogyakarta, gerakan seniman muda, Anusapati indonesia, photography Yogyakarta, Asian artists Jogja, Krisna Murti Yogyakarta, Seni Rupa kentemporer Jogjakarta, contemporary art Jogja, fine art Jogja, project Jogjakarta, Yogyakarta, project Jogja, contemporary art Yogyakarta, Wimo Ambala Bayang Jogja, indonesia, Asian artists Jogjakarta, Seni Rupa indonesia, Eko Nugroho Jogjakarta, Galeri Yogyakarta, Jompet indonesia, landing soon Jogjakarta, visual arts Jogjakarta, exhibition indonesia, Handiwirman Yogyakarta, rumah seni, project Yogyakarta, Ruang Seni Jogja, katalog Jogja, video art Jogjakarta, video art indonesia, Agus Suwage Jogjakarta, art works Jogja, art residency Jogja, emerging artists indonesia, Muyono Yogyakarta, gerakan seniman muda Yogyakarta, cemeti Yogyakarta, Mella Jaarsma Yogyakarta, pertukaran Jogja, Anusapati Yogyakarta, Angki Purbandono Jogjakarta, cemeti Jogjakarta, art discourse indonesia, Muyono Jogja, Asian art Jogja, Muyono Jogjakarta, Tita Rubi indonesia, Mella Jaarsma Jogja, installations Yogyakarta, seni kontemporer indonesia, Jompet Yogyakarta, gallery Jogjakarta, drawings Yogyakarta, seni rupa asia Yogyakarta, Eko Nugroho indonesia, art discours Jogjakarta, art exchange indonesia, Tita Rubi Jogja, Bunga Jeruk Yogyakarta, art space Jogjakarta, FX Harsono Jogja, Melati Suryodarmo indonesia, Jogja, new art trends Jogjakarta, katalog Yogyakarta, installation art Yogyakarta, seni instalasi Jogjakarta, art discours Jogja, installation art indonesia, cemeti Jogjakarta, pameran Jogjakarta, indonesia, Eko Prawoto Jogjakarta, drawings Jogjakarta, art Jogja, sculptures Jogja, Tita Rubi Jogjakarta, Popok Tri Wahyudi Jogja, Eko Nugroho Jogja, instalasi indonesia, seniman muda indonesia, Krisna Murti Jogja, Tita Rubi Yogyakarta, Christine Ay Tjoe indonesia, new art Jogja, art works Yogyakarta, katalog indonesia, art house Jogja, fotografi Jogjakarta, seniman asia Jogjakarta, Jogjakarta, gallery Yogyakarta, Eko Prawoto Yogyakarta, S. Teddy D. Jogja, fine arts Jogja, indonesia, buku seni Jogjakarta